Ulasan Buku: Non-Spesifik

Judul : Non-Spesifik
Pengarang : Gratiagusti Chananya Rompas
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2017
Dibaca : 25 Mei 2017
Rating : ★★★★

Apa yang akan kamu lakukan ketika hidupmu sepertinya begitu monoton? Rutinitas yang mengungkung setiap hari membuatmu tak lagi memiliki warna. Apa yang kamu idam-idamkan dahulu dilepaskan satu persatu sehingga yang tersisa hanya hitam dan putih. Tak ada lagi warna-warni. Kamu harus segera menguak cara untuk terlepas dari jerat kejenuhanmu itu. Kamu harus cari terobosan baru agar hidupmu tidak hitam-hitam amat atau putih-putih amat. Janganlah muluk berharap warna pelangi yang dahulu kamu miliki, tapi setidaknya warna oranye atau pink atau biru muda hadir. Dan kamu mulai merasakan warna-warna itu kembali merasuki tubuhmu. Kamu akan merasa bahagia sedikit demi sedikit. Walaupun tidak sama lagi, tapi setidaknya kamu merasa bahagia. Ada saran lebih baik: pergilah ke suatu tempat yang belum pernah kamu kunjungi. Mungkin warna-warni yang lenyap itu akan kamu temukan kembali di sana.

***

Bisa dikatakan, “Kota Ini Kembang Api” adalah kumpulan puisi yang membuatku beruntung. Aku mendapati bahwa sang penyair, Gratiagusti Chananya Rompas atau biasa dipanggil Anya, merasa senang dengan ulasan yang kubuat. Seperti yang dikatakan Anya pada kolom komentar ulasan bukunya, “Saya sangat terharu kamu menangkap banyak hal yang ingin saya (bahkan ilustrator saya) sampaikan lewat ‘Kota Ini Kembang Api’.” Apa yang dikatakannya secara tersurat itu membuatku beruntung sebagai seorang pengulas buku karena (1) hal yang paling membahagiakan bagi seorang pengulas buku adalah ulasannya diketahui oleh pengarang buku dan (2) ulasan yang dibuatnya menguak apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh pengarang buku. Hal bahagia lain setelah menulis ulasan “Kota Ini Kembang Api” adalah menjadi #ResensiPilihan untuk yang kedua kalinya pada tahun lalu.

Di atas, aku coba menginterpretasikan satu puisi yang menjadi favorit dalam “Non-Spesifik”. Judulnya? Tidak ada. Tapi bait pertamanya berbunyi “aku ingin pergi ke tempat yang belum pernah aku” dan bertengger pada halaman 76. Sangat khas Anya. Banyak puisi dibuatnya tak berjudul, seperti sebuah ketakperluan. Dalam puisi tersebut, aku merasakan bahwa rutinitas yang monoton amat begitu mengungkung orang-orang dewasa. Mereka jadi tidak bahagia atau, lebih buruknya lagi, berbohong untuk merasa bahagia. Mereka membutuhkan jalan-jalan, piknik, vakansi, apa pun itu sebutannya. Tapi, Anya sepertinya memberikan saran yang baik: ke tempat yang belum pernah dikunjungi. Bukan tempat-tempat yang setiap bulan atau beberapa bulan dikunjungi atau bahkan sudah dikunjungi. Bukahkah “setiap bulan atau beberapa bulan dikunjungi” juga merupakan rutinitas? Aku setuju dengan Anya tentang eksplorasi. Yuk, piknik!

Kembali aku merasakan aura Anya dalam buku keduanya ini. Amat bisa dicirikan bahwa melalui setiap bait puisi yang Anya tulis, ia memainkan huruf, baris, spasi, hingga tanda baca. Bait-bait yang setiap katanya menyambung tanpa spasi, Anya. Bait-bait yang setiap katanya diselipi tanda titik, Anya. Bait-bait yang menggunakan keseluruhan halaman hanya untuk beberapa baris saja, Anya. Walaupun porsinya lebih sedikit pada buku ini, aku masih bisa mendapatkan sensasi berbeda saat membaca bait-bait puisi Anya. Keunikan ini sepertinya sudah kutulis pada ulasan “Kota Ini Kembang Api”. Tapi, aku ingin menghadirkannya kembali. Seperti menyingkapnya hanya satu kali itu belum cukup.

***

Aku bertemu dengan Anya pada peluncuran “Kota Ini Kembang Api” tahun lalu. Saat itu, aku sempat mengobrol sebentar dengannya dan sang suami, Mikael Johani. Setelahnya, aku meminta nomor telepon dan alamat surel Anya untuk keperluan wawancara yang sudah kutulis di sini. Juga bersua di media sosial seperti Facebook dan Instagram. Walaupun terkesan absurd, media sosial memang ajang saling memberikan kabar. Melalui media sosial Anya, aku mendapatkan informasi tentang buku terbarunya.

“Non-Spesifik” dibagi ke dalam tiga bagian yang kemudian dinamai Episode. Setiap episodenya memang memiliki topik-topik tersendiri, namun bila digabungkan, ketiganya tidak memiliki keterkaitan satu sama lain. Pada Episode Pertama, Anya menggambarkan tentang diri sendiri; sebentuk persona yang bisa jadi siapa saja yang bisa merasakan apa saja. Apa saja di sini berarti tercurah tak tentu. Tak spesifik. Pada Episode Kedua, Anya mencurahkan isi hatinya. Bagai buku harian dengan diksi yang khas, Anya bercerita tentang kesehariannya menjadi seorang ibu, istri, sekaligus wanita. Puisi-puisinya tak membentu satu pola yang mengerucut. Tak spesifik. Pada Episode Ketiga, lebih tak keruan lagi. Pengamatan tentang orang-orang ditumpahkan pada episode ini. Orang yang sedang liburan, orang yang sedang di restoran cepat saji, orang yang keluar tempat parkir. Keseharian apa saja yang sepertinya biasa saja ditumpahkan secara puitis di bagian ini. Tak spesifik.

 

halaman 137

Entah ide menggaet ilustrator dalam buku-bukunya itu dari Anya sendiri atau dari yang lain, tapi kolaborasi puisi-puisi Anya dengan ilustrasi-ilustrasi yang disajikan selalu pas dan seiring sejalan. Kalau “Kota Ini Kembang Api” menampilkan ilustrasi berwarna yang halus dan penuh harapan, “Non-Spesifik” seperti berkebalikan. Nuansa hitam begitu kental. Ilustrasinya pun lebih abstrak dan semrawut malah cenderung hanya corat-coret tak jelas yang dibuat oleh balita. Siluet-siluet yang dihadirkan memberikan gambaran bahwa hidup sepertinya tidak selalu berjalan mulus. Melalui puisi-puisinya, Anya juga menyampaikan hal yang sama. Berbohong dalam kebahagiaan. Hidup yang tak sesuai keinginan. Serta masalah-masalah orang-orang dewasa lain yang pelik dan tak terbantahkan. Sayangnya, ilustrasi pada buku ini cenderung sedikit.

Aku mengantisipasi apakah ulasan “Non-Spesifik” ini juga menangkap apa yang Anya maksudkan, seperti yang ia katakan pada ulasan “Kota Ini Kembang Api”. Tapi, setidaknya aku telah membeberkan apa yang kurasakan ketika membaca karya terbarunya Anya ini. Puisi-puisi yang seolah-olah meminjamkan cermin pendewasaan kepada para pembacanya dan mengatakan bahwa menjadi dewasa ternyata memang rumit, pelik, dan tak spesifik. Apa saja bisa terjadi. Puisi-puisi dalam “Non-Spesifik” adalah petuah pahit bagi orang-orang dewasa yang harus diteguk untuk tidak jatuh sakit dan di kemudian hari tidak merasa terlilit.

 

MIMPI-MIMPI TERSIMPAN DI DALAM GULUNGAN KAOS KAKI
rapi tersusun berdasarkan warna
di laci urutan pertama
kini saatnya menyapu remah-remah roti
dari bawah meja

Tentang Impian dan Kenyataan dalam A Place You Belong

Judul : A Place You Belong
Pengarang : Nicco Machi
Penerbit: Jendela O’Publishing House

Tahun : 2016
Dibaca : 14 Mei 2017
Rating : ★★★★

Sebenarnya, walaupun suka membaca, aku asing dengan perpustakaan. Aku jarang mengunjungi perpustakaan. Dan ini mengingatkanku dengan perpustakaan Sekolah Dasar-ku di desa. Kondisi perpustakaan SD-ku dahulu bisa dibilang tidak layak. Boro-boro memiliki koleksi yang memadai, tempatnya saja menggunakan rumah bekas tempat tinggal penjaga sekolah. Berada di pojok belakang area sekolah, yang datang ke sana paling-paling siswa yang tidak punya uang jajan untuk dibelanjakan. Jangan tanya berapa banyak buku yang ada di sana, rak bukunya saja hanya ada dua buah yang bahkan tidak terisi penuh. Buku-bukunya kucel, berdebu, dan tidak menarik. Aku ingat sempat datang ke sana dan meminjam buku. Buku yang masih kuingat adalah cerita rakyat dari Indonesia. Entah ada angin apa aku meminjamnya padahal aku tidak begitu suka dengan cerita rakyat. Mungkin aku lupa membawa uang jajan atau barangkali sedang iseng saja.

***


Akhyar mengakhiri dongeng fabelnya. Cerita tentang belalang yang pemalas dan para semut yang amat giat bekerja memberikan penghiburan tersendiri bagi anak-anak di TK An-Nuur tempat Akhyar mendongeng kali ini. Sudah beberapa tahun sejak lulus kuliah dan ia masih setia dengan pekerjaannya yang merupakan passion-nya sejak lama: menjadi pendongeng. Ia bernaung di bawah Satriacarita, sebuah organisasi yang memberikan pelatihan-pelatihan mendongeng bagi yang berminat dan menyalurkan para pendongeng ke sekolah dan institusi yang membutuhkan jasa mendongeng. Penghasilan Satriacarita didapat dari sponsor, hasil kerja sama dengan pihak-pihak tertentu, CSR perusahaan, hingga donasi pribadi dari orang yang peduli. Setidaknya, Akhyar tahu apa passion-nya. Dan yang terpenting, ia menyenangi pekerjaannya itu.

Masih di dalam kelas, Akhyar terkejut ketika melihat Helia berdiri di depan pintu kelas. Akhyar buru-buru keluar dan bertanya kabar dengan teman sekelas di jurusannya itu. Helia makin cantik dan sepertinya sudah sukses. Tapi, kenapa cewek itu ada di sini di Semarang? Bukannya ia bekerja di Jakarta sebagai pustakawan? Apa yang membuatnya kembali ke kota tempatnya menuntut ilmu? Dan, kenapa ia tahu Akhyar sedang mendongeng di TK biasa-biasa saja seperti ini? Ada secercah harap yang merambati Akhyar untuk menyelesaikan apa yang tidak terselesaikan dahulu. Apakah ini takdirnya? Takdir mereka berdua?

***


Sejak pertama mengetahui buku ini diterbitkan, aku merasa harus membacanya. Aku punya keyakinan bahwa buku ini memiliki sesuatu. Entah apa, tapi sesuatu. Satu hal yang kutahu tentang buku ini adalah tema perpustakaan yang diangkat oleh penulis yang juga seorang lulusan ilmu perpustakaan. Aku mendapati buku ini ternyata novel romance. Penasaran dengan kisah apa yang bisa diceritakan dengan tema perpustakaan, aku bakal merasa bosan jika premisnya adalah kisah pemustaka dan pustakawan yang sering bertemu di perpustakaan. Untungnya tidak. Benar bahwa tokoh utamanya seorang pustakawan, tapi ia tidak menyukai pemustaka. Bahkan latar ceritanya tidak di perpustakaan. Aku langsung tertarik. Mengingat bukunya tidak tebal-tebal amat, aku bisa menyelesaikannya kurang dari dua jam. Dan ternyata, kisahnya lebih dari sekadar kisah dua sejoli yang berkutat dengan perpustakaan.

Persepsi menjadi lulusan ilmu perpustakaan. Undang-undang tentang perpustakaan. Mendongeng sebagai bagian dari aktivitas kepustakaan. Hal-hal itu dan masih ada beberapa hal lain tentang ilmu perpustakaan dan aplikasinya dijabarkan pada dalam buku ini. Sungguh memberikan wawasan. Namun, sayangnya, penyisipannya masih kentara dengan paragraf-paragraf deskriptif dan panjang pada dialog sehingga membuat pembaca seakan-akan dijelaskan dengan rincian-rincian khas buku teks. Bagusnya untukku, aku tidak mempermasalahkannya. Toh aku juga ingin tahu tentang ilmu perpustakaan semacam itu. Dan, bagusnya lagi paragraf-deskriptif-bagai-buku-teks ini adalah satu-satunya poin yang harus diperhatikan dari buku ini.

Edied by Me


Sejak awal baca, aku suka dengan alur maju-mundur yang dihadirkan oleh penulis pada buku ini. Menurutku, kelebihan dari alur seperti ini adalah membuat ceritanya terlihat lebih jelas dengan hubungan sebab-akibat yang diberikan oleh alur itu sendiri. Pemilihan sudut pandang orang ketiga pelaku utama yang disandang Helia juga membuat kisahnya dramatis namun tidak bertele-tele. Poin-poin ini bagai mencerminkan penulis sudah tahu teknik menulis yang bisa bikin pembaca menyukai ceritanya.

Impian yang Menabrak Kenyataan

Sudah dipastikan bahwa buku ini juga menyiratkan bagaimana passion yang berhubungan dengan idealitas seseorang harus berkompromi dengan realitas yang ada. Di dalam cerita, percakapan Helia dengan pakdenya sesaat setelah Ujian Nasional SMA dilaksanakan menggulirkannya. Helia ingin masuk jurusan ilmu perpustakaan. Helia ingin menjadi pustakawan. Helia bahkan memiliki impian mulia dengan pekerjaannya itu: membuat orang lain lebih sering baca buku. Pakde Yono yang awalnya mencibir pilihan Helia jadi melunak karena Helia bisa meyakinkannya. Semua masih berjalan sesuai apa yang Helia harapkan hingga ia melihat kenyataan di lapangan yang terjadi, yaitu saat KKN. Perpustakaan yang sepi dan tidak menarik. Pustakawan yang tidak memiliki jiwa mulia sepertinya dan bahkan bisa bermain dengan anggaran yang diberikan kepada mereka. Semuanya semakin kabur ketika Helia bekerja di Jakarta. Impian mulia Helia terlihat amat sulit untuk diwujudkan. Hal ini jugalah yang mungkin jadi jawaban pertanyaan Akhyar di atas.

Oke. Mungkin realitas di dalam buku fiksi akan tetap menjadi fiksi. Tapi, aku yakin bahwa penulis sudah melakukan dan melihat banyak hal tentang seluk-beluk passion pustakawan semacam itu dan membuatnya terlihat lebih nyata dan mudah diterima di hadapan pembaca. Dan, aku pun bisa mengangguk setuju apabila masalah-masalah semacam itu benar terjadi di kehidupan nyata para pustakawan. Bagi yang idealismenya tinggi sudah barang tentu hal-hal semacam menilep uang yang bukan miliknya tidak akan menggentarkan hatinya. Namun, bagaimana jika mereka dihadapkan pada kenyataan lain: mereka butuh uang lebih karena gaji sebagai pustakawan tidak seperti gaji akuntan atau pengacara? Bagaimana jika mereka ingin membantu orang yang mereka cintai dengan cara yang paling bisa mereka lakukan seperti Helia yang ingin membantu pacarnya, Ervan, untuk keluar dari jeratan utang? Hal-hal ini sungguh masuk akal.

Aku bisa berempati dengan Helia. Di dalam buku ini, Akhyar bilang bahwa ada banyak cara mengabdi di bidang Ilmu Perpustakaan tanpa harus menjadi pustakawan. Dan hal ini membuatku ingat tentang perkataan temanku bahwa untuk menjalani apa yang diimpikan tidak selalu melalui jalan yang tepat. Biar aku mengutip kata-katanya: “Mimpi itu… Passion itu… Nggak harus tercapai, tapi harus tetap ada supaya kita hidup. Mimpi dan passion itu bisa jadi tujuan hidup, tapi tujuan nggak harus tercapai. Asal ada, kita akan jalan maju. Asal hidup ada arahnya. Asal hidup ada bahan bakarnya. Itu gunanya mimpi. Itu perannya passion.” Mungkin hal itulah yang harus diterapkan oleh setiap orang seperti Helia. Setiap orang yang memiliki passion dan idealisme namun terbentur dengan kenyataan yang ada. Aku pun berkali-kali baca perkataan temanku itu dan berkali-kali mataku berkaca-kaca karena itu begitu tepat. Tidak ada kata lain. Terima kasih, Rifda.

Bacalah buku ini dan kamu akan berpikir dan mungkin merenung tentang passion dan hadirnya realitas yang kadang sejalan namun seringkali tidak. Dan satu hal yang pasti: tentukan dahulu apa passion-mu karena itu yang akan membuatmu hidup! Setelahnya, kamu akan tahu di mana tempatmu seharusnya berada. Untuk ukuran debut, buku ini bagus sekali!

“Mana ada sih perjuangan yang gampang? Tapi berjuang di bidang yang kita senangi lebih enak, kan?” (hal. 58)


Ulasan ini diikutsertakan dalam “Read and Review Challenge 2017” kategori Debut Authors.

Pengalaman Pertama Baca Metropop Bersama Black.

Judul : Black.
Pengarang : Ruth Priscilia Angelina
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tahun : 2017
Dibaca : 11 Mei 2017
Rating : ★★★

Kemarin lusa, salah satu editor Gramedia Pustaka Utama menghubungiku untuk menawarkan buku untuk diulas. Mengetahui dua novel yang disebutkannya berlabel Metropop, aku hampir urung diri mengambil tawarannya. Tapi, setelah diingat-ingat, aku belum pernah sekali pun coba membaca setidaknya satu paragraf novel Metropop. Tidak ada salahnya mencoba sesuatu yang baru, yang belum pernah dikecap sebelumnya. Walaupun ada rasa was-was karena akan kecewa atas waktu yang digunakan untuk membaca, aku juga mengantisipasi bila aku menyukainya. Aku akan membuka sebuah pintu untuk menikmati novel-novel Metropop lain yang selama ini selalu kututup. Kepada sang editor, aku bertanya berapa jumlah halaman kedua novel itu dan kapan aku harus sudah mengulasnya. Setelah merasa mampu untuk melakukannya, aku setuju dengan tawarannya. Salah satu novelnya adalah yang sedang kuulas kali ini.

Aku bukan tidak suka pada novel-novel dengan logo Metropop. Aku hanya menghindar. Tidak ada keinginan sama sekali untuk menyentuhnya walaupun beberapa di antara judul-judulnya begitu memikat dan blurb yang dihadirkan membuatku tertarik untuk membacanya. Sejauh pemahamanku, novel berlabel Metropop memiliki ciri-ciri kehidupan perkotaan yang khayali dengan tokoh-tokoh yang sempurna. Pria superganteng dan superkaya. Wanita cantik nan hobi belanja dan jalan-jalan di pusat perbelanjaan. Alur ceritanya paling-paling tentang ganjalan pernikahan atau kawin kontrak dengan bumbu drama ala sinetron. Geez, aku begitu skeptis dan berpikir kalau novel-novel semacam itu tidak layak kubaca. Sialnya, aku menelan ludahku sendiri. Ternyata, menyenangkan juga baca novel Metropop. Hahaha.

***


Inka punya hubungan yang tidak bagus dengan kedua orangtuanya. Terutama, ibunya. Setelah berselingkuh dengan pria lain dan membuat keluarganya kacau-balau, ibunya berencana untuk menikah dengan pria lain. Hal yang paling disesali Inka adalah menutupi keburukan ibunya itu sehingga keluarganya tidak bisa diselamatkan lagi. Ayahnya yang menerima dengan lapang dada perselingkuhan ibunya membuat Inka harus bisa mengendalikan diri. Sejak masalah itu, Inka lebih membela dan menginginkan untuk selalu bersama sang ayah ketimbang sang ibu. Namun, beberapa hari belakangan ini, ayahnya tidak bisa dikontak. Telepon tidak diangkat dan sms tidak dibalas. Padahal, ayahnya sudah berjanji mengantar Inka ke bandara hari ini. Inka akan terbang ke London dan menuntut ilmu S2 Creative Writing-nya di Cambridge University.

Muka Sigi merah padam setelah melihat Inka tiba pada detik-detik terakhir keberangkatan mereka setelah tiga kali nama mereka dipanggil melalui pengeras suara di ruang tunggu bandara. Pria yang bisa dibilang teman semasa hidup Inka itu juga akan kuliah di London. Bedanya, Sigi mendapatkan beasiswa sementara Inka harus membiayai kuliahnya sendiri. Inka tahu semua akan tidak mudah, hidup di London itu. Biaya hidup yang lumayan tinggi membuatnya harus ambil kerja sambilan sembari kuliah. Keinginan Inka sebenarnya hanya satu: tinggal di sana. Ia tak mau kembali ke Indonesia. Ia ingin pergi jauh-jauh dari masa lalunya yang kelam. Tak dinyana, di London, ia bertemu dengan Chesta, pria masa lalunya yang begitu ia inginkan namun harus ia lepaskan karena semuanya adalah guyonan masa kecil. Apakah bertemu kembali dengan Chesta sebuah pertanda baik atau malah mempergelap hitam hidupnya?

***


Boots. Newsboy cap. Flight jacket. Dua dari tiga barang tersebut harus kucari tahu lebih dahulu di internet untuk bisa membayangkan apa yang dikenakan oleh para tokohnya. Pada awalnya, dahiku keseringan berkerut karena banyak detail-detail barang dari jenis sampai merek yang disebut. Semakin ke tengah, semakin banyak lagi yang disebutkan dan aku kelelahan mengerutkan dahi dan mulai berkompromi dengan detail-detail seperti ini. Membuatku ingat pada novel chicklit yang pernah kubaca beberapa paragraf (kalau ini lebih parah lagi, satu paragaf bisa menyebutkan minimal satu merek brand ternama). Inilah yang paling pertama kurasakan ketika membaca buku ini. Apakah memang ini sudah merupakan ciri khas novel Metropop? Bila iya, aku akan membiasakan diri untuk novel-novel Metropop selanjutnya. Sebenarnya bukan masalah besar, tapi aku memang tidak terlalu suka dengan hal yang sudah pasti. Imajinasi kala membayangkan barang-barang itu terkungkung pada jenis atau merek brand-nya.

Edited by Me


Aku bilang di atas bahwa baca novel Metropop itu menyenangkan. Menyenangkan karena aku diajak membayangkan hal-hal khayali yang sepertinya akan kubutuhkan bila merasa hidup ini terlalu monoton. Melalui Chesta, aku akhirnya bisa membayangkan bagaimana rasanya tampan sehingga dimudahkan dalam memikat hati wanita. Aku bisa membayangkan tiba-tiba meminta teman masa kecilku untuk menikah walaupun dengan persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi. Aku bisa membayangkan membelikan seorang wanita mobil sedan Mazda berwarna hitam bahkan rumah di kawasan Westminster yang elite. Aku juga bisa membayangkan menjadi promotor konser-konser artis internasional seperti Ed Sheeran dan One Direction. Aku bahkan bisa membayangkan bagaimana melihat artis-artis itu di backstage. Menyenangkan sekali bisa membayangkan hal-hal semacam itu. Sensasinya bagai candu. Aku harus mencobanya lagi. Sungguh. Aku tidak sedang bersikap skeptis. Aku serius.


Untungnya lagi, buku ini tidak hanya sekadar menceritakan perihal utopis saja. Melalui Inka dan Chesta, penulis sepertinya memberikan gambaran bahwa kehidupan yang sebenarnya terlihat baik-baik saja di luar tidak baik-baik saja di dalam. Inka dan Chesta memiliki masa lalunya masing-masing. Dan bisa dibilang kelam. Mungkin itulah kenapa buku ini berjudul hitam, semua adalah tentang bagaimana Inka dan Chesta keluar dari segala kekelaman hidup mereka di masa lalu karena toh hidup memang harus terus berlanjut. Penulis juga memberikan gambaran bahwa cinta bukan tentang bagaimana tujuan di masa depan tercapai, tetapi bagaimana merasakan cinta itu sendiri. Kamu bisa kecewa dengan keadaan yang terjadi di akhir tetapi tidak dengan apa yang ada di dalam hatimu.

Di balik hal menyenangkan di atas, ada beberapa hal mengganjal yang dihadirkan pada buku ini. Aku suka dengan alur cepat pada buku. Tapi buku ini memberikan alur supercepat bahkan terkesan berloncat-loncatan. Bila dibandingkan dengan Barry Allen yang larinya mencapai 18 meter per sekon, alur pada buku ini tentu dapat mengalahkannya. Aku menunggu-nunggu momen ketika Inka dan Chesta bermalam di rumah orangtua Chesta di Cornwall. Aku juga menunggu-nunggu momen ketika Inka dan Chesta ikut liburan ke Bristol bersama Ella dan Owen. Kalaupun masalahnya tentang jumlah halaman yang akan bertambah panjang, kedua adegan itu bisa sama sekali ditiadakan. Alur yang berlari-larian ini juga mengaburkan pendalaman deskripsi latar London-nya. Aku masih belum merasa “London” pada buku ini.

Secara keseluruhan, untuk jenis fiksi yang baru pertama kali kucicip, buku ini berhasil membuatku masuk jurang ke-Metropop-an yang penuh hal-hal khayali yang bikin aku ingin menyicipinya lagi. Isi bukunya juga ternyata tidak seperti yang kubayangkan sebelumnya: mengangkat tema yang lumayan berat. Dan aku suka kekhasan yang ada pada buku ini: Inka yang selalu mengenakan pakaian gelap cenderung hitam, Inka dan Chesta yang suka Harry Potter. Melalui Sigi, buku ini juga menjelaskan bahwa seseorang yang bikin “nyaman” saja belum cukup untuk menjadi kunci keberhasilan sepasang kekasih. Dan mengingat ini adalah karya penulis yang kubaca pertama kali, aku akan coba dengan bukunya yang lain. Bocoran: bukunya yang versi cetak ulang ini dan diterbitkan berbarengan dengan “Black.”. Dan, aku masih belum mengerti apa maksud tanda baca titik pada akhir judul buku ini.

Terakhir, adakah rekomendasi novel berlabel Metropop lain darimu yang perlu kubaca?

“Orang senang menyembunyikan kenyataan untuk keindahan sementara, tanpa sadar itu hanya persoalan waktu. Pada akhirnya realitas akan menghantam dan rasanya akan ribuan lebih sakit karena kau sudah mencicipi kebahagiaan sebelumnya.” (hal. 158)

Ulasan ini diikutsertakan dalam “Read and Review Challenge 2017” kategori Contemporary Romance.

Karya-karya Paul Arden yang Mengalihkan Duniaku

Edited by Me
Bagi sebagian pembaca, pengetahuan tentang pengarang memengaruhi seberapa antusias mereka untuk membaca karyanya. Aku pernah begitu. Saat di toko buku, aku tidak melepaskan gadgetku yang terkoneksi internet untuk mencari tahu siapa pengarang dari setiap buku yang kupegang, walaupun tidak kubeli sekalipun. Tapi, biar kuberi informasi: aku mudah bosan. Aku tidak akan tahan dengan satu genre bacaan dalam durasi waktu tertentu kecuali bacaan tersebut adalah serial atau memang membuatku ketagihan. Seperti selama bulan Mei ini, aku membaca dari fiksi anak-anak, novel sastra, puisi, sampai nonfiksi. Itu menandakan aku suka mengeksplorasi jenis bacaanku. Bagaimana bisa bereksplorasi kalau harus mengetahui pengarang buku yang akan dibaca? Bagai sebuah kontradiksi. Aku sudah tidak pernah lagi mengecek si pengarang buku untuk buku yang akan kubaca karena melakukannya bagai membeberkan kejutan yang menyenangkan.

Siapa Paul Arden? Aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu sebulan yang lalu. Aku bahkan akan berbalik tanya atau mungkin akan acuh tak acuh. Siapa peduli tentang Paul Arden? Hingga salah satu karyanya berada di halaman Beranda Goodreads paling atas karena seorang teman sedang membacanya. Aku penasaran. Semesta bagai mengalihkan perhatianku pada buku itu. Dan tepat pada detik ini, aku sudah membaca dua buku karyanya. Bagaimana bisa seseorang yang tidak kukenal memberikan dampak yang tidak sedikit untukku? Dua karyanya telah mengambil beberapa jam waktuku. Dua karyanya yang begitu khas juga telah memberiku pandangan baru tentang melihat hal-hal kecil yang dimiliki oleh diriku sendiri. Bagai orang asing yang masuk ke dalam rumah tanpa mengetuk pintu, Paul Arden memberikan bekas yang signifikan pada pemikiranku. Sudah saatnya aku mencari tahu siapa itu Paul Arden.

Aku terperengah saat mengetahui Paul Arden sudah berpulang lebih dari lima tahun yang lalu. Bahkan ia lahir beberapa tahun sebelum nenekku lahir. Lalu, aku teringat kutipan terkenal dari Pramoedya Ananta Toer. Ia mengatakan, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Aku percaya hal itu terjadi pada siapa saja yang menulis. Juga pada Paul Arden dengan karya-karyanya. Dua karyanya yang kubaca adalah “It’s Not How Good You Are, It’s How Good You Want To Be” dan “Whatever You Think, Think the Opposite”. Dan mendapatkan keduanya memiliki kisahnya masing-masing. Aku mengulasnya dalam satu pos ulasan namun aku harus tetap membagi dengan porsinya dan perihal-pandangan-baru-yang-kusebutkan-di-atas secara sendiri-sendiri. Mari mulai dengan karya Paul Arden yang pertama kubaca.


Judul : It’s Not How Good You Are, It’s How Good You Want To Be
Pengarang : Paul Arden
Penerbit: Phaidon Press

Tahun : 2007
Dibaca : 7 Mei 2017
Rating : ★★★


“The most popular conception of creativity is that it’s something to do with arts. Nonsense. Creativity is imagination, and imagination is for everyone.” (hal. 121)

Aku bungah ketika menemukan buku ini pada salah satu tumpukan buku nonfiksi di acara bazar buku Big Bad Wolf beberapa waktu lalu. Salah satu alasanku untuk datang ke acara tersebut adalah untuk mencari buku ini. Coba bayangkan! Aku yang begitu fiksi ini berniat menuju suatu lokasi untuk mencari sesuatu yang tidak fiksi! Semenjak membaca buku-buku Austin Kleon, aku jadi tertarik dengan buku-buku sejenis. Dan aku mengira-ngira karya-karya Paul Arden sebelas-dua belas dengan karya-karya Austin Kleon. Setelah mendapatkan buku ini, aku langsung membacanya saat perjalanan pulang. Berbahasa Inggris, aku khawatir tidak akan mendapatkan inti sari buku ini. Tapi, peduli amat dengan inti sari? Seperti yang Austin Kleon katakan, kamu bisa mengambil hal-hal yang kamu perlukan dari sebuah buku dan membuang hal-hal yang menurutmu tidak perlu. Jadi, aku juga menerapkannya pada buku ini.

Tata letaknya begitu khas. Kamu tidak akan melihat keteraturan pada buku ini, namun pola. Sebisa mungkin Paul Arden memberikan gambar ilustrasi atas apa yang dijabarkan pada buku ini yang kurasa penting. Esensi yang sebenarnya dibicarakan oleh sang pengarang disimbolkan melalui gambar ilustrasi. Pewarnaannya juga khas. Putih, hitam, dan merah menjadi warna dominan pada buku ini. Sebenarnya, dari sampul bukunya dengan judul yang panjang namun terlihat simpel tanpa gambar dan warna-warna mencolok saja sudah memberikan ciri khas tersendiri. Lalu, pandangan baru apa yang kudapatkan dari buku ini?

Bagai seorang penyelamat, buku-buku motivasi selalu memberikan optimisme tingkat tinggi dengan kata-kata penyemangat dan begitu banyak adjektiva sebagai tujuan utama. Sungguh mulai memang, tapi mereka sama sekali tidak membantu. Salah satu alasan yang dikemukakan Indiatimes.com dan aku setuju dengannya adalah bahwa buku-buku semacam itu tidak akan mengubah satu kehidupan pun. Namun, berbeda dengan buku ini. Buku ini tidak menggembar-gemborkan semangat. Buku ini lebih banyak berisi pertanyaan dan hal-hal yang (kelihatannya) tidak memotivasi. Salah satu pertanyaannya adalah: “Seberapa bagus apa yang kau inginkan?” Salah satu hal yang (kelihatannya) tidak memotivasi adalah tentang kesalahan yang harus kamu emban sendiri. Dua hal itu juga yang memberiku satu kesimpulan bahwa untuk menjadi apa yang kamu inginkan, kamu tidak perlu membuat sesuatu yang cemerlang. Kamu harus melihat potensi yang kamu miliki di dalam dirimu. Buatlah kesalahan-kesalahan dan bertanggungjawablah atas kesalahan yang kamu buat.

Secara garis besar, buku ini memberikan pecutan untuk kamu bertindak dari apa yang kamu bisa; potensi yang kamu punya. Buatlah kreativitas dengan potensi itu. Dan dari potensi itu, kamu bisa menakar seberapa besar impian yang ingin kamu capai.

Judul : Apa pun yang Anda Pikirkan, Berpikirlah Sebaliknya
Judul Asli : Whatever You Think, Think the Opposite
Pengarang : Paul Arden
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tahun : 2015
Dibaca : 11 Mei 2017
Rating : ★★★

“Masalahnya bukan karena Anda membuat keputusan keliru melainkan Anda membuat keputusan yang benar. Kita mencoba membuat keputusan-keputusan masuk akal berdasarkan fakta-fakta yang ada di hadapan kita. Masalahnya, semua orang juga membuat keputusan masuk akal.” (hal. 23)

Setelah menyelesaikan satu karyanya, aku berkeinginan untuk membaca karya Paul Arden yang lain. Aku sedang berada di salah satu pusat perbelanjaan di BSD dan berkunjung ke sebuah toko buku langganan yang ada di dalamnya. Tujuanku ke sana adalah bertemu dengan teman komunitas dan tidak berharap membeli buku hingga buku ini muncul secara tiba-tiba di hadapanku. Hanya tersisa dua kopi tidak bersegel dan aku mengambil yang menurutku paling lumayan. Aku kembali bungah setelah melihat harganya yang setelah kucek lebih lanjut hanya setengah dari harga aslinya. Aku langsung membawa ke kasir dan membacanya sembari menunggu temanku tiba. Aku bertanya-tanya bagaimana kalau aku tidak ada rencana untuk bertemu temanku itu. Bagaimana kalau aku tidak betemu di pusat perbelanjaan itu dan aku tidak berkunjung ke toko buku langgananku itu. Ah, semesta memang sukar diprediksi.

Sama seperti “It’s Not How Good You Are, It’s How Good You Want To Be”, buku ini memiliki ciri-ciri yang hampir sama. Bedanya, tentu saja pada konten di dalamnya. Buku yang kudapatkan ini adalah versi terjemahan bahasa Indonesia yang diterbitkan pada 2015 dan aku baru tahu kalau karya Paul Arden diterjemahkan. Bahasanya terkesan sedikit aneh namun masih bisa dinikmati, mungkin karena aku membaca pertama kali yang berbahasa Inggris. Tidak butuh waktu lama untuk melahap buku ini karena gambar ilustrasinya lebih dominan.

BBisa dikatakan, buku ini sangat berhubungan denganku yang begitu susah mengontrol diri untuk melakukan hal-hal yang dianggap kurang benar bagi orang lain. Buku ini dimulai dengan kisah Dick Fosbury, seorang atlet loncat tinggi yang melakukan hal aneh dan berbeda namun meraih hasil yang memuaskan. Berbeda dengan atlet loncat tinggi lainnya pada kala itu, Fosbury melakukan teknik dengan meloncat dengan menghadap ke belakang. Melalui kisah Fosbory ini, Paul Arden memberikan gambaran bahwa melakukan hal berkebalikan akan menghasilkan sesuatu yang tak diduga-duga. Terlihat ekstrem memang. Tapi patut dijajal pada hal-hal yang kecil untuk melihat dampaknya terlebih dulu. Selain tentang berlaku kebalikan, buku ini juga menjabarkan tentang selalu menjadi tidak tahu dan bertindak sembrono. Pada salah satu bahasannya, pembaca diajak untuk hidup dalam ketidaktahuan daripada dengan ilmu pengetahuan. Ketidaktahuan memberikan banyak jalan kepada kita untuk menemukan pemecahan masalah secara bergairah. Sebaliknya, dengan ilmu pengetahuan, seseorang akan menghindar dari masalah karena mereka sudah tahu slahnya.

Buku ini memberikan pandangan yang tidak pernah dipikirkan orang kebanyakan: untuk bertindak kebalikan. Dengannya, kamu bisa saja menemukan sesuatu yang akan membuat hidupmu berarti. Dan, tentu saja, ini soal pilihan.

“Dunia ini adalah dunia menurut yang Anda pikirkan. Oleh karena itu, pikirkanlah secara berbeda dan hidup Anda akan berubah.” (hal. 138)

Ulasan ini diikutsertakan dalam “Read and Review Challenge 2017” kategori Self-Improvement & Self-Help.

Ulasan Buku: Carisa dan Kiana

Judul : Carisa dan Kiana
Pengarang : Nisa Rahmah
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tahun : 2017
Dibaca : 26 April 2017 (via SCOOP)
Rating : ★★★★

Harap-harap cemas. Begitulah yang dirasakan saat membaca buku debut. Meluangkan waktu untuk coba menikmati kisah dari penulis yang sama sekali belum tahu keabsahan tulisannya memang tantangan tersendiri. Kamu harus mengorbankan waktu bersama buku-buku karya penulis favoritmu demi mengetahui apakah karya pertama penulis itu masuk dalam radar kesukaanmu atau tidak. Perasaan harap-harap cemas itu semakin menjadi jika mengetahui bahwa penulis buku debut itu adalah temanmu. Tentu ada rasa tidak enak jika kamu mengetahui bahwa buku itu tidak kamu sukai. Bilang jujur, salah. Bilang tidak jujur, juga salah. Aku rasa perasaan harap-harap cemas juga melingkupi penerbit. Mereka benar-benar seperti melempar sebuah dadu dengan karya-karya debut. Seperti bermain judi, penerbit juga harus mengantisipasi kalau-kalau buku debut penulis itu tidak terlalu diminati pasar karena toh pada akhirnya penerbit juga melihat sisi bisnis dari buku yang diterbitkannya. Tapi, aku rasa tidak perlu khawatir dengan buku yang satu ini.

***


Carisa amat bisa bersosialisasi. Sejak kelas X SMA, ia sudah ikut berbagai macam organisasi di sekolahnya. Salah satunya OSIS. Melalui OSIS jugalah ia dekat dengan Rama. Dan menjadi semakin dekat setelah Rama mencalonkan diri dalam pemilihan ketua OSIS. Carisa bahkan menjadi pentolan tim sukses yang memiliki gagasan-gagasan cerdik dalam upaya memenangkan Rama. Berbeda dengan Carisa, Kiana lebih pandai dalam bidang akademis. Kiana adalah ketua ekstrakurikuler Karya Ilmiah Remaja (KIR). Ia juga jagoan sains di SMA-nya. Sebenarnya, Kiana tidak peduli dengan pemilihan ketua OSIS. Hanya saja, teman dekatnya, Stella, adalah pacar Rico. Rico merupakan satu-satunya kandidat dalam pemilihan ketua OSIS yang berhadapan dengan Rama. Hal itu membuat Kiana harus berurusan dengan Carisa. Namun, ternyata, urusan mereka berdua tidak hanya sebatas masalah pemilihan ketua OSIS. Urusan Carisa dan Kiana lebih dari itu.

***


Aku harus katakan bahwa menghabiskan semalaman dengan buku ini adalah hal yang menyenangkan. Sama sekali tidak ada ekspektasi apa pun selain penulis adalah teman dunia maya dan satu komunitas. Harap-harap cemas kala mencoba novel debut memang ada namun setelah membaca lebih banyak ternyata aku bisa menikmati kisah Carisa dan Kiana. Mungkin kamu merasa skeptis, “Wah, pasti gara-gara penulisnya teman kamu, jadi kamu memuji-muji bukunya!” Yah, siapa peduli? Aku memiliki alasan kuat untuk membuat buku ini patut dipuji, pada akhirnya. Dengan ketebalan hanya 200 halaman lebih sedikit, membacanya hanya dalam sekali duduk plus tiduran di malam hari adalah mudah. Sebagai novel teenlit, gaya bahasanya tetap ringan dan amat remaja. Karakteristik anak SMA yang egois namun lugu dan merasa dirinya paling benar juga terlihat dan membuat kisah di dalam buku ini menjadi hidup dan lebih dari biasa-biasa saja. Dari segi isi, aku katakan bahwa untuk ukuran debut, buku ini menjanjikan. Dan aku berkeinginan membaca karya-karyanya selanjutnya.

Salah satu yang kusuka dari buku ini adalah bagaimana penulis bisa memisahkan sudut pandang antartokohnya, mengingat sudut pandang orang ketiga itu amat sulit bila dibagi per tokoh. Buku ini disampaikan oleh narator yang paling tahu karakter Carisa dan juga Kiana. Keduanya bergantian menceritakan bagian mereka. Kupikir, pembagian cerita di antara keduanya itu penting karena mereka sama-sama krusial dalam penjelasan kisah masing-masing dan bagaimana mereka berdua dipertemukan dengan takdir yang melilit mereka. Dengan sudut pandang orang ketiga, penulis punya keleluasaan untuk tidak hanya bercerita tentang tokoh dan perasaannya saja, tetapi juga unsur-unsur ekstrinsik cerita. Dan kesemuanya itu bisa penulis batasi dengan cermat. Selama membaca, aku selalu bisa melihat corak narasi dari masing-masing tokoh, seperti Carisa yang terlihat acuh dan Kiana yang memakai bahasa yang jarang digunakan di kehidupan sehari-hari. Cobalah baca dan kamu akan paham apa yang kumaksud.

Edited by Me


Aku juga menyukai betapa kisah Carisa dan Kiana amat realistis terlepas dari segala macam hal-hal mengejutkan di dalamnya. Aku tidak akan bilang plot twist-nya sungguh dapat dan mungkin akan memengaruhi penilaianku akan buku ini jika saja plot twist itu tidak ada. Carisa dan Kiana tidak kembar. Usia mereka sebenarnya berjarak satu tahun dan mereka sama sekali tidak saling mengenal sampai mereka SMA. Bahkan di SMA pun mereka saling benci. Bagai cewek alfa yang saling memiliki kekuatan tersembunyi, mereka bagai dua kutub yang sama yang tidak akan pernah menyatu. Hingga satu kejadian menimpa keduanya dan takdir pahit mulai membeberkan rahasia mereka. Awalnya mereka tidak terima dengan takdir itu. Malah semakin membesarkan api benci di antara keduanya. Namun, lama-kelamaan, mereka mulai menyadarinya dan harus menerima takdir pahit. Bagusnya, mereka dapat memutarbalikkan persepsinya. Di situlah buku ini mengambil tempat. Tentang proses menerima.


Hanya itu? Tidak! Masih ada hal yang paling kusuka dari buku ini. Bab pementasan musikalisasi puisi! Aku sama sekali tidak tahu-menahu soal musikalisasi puisinya. Blurb di sampul belakang buku pun tidak memberikan petunjuk. Bisa dikatakan sebuah kejutan. Walaupun hanya sekali melihatnya, aku suka pementasan musikalisasi puisi. Bayangkan kamu melihat seseorang membacakan puisi dengan kertas disangga di hadapannya. Ia melakukannya dengan diiringi petikan gitar. Tak asal membaca, ia harus mengikuti irama yang keluar dari gitar dan memadukannya secara ritmis. Lalu kamu akan tenggelam dalam momen-momen yang tak pernah kamu rasakan sebelumnya. Begitulah musikalisasi puisi. Ajaibnya, aku bisa merasakannya juga dalam buku ini. Penulis berbakat dalam menarasikan adegan demi adegan musikalisasi puisi dan membuatnya mudah dibayangkan. Sebuah kelebihan yang harus diacungi jempol. Dan kamu tahu puisi siapa yang terceritakan dalam buku ini? Puisi-puisinya Sapardi Djoko Damono! Jika kamu bertanya puisinya yang mana, aku akan jawab: cari tahu saja sendiri.

Unsur lokal dan mancanegara jadi satu? Buku ini salah satu penganutnya. Selain musikalisasi puisi Sapardi Djoko Damono, penulis juga memberikan unsur kebarat-baratan: melalui OneRepublic, sebuah grup band asal Amerika Serikat bergenre pop rock. Salah satu lagu paling populernya, “Counting Stars”, menjadi lagu favorit ayahnya Kiana. Lagu itu juga memiliki peran krusial dalam kisah Carisa dan Kiana. Salah satu bait liriknya berbunyi: But baby, I’ve been, I’ve been praying hard / Said no more counting dollars / We’ll be counting stars. Bila diperhatikan lagi, lagu ini juga cocok untuk Carisa dan Kiana yang pada akhirnya menerima dan merasa bersyukur. Biar kuberi tahu juga: OneRepublic merupakan salah satu grup musik yang lagu-lagunya sering kuputar. Jadi, alasan yang terkesan subjektif? Untuk yang ini, aku tidak akan berdalih.

Usaha tidak akan mengkhianati takdir, ujar seorang teman kepadaku. Dalam wawancara bersama penulis beberapa waktu yang lalu, aku menemukan lagi bagaimana usaha penulis untuk menyisihkan waktu menulis yang merupakan passion-nya membuahkan hasil. Buku ini dikarangnya dalam waktu setahun. Pedoman penulis yang tetap mempunyai target dan konsisten terhadap target itu membuat impiannya menerbitkan buku tercapai. Takdirnya telah tertulis. Begitu juga dengan takdir Carisa dan Kiana yang mengharuskan mereka belajar untuk menerimanya dan melihatnya sebagai hal yang positif, walaupun takdir itu terlihat begitu negatif. Sebuah novel remaja yang tidak hanya bercerita tentang percintaan. Tidak hanya remaja, buku ini patut dibaca oleh siapa saja yang sedang ragu untuk menerima dan berpasrah akan kehidupannya.

“Bukan hanya kata yang menjadikan cinta tetap ada, tetapi dengan tindakan yang akan membuat cinta melekat selamanya.” (hal. 197)

Ulasan ini diikutsertakan dalam “Read and Review Challenge 2017” kategori Debut Authors.

Memori Beli Buku, Middle Grade, dan Keriuhan MiGaring 2.0

Terkadang, sebuah peristiwa akan memantik memori pada masa lalu. Seorang anak SMA berkacamata menggandrungi sebuah buku dan meracuni teman semejanya untuk tertarik pada hal yang sama. Sejak awal si kacamata punya inisiatif mengajak teman semejanya itu membeli buku yang dibicarakan banyak orang itu. Entah amat baik atau terpaksa karena si kacamata adalah “teman”-nya, sang teman akhirnya mengiakan kala si kacamata memintanya untuk patungan membeli buku epik itu. Butuh beberapa waktu untuk mengumpulkan uang karena buku tersebut lumayan mahal dan bagi seorang anak yang tinggal di sebuah kota kabupaten dan jauh dari toko buku harus membelinya via internet. Kami harus menambahkan uang untuk ongkos kirim. Setelah pas, kami datang ke sebuah bank untuk melakukan transaksi. Si kacamata tahu itu kali pertamanya datang ke sebuah bank dan berhadapan langsung dengan petugas wanita di balik meja untuk membeli buku.

Penggalan di atas adalah secuplik memoriku. Entah bagaimana dengan temanku itu, tapi aku tidak terlalu ingat seberapa senangnya aku ketika mendapatkan buku itu. Buku itu adalah “Nibiru dan Kesatria Atlantis” karya Tasaro GK. Dan kembalinya memori itu dipantik oleh peristiwa yang baru saja diakhiri hari ini: MiGaring 2.0. Aku tak mempersiapkan apa pun untuk membicarakan masa lalu. Aku hanya menyampaikannya. Aku terpancing oleh perkenalan di awal acara yang mengharuskan setiap peserta yang hadir menceritakan tentang novel fantasi apa yang paling disuka. Bisa jadi aku melantur dari konteksnya. Tapi, siapa yang bisa tahan untuk tidak menyampaikan memori berkenaan dengan apa yang disuka? Aku yakin sulit untuk melakukannya.

Apa itu MiGaring 2.0?

Pengujung April, kami berkumpul di salah satu titik lokasi di Kebun Binatang Ragunan untuk melakukan acara yang sudah direncanakan matang-matang: MiGaring 2.0. Mungkin banyak yang bertanya akan acara tersebut. MiGaring 2.0 adalah sebuah perayaan sederhana yang digagas oleh para admin komunitas Penggemar Novel Fantasi Indonesia (PNFI). Tidak lumrah sebenarnya ketika sebuah perkumpulan tidak pernah bertatap muka satu sama lain dan hanya bisa saling berinteraksi di dunia maya saja. Dari keprihatinan tersebutlah admin membuat acara kumpul-kumpul kecil-kecilan yang bersifat sederhana namun tetap legit. Maka itulah disebut MiGaring yang adlaah kependekan dari Mini Gathering. Karena merupakan tahun kedua pelaksanaan, maka acara hari ini bernama MiGaring 2.0. Sungguh kreatif, ya?!

Yang membuat acara kumpul-kumpul ini sedikit berfaedah adalah adanya sharing session yang dibatasi dengan sebuah tema. Pada sharing session ini, setiap yang datang diharapkan untuk memberikan pendapatnya tentang tema yang sudah ditentukan tersebut. Tema MiGaring 2.0 adalah middle grade. Sebuah genre? Sebuah penamaan untuk target pembaca? Mungkin keduanya. Intinya adalah buku-buku middle grade biasanya dikhususkan bagi anak-anak yang sedang beranjak ke remaja. Tidak terlalu anak-anak dan bukan remaja juga. Jadi, di antara keduanya. Biasanya para tokoh utamanya adalah anak-anak yang masih jenjang SD tingkat akhir atau SMP tingkat awal. Tapi, umur berapa sebenarnya target pembaca buku-buku middle grade ini? Bagaimana dengan perkembangannya di Indonesia? Tema yang bagus untuk dibahas. Semakin asyik karena tidak hanya dari pembaca saja, tetapi juga ada dua tim redaksi penerbit novel-novel fantasi terjemahan Indonesia yang memberikan wawasan tentang tema ini.

Poster


Middle grade ternyata genre yang susah dipetakan


Buku-buku middle grade memang bacaan yang ringan. Bagaimana tidak? Tokoh utamanya adalah remaja tanggung yang permasalahannya mungkin tidak terlalu memusingkan. Sebenarnya, usia berapa sih yang patut membaca buku middle grade? Salah seorang yang hadir mengatakan bahwa middle grade lazimnya dibaca oleh anak-anak berusia 10-15 tahun mengingat para tokoh utamanya juga berkisar pada usia tersebut. Namun, ternyata Goodreads sendiri menyebutkan middle grade untuk usia 8-12 tahun. Apa tidak terlalu muda? Melihat hal ini, peserta lainnya lagi mengatakan bahwa ukuran usia di Indonesia dengan di luar negeri alih-alih Amerika Serikat itu berbeda. Kebanyakan yang membaca buku-buku middle grade adalah benar usia sekitar 15 tahun bahkan lebih. Begitupun dengan young adult yang di Indonesia diminati oleh pembaca berusia di atas 20 tahun padahal sebenarnya untuk remaja 17 tahun. Ada yang menyeletuk itu masalah mental. Ada juga yang menjabarkan bahwa itu adalah perkara pembiasaan sejak kecil oleh orang tua. Terlepas dari itu, ternyata, tidak mudah untuk memetakan pembaca buku-buku middle grade, apalagi di Indonesia.

Dari segi pasar, middle grade juga susah dijual

Dan karena susahnya memetakan siapa-siapa saja yang membaca middle grade, hal tersebut juga berimplikasi pada susahnya mencari target pasar yang sesuai di Indonesia. Salah satu perwakilan penerbit mengatakan bahwa penerbit harus berpikir berulang kali ketika akan menerbitkan buku-buku middle grade. Tidak hanya soal target berapa eksemplar yang dijual, namun juga soal bagaimana cara promosi yang sesuai mengingat target pembacanya. Bagi anak-anak, buku-buku middle grade terlalu dewasa. Namun, bagi remaja, buku-buku middle grade malah terlalu remeh-temeh. Belum lagi masalah konten di dalamnya. Mengingat (lagi-lagi) di Amerika Serikat sana sedang mengampanyekan keberagaman alias diversity, dunia literasinya pun berperan besar dalam hal ini. Buku-buku bertema LGBT, juga perbedaan ras dan warna kulit semakin marak diterbitkan. Bagaimana jika buku-buku middle grade yang mengandung konten seperti itu hadir di Indonesia?

Ternyata berpantomim juga susah

Seru bagaimana middle grade menjadi susah untuk ditemukan satu kesimpulan yang sama karena alasan-alasan di atas. Namun, ternyata ada yang lebih susah daripada menemukan kesimpulan-kesimpulan. Adalah berpantomim. Setidaknya bagiku. Dalam MiGaring 2.0, ada beberapa games yang dibuat untuk memecahkan es supaya mencair. Salah satunya bernama Phantom Meme yang sebenarnya disadur dari kata pantomim. Peserta yang dibagi menjadi dua kelompok harus mengorbankan salah satu anggotanya untuk memeragakan jawaban yang merupakan judul-judul novel fantasi. Dan, tebak siapa yang menjadi korban dalam kelompokku? Ya, benar! Kamu harus bermuka tebal dan memiliki jiwa patriotis dan humoris tinggi untuk melakukannya. Dan kesemuanya tidak ada dalam diriku! Jadi, sudah pasti untuk yang ini aku menyerah. Lagian, siapa suruh memilihku?

Sulitnya Berpantomim


Namun, ada yang tidak susah: makan-makan!

Ya! Ini sudah pasti, keriuhan terjadi ketika aku tidak ada di lokasi karena harus menjemput paket makan siang yang sebenarnya tidak terlalu enak. Menyambut ulang tahun PNFI pada 1 Mei besok, kami memotong lilin dan meniup kue yang sudah dibeli. Dan, tak disangka, dengan amat baik hati, ada peserta yang membawa kue dengan hiasan di atasnya bertuliskan “Happy Birthday Harry and PNFI”. Walaupun aku tidak sempat mencicipi kuenya, aku merasa tersanjung secara personal. Apalagi, dengar-dengar, ia membuatnya sendiri. Terima kasih ya, Silva! Selain Silva, semua peserta yang hadir membawakan makanan yang bisa mereka bawa untuk potluck party merangkap makan siang. Makanannya amat banyak dan, bagi anak kos semacam aku, melihat makanan sebanyak itu adalah nikmat yang tak terperikan. Sayangnya (untungnya), saking banyaknya, masih banyak makanan yang tersisa.

Aku bersyukur karena MiGaring 2.0 terselenggara dengan lancar, walaupun sempat was-was karena mendung. Aku pun mengucapkan terima kasih kepada peserta yang menyempatkan hadir dalam acara ini. Dan, bagi yang tidak bakal bisa kubayar kebaikannya, para admin PNFI, terima kasih karena sudah meluangkan tenaga, waktu, dan uangnya untuk acara ini. Sedikit bocoran, penyelenggaraan acara ini adalah swadaya dari para admin. Yah, mungkin nantinya PNFI akan coba menjual beberapa pernak-pernik spesial untuk menambah pendapatan dan membayar semua uang para admin. Sampai jumpa di MiGaring 3.0!

Dan satu lagi: Selamat ulang tahun yang keempat, PNFI! Salah satu hal penting yang mengubah hidupku, karena denganmu, aku merasa lebih memiliki arti dan lebih-lebih-lebih memiliki kesibukan.

Sampai Jumpa di MiGaring 3.0!

Ulasan Buku: The Rest of Us Just Live Here

Judul : Yang Biasa-biasa Saja
Judul Asli : The Rest of Us Just Live Here
Pengarang : Patrick Ness
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tahun : 2017
Dibaca : 22 April 2017
Rating : ★★★

“Tidak semua orang harus menjadi Sosok Pilihan. Tidak semua orang harus menjadi sosok yang menyelamatkan dunia. Kebanyakan orang hanya harus menjalani kehidupan mereka sebaik mungkin, melakukan hal-hal yang hebat bagi mereka, memiliki teman yang hebat, berusaha membuat hidup mereka lebih baik, mencintai orang dengan semestinya. Pada saat yang sama mereka juga menyadari bahwa dunia ini tak masuk akal tapi tetap saja berusaha mencari jalan untuk bahagia.” (hal. 190)


Awal mengetahui buku ini diterjemahkan, aku bertanya-tanya tentang judul bahasa Indonesia. Kenapa berubah sedemikian berbeda menjadi “Yang Biasa-biasa Saja”? Aku tahu mungkin jawabannya akan ditemukan seusai membaca bukunya. Namun, sebenarnya tidak juga. “The Rest of Us” secara harfiah berarti “kita semua”. Dalam kondisi ini, “The Rest of Us” ternyata memiliki arti yang lebih spesifik yaitu “kita” yang awam. Seseorang bertanya pada sebuah forum tentang apa arti dari frasa “The Rest of Us”. Salah satu jawaban yang direkomendasikan menjelaskan bahwa frasa tersebut ditujukan pada orang-orang yang tidak (setidaknya pada saat ini) memiliki pemahaman mendalam tentang subjek yang ada. Mereka hanya orang yang biasa-biasa saja yang tidak mengerti tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi. Dalam konteks buku ini, mereka adalah yang biasa-biasa saja terhadap Para Abadi yang merangsek datang untuk mengambil alih bumi.

***


Mike tahu hidupnya biasa-biasa saja. Ia seorang siswa tingkat akhir di sekolah menengah atas yang biasa-biasa saja. Ia memiliki sahabat-sahabat yang sepertinya terlihat biasa-biasa saja. Bahkan salah satu di antara mereka adalah kakak perempuan kandungnya yang setingkat dengannya di sekolah. Ia dan sahabat-sahabatnya memiliki masalahnya masing-masing, yang sebenarnya juga biasa-biasa saja kecuali Jared. Mike memiliki Obsessive-Compulsive Disorder (OCD) yang menyukai salah satu sahabatnya, Henna. Kakak perempuannya, Mel, pernah hampir mati karena anorexia nervosa yang dideritanya. Selepas kelulusan, Henna harus ikut bersama orang tuanya yang akan menjadi misionaris di Republik Afrika Tengah. Terakhir, Jared, yang keturunan Dewi Kucing, adalah gay yang tangannya diberkati karena memiliki kelebihan menyembuhkan. Oh, hampir lupa, ayah Mike seorang pemabuk berat dan ibunya adalah politikus yang berpengaruh di distriknya. 

Mike tinggal di sebuah kota kecil yang dikelilingi padang dan danau yang bahkan konser grup musik terkenal saja terkesan privat dan intim karena diselenggarakan di sebuah amfiteater yang biasa jadi tempat kompetisi hewan ternak selama pekan raya county. Lalu apa yang sebenarnya terjadi di antara Mike dan sahabat-sahabatnya dan orang tuanya dan penduduk di kota kecil itu sehingga kisah ini harus dikarang?

***


Tidak ada. Ya, tidak ada yang terjadi selain hal yang biasa terjadi di sebuah kota kecil. Orang tua bekerja untuk keberlangsungan hidup mereka dan keluarganya; di antaranya mengejar ambisi-ambisinya. Para remaja dan yang lebih muda bersekolah dan menuntut ilmu. Setelahnya mereka kuliah di luar kota atau langsung bekerja menjadi apa saja yang bisa mereka kerjakan di kota kecil itu. Bagi yang kuliah, setelah mendapatkan gelar, mereka akan bekerja seperti orang tua mereka dan sebagian dari mereka juga mengejar ambisi-ambisi mereka. Begitulah yang sebenarnya terjadi di bagian kehidupan Mike dan sahabat-sahabatnya pada buku ini. Mereka hanya sedang berada pada situasi masa sekolah mereka yang akan berakhir. Apa yang biasa dilakukan seorang remaja dan sahabatnya ketika akan mengakhiri satu fase? Mereka akan lebih banyak bertemu, melakukan hal-hal seru yang belum pernah mereka lakukan, melakukan hal-hal yang biasa dilakukan orang tua karena mereka toh akan menjadi seperti itu nantinya.

Namun, mereka tidak tahu di balik hal yang biasa-biasa saja yang mereka lalui, ada sebagian kecil orang yang sedang menyelamatkan dunia. Serius. Para Abadi datang ke bumi dan sedang membuat Wadah agar mereka bisa menetap lebih lama di sini. Tujuan utama mereka? Mengambil alih dunia karena memiliki banyak sumber daya yang mereka butuhkan. Adalah anak-anak indie yang berusaha agar dunia tidak jatuh di tangan Para Abadi. Mereka sekuat tenaga berupaya; beberapa di antara mereka menjadi korban. Setiap dari mereka ada yang menjadi korban, orang-orang yang tidak mengetahui apa-apa selalu memiliki alasan-alasan yang wajar untuk menutupi kematian mereka. Karena dunia sudah terlalu kacau tanpa perlu ditambah alasan aneh bahwa anak indie mati karena serangan makhluk luar angkasa kan? Itu amat sangat tidak diterima! Jadi, selagi anak-anak indie menyelamatkan dunia, mereka yang biasa-biasa saja tetap melanjutkan hidup mereka. Sesederhana itu inti cerita buku ini.

Kesederhanaan itulah yang menarik. Kamu pernah membaca sebuah kisah epik? Entah itu fantasi atau yang lainnya? Orang-orang terpilih yang memiliki sebuah misi; menyelamatkan seseorang dari penjahat, melawan serangan jahat yang akan menghancurkan atau mengambil alih dunia, atau yang lainnya yang tak kalah epik. Pernahkah berpikir bagaimana orang-orang yang tidak berkenaan dengan sepilihan orang tersebut menghadapi apa yang sebenarnya terjadi? Mereka hanya mendapatkan akibat-akibat dari terjadi yang biasanya aneh dan mereka akan menutupinya dengan hal-hal yang wajar; yang masuk akal. Mereka akan tetap menjalani hidup mereka sendiri; melakukan rutinitas harian, bekerja, bersekolah, berwisata, melakukan hal-hal yang bisa mereka lakukan. Mereka memiliki peran masing-masing. Dan mereka masih mempunyai masalah mereka sendiri. Jadi, bila disebutkan bahwa buku ini biasa-biasa saja, itu karena penulis memang membuatnya biasa-biasa saja.

Edited by Me

Yah, masalah selalu terjadi pada siapa saja, bukan? Di saat anak-anak indie berupaya menyingkirkan Para Abadi, Mike berupaya menyingkirkan kecemasannya yang berlebihan. Kecemasan itulah yang membuatnya kembali melakukan hal-hal secara berlebihan. Ia menghabiskan satu jam hanya untuk mencuci muka. Ia melakukannya berulang-ulang. Ia merasa ia belum melakukannya dengan benar. Ia mungkin akan terus melakukannya bila ia tidak sadar sendiri atau tidak ada yang menyadarkannya. Ia cemas karena ia tidak terlalu berguna buat orang lain. Kecemasannya menjadi berlebih karena ia benci pada dirinya sendiri; karena ia merasa tidak diinginkan. Yah, ternyata itu serius juga sehingga mereka yang merasakannya harus dibantu untuk mengatasinya. Aku jadi ingat bab ketika Mike berbicara dengan Dr. Luther, psikiater yang ditemuinya. Percakapan yang amat intens dan lekas, sehingga aku harus mengulang setiap barisnya untuk lebih memahaminya. Bisa dibilang, pada bab itulah aku melihat Mike dengan mata yang berbeda. Empatiku padanya meningkat.

Pada akhirnya, aku sebal dengan buku ini. Aku menyukai sekaligus tidak begitu menyukai buku ini karena kesederhanaannya. Lalu, aku dijadikan paham bahwa buku ini bukan tentang misi epik yang harus segera dituntaskan, tetapi tentang kisah orang-orang biasa yang hidup berjajar dengan segala hal tak masuk akal yang sedang terjadi. Aku jadi berpikir bahwa selagi aku menulis ulasan ini, selagi aku membaca buku-buku yang tak habis dari timbunanku, selagi aku makan, minum, dan bekerja, ada orang lain–mungkin minoritas–yang sedang melakukan misi-misi tak terduga. Mereka sedang menyelamatkan dunia atau meringkus para penjahat atau menghalau para alien yang sedang berbondong-bondong datang dari tata surya lain. Apa pun itu, intinya, buku yang biasa-biasa saja ini memberikan hal-hal yang lebih dari biasa-biasa saja bagi para pembacanya. Dan, kamu tahu, tidak masalah untuk menjadi biasa-biasa saja.

“Tapi kenapa semua harus berarti sesuatu? Bukannya kita sudah punya cukup kehidupan untuk dijalani?” (hal. 279)

Ulasan ini diikutsertakan dalam “Read and Review Challenge 2017” kategori Young Adult Literature.

Ulasan Buku: The Sleeper and the Spindle

Judul : Sang Putri dan Sang Pemintal
Judul Asli : The Sleeper and the Spindle
Pengarang : Neil Gaiman
Ilustrator : Chris Riddell
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tahun : 2017
Dibaca : 13 April 2017 (SCOOP)
Rating : ★★★★

“Apa yang perlu ditakutkan tentang tidur? Itu kan hanya tidur. Kita semua melakukannya.” (hal. 18)


Apa yang biasanya terjadi pada dongeng-dongeng kerajaan? Seorang raja dan ratu memiliki anak seorang pangeran. Sang pangeran merasa hidupnya begitu monoton dan penuh tuntutan, dari kecil hingga dewasa. Ia masih harus menikahi seorang putri dari kerajaan lain yang tidak dicintainya. Ia nekat kabur untuk mencari pujaan hatinya sendiri. Dan kala menemukan seorang gadis desa yang amat ia cintai, ia mulai menyadari bahwa kisah hidupnya tidak seperti itu. Sang pangeran harus tetap menikahi sang putri yang sudah dijodohkan untuknya bahkan sejak ia masih dibuai di dalam kandungan. Atau mungkin kisahnya lebih singkat. Sang pangeran harus menyelamatkan sang putri yang amat dicintainya karena diculik oleh penjahat desa yang menginginkan tebusan harta milik kerajaan. Sang pangeran yang sudah terlatih bela diri akhirnya menumpaskan para penjahat dan menyelamatkan sang putri. Mereka hidup bahagia selama-lamanya.

***


Tujuan utama para kurcaci pergi ke desa adalah membelikan kain sutra terbaik di Dorimar untuk sang ratu sebelum hari pernikahannya tiba. Setibanya di desa, para kurcaci mendapati para penduduk yang waswas karena ada wabah tidur. Salah satu dari mereka bertanya apa yang salah dengan tidur karena setiap dari semua makhluk pasti tidur. Para penduduk desa berspekulasi bahwa yang membuat wabah tidur adalah penyihir, peri jahat, atau pembaca mantra. Sang penyihir itu telah mengutuk seorang putri sejak lahir sehingga saat berumur delapan belas tahun jari gadis itu akan tertusuk dan membuatnya tidur selamanya. Dan orang-orang di istana juga ikut tertidur, selagi sang putri tertidur. Dan setelah berpuluh-puluh tahun, wabah tidur itu mulai menyebar hingga ke desa-desa lainnya dan membuat semua penduduk tertidur.

Sang ratu tahu bahwa dirinya akan segera melaksanakan pernikahan. Sang ratu berencana akan menikah dengan seorang pangeran, bahwa mereka akan tetap menikah, meskipun dia hanya pangeran sedangkan ia adalah ratu. Ia tidak memiliki pilihan karena ia sudah ditakdirkan untuk menikah dengan sang pangeran sampai pilihan lain menghampiri kala ketiga kurcaci membeberkan hal genting yang ditemui mereka di desa Giff. Sang ratu meminta baju perjalanannya disiapkan. Sang ratu meminta pedangnya disiapkan. Sang ratu meminta perbekalan disiapkan, juga untuk kudanya, kemudian ia menunggang kuda dan berderap keluar dari istana, menuju arah timur.

***

Biar kuceritakan lagi secara singkat dongeng Putri Salju dan 7 kurcaci. Sang putri hidup bahagia dengan ketujuh kurcaci tersebut hingga seorang penyihir memiliki niat buruk padanya dan menawarkan buah apel yang ternyata memiliki racun. Sang putri yang tanpa prasangka mencoba memakan apel itu hingga ia tertidur. Para kurcaci yang mendapati sang putri dalam keadaan kaku tidak bergerak mengiranya sudah mati, maka mereka memasukkannya ke dalam peti dan menyimpannya di suatu tempat di dalam hutan. Hingga suatu hari, seorang pangeran menemukan peti tersebut. Melihat kecantikannya, seakan tersihir, sang pangeran mencium bibir sang putri. Tak disangka, Putri Salju terbangun dan kembali hidup. Ternyata, penawar dari racun sang penyihir jahat itu adalah ciuman sang cinta sejati. Akhirnya, Putri Salju dan pangeran hidup selama-lamanya bersama para kurcaci.

Kisah Sang Ratu di “The Sleeper and the Spindle” mengingatkanku pada dongeng Putri Salju karena premisnya kurang-lebih sama. Setelah ditelisik lagi, masih ada dongeng lain yang mirip dengan salah satu adegan yang ada dalam buku ini: Sleeping Beauty atau Putri Tidur. Tentang jarum sulam, tentang putri yang ditawan dengan tertidur, dan tentang istana yang dikelilingi oleh tanaman liar berduri dan pangeran yang menembus semua itu hingga menemukan sang putri. Retelling dua dongeng sekaligus! Diceritakan hanya dalam kurang dari seratus halaman dan menciptakan sebuah kisah baru yang lebih bisa diterima bagi sebagian orang dan mungkin tidak bagi sebagian yang lain. Karakter kisah yang sangat khas dari seorang pencerita ulung bernama Neil Gaiman.

Sumber

Kenapa aku bilang kisahnya bisa diterima dan tidak bisa diterima? Apakah semacam kontroversi? Bisa jadi sampai ke ranah itu karena perlu diingat bahwa terjemahan buku ini menjadi dikategorikan ‘Dewasa’ padahal buku ini notabene ditujukan pada pembaca anak-anak. Bagaimana tidak? Buku ini adalah kisah retelling dongeng jadi sudah barang tentu sasaran pembacanya adalah anak-anak. Karakter utamanya yang seorang ratu mungkin tidak masalah karena siapa yang tidak suka dengan pahlawan super seorang wanita? Apakah aku luput menyinggung tentang Putri Salju yang harus dicium oleh seorang pangeran untuk kembali terbangun dari tidur lelapnya selama bertahun-tahun? Yah, bagaimana bila pangeran itu ditukar oleh seorang ratu? Nah, sudah dapat? Dari situlah, menurutku, mengapa penerbit yang menerjemahkan buku ini dengan berat hati memberikan label ‘Dewasa’ pada sampul buku ini.

Aku jadi ingat novel young adult terjemahan penerbit lain yang juga mengandung unsur seperti ini dalam bukunya dan memberikan label ‘Dewasa’ secara terang-terangan pada sampul belakangnya. Padahal sudah dipastikan bahwa sebenarnya sasaran utama buku tersebut adalah remaja. Silakan baca ulasan “Simon vs The Homosapiens Agenda” karya Becky Albertalli yang di dalamnya terdapat pengakuan penerbit mengapa memberikan label ‘Dewasa’ pada bukunya.

Hal yang sebenarnya tidak kontroversial-kontroversial amat itu malah membuatku semakin mengagumi penulis yang satu ini. Kisah seorang ratu yang menyelamatkan seorang putri? Wow, itu brilian! Aku sebenarnya sudah membaca versi aslinya sebelumnya dan masih merasa bahwa kisahnya sepertinya biasa saja. Saat aku membaca kedua kalinya dalam bahasa Indonesia ini, aku jadi mengerti apa yang sebenarnya terjadi dalam diri sang ratu. Ia hanya sedang memilih apa yang sebenarnya ia harus pilih dalam hidupnya, karena toh hidup adalah tentang memilih dan melepaskan yang tidak dipilih. Pertanyaan pamungkasnya, setelah menyelamatkan sang putri, apakah sang ratu kembali ke istananya dan melangsungkan pernikahan dengan sang pangeran yang menunggunya?

Satu lagi yang membuatku menyukai buku ini adalah keterkesimaanku pada ilustrasi-ilustrasi di dalam buku ini. Saat aku membacanya versi digital dan masih merasa tidak puas, tanpa tedeng aling-aling aku membeli versi cetaknya. Melihat ilustrasi-ilustrasi buku ini secara nyata, membuatku semakin mengagumi penciptanya. Gambar-gambar Chris Riddell memberikan kesan magis yang kuat. Tak pelak Neil Gaiman selalu meminta jasa gambarnya untuk mengilustrasikan karya-karyanya, seperti “Fortunately, the Milk” dan “Coraline”. Oh ya, hal lucu terjadi ketika aku membeli buku ini. Buku ini dijejerkan bersama coloring book dalam sebuah rak. Memang mirip sih, tapi apa yang menata tidak melihat keterangan bahwa buku ini termasuk novel? Di situ kadang saya merasa sedih.

Sumber

“Belajar untuk menjadi kuat, untuk merasakan perasaannya sendiri dan bukan perasaan orang lain, memang berat; tapi sekali kau berhasil, kau takkan bisa lupa.” (hal. 59)

Ulasan ini diikutsertakan dalam “Read and Review Challenge 2017” kategori Fantasy Fiction.

Betapa Sulitnya Baca Nonfiksi + Giveaway

Edited by Me
Bulan ini adalah bulan bahagia bagi BBI karena memperingati hari jadinya yang ke-6 sekaligus bulan yang paling malas bagiku untuk menulis blog. Sangat disayangkan karena draf untuk menyemarakkan ulang tahun BBI sudah dibuat namun pada hari yang telah ditentukan draf tersebut tidak terselesaikan. Yah, siapa yang mau terjangkiti blogging slump? Bahkan beberapa artikel yang menguraikan langkah-langkah untuk keluar dari blogging slump masih kurang masuk akal untuk dilakukan. Sebagai upaya penyembuhan, aku coba angkat topik bacaan nonfiksi yang sudah beberapa waktu lalu dirumuskan dan memberikan opiniku tentangnya. Karena aku tahu, aku tidak begitu menyukai bacaan nonfiksi. Setidaknya, belum. Dan itu mungkin akan menjadi problem jika tidak dicari tahu lebih jauh. Pertanyaan utama yang sering berlalu lalang: apakah aku harus gemar membaca nonfiksi atau tetap dengan apa yang kusuka saja? Bila begitu, kenapa aku begitu sulit membaca nonfiksi? Apakah kamu memiliki pertanyaan yang sama untuk dirimu sendiri? Bila ya, ikuti terus jabaran berikut.

Mari mulai dengan pengertian nonfiksi. Bacaan nonfiksi adalah jenis bacaan yang bukan fiksi dan berdasarkan kenyataan. Dalam hal ini, seseorang yang menuliskan nonfiksi memiliki tanggung jawab atas kebenaran atau akurasi dari peristiwa, orang, dan/atau informasi yang disajikan. Nonfiksi tidak hanya buku-buku yang bersifat informatif dan persuasif yang biasanya disertai pembuktian ilmiah maupun opini dari pengarangnya. Jurnal-jurnal, fotografi, dan artikel-artikel ilmiah pada majalah atau media daring juga termasuk bagian dari nonfiksi bila memenuhi syarat-syarat yang disebutkan di atas. Setelah mengetahui hal ini, barulah mengerti bahwa bacaan nonfiksi ternyata luas dan bisa mengangkat topik apa saja.

Dalam sebuah forum, seseorang bertanya tentang perbandingan antara membaca fiksi dan nonfiksi dengan meminta penjelasan manfaatnya. Bagiku pertanyaan ini sungguh dasar, seperti kau menanyakan manfaat air putih padahal kau sudah kehausan. Yah, tapi tidak ada salahnya juga untuk bertanya. Laiknya sebuah forum, beragam jawaban muncul namun hampir semuanya mengerucut pada keduanya yang tidak bisa dibandingkan dan sama-sama memberikan manfaat. Bahwa fiksi akan memberikan hiburan dan membangun imajinasi dan nonfiksi akan memberikan informasi dan membangun ilmu pengetahuan.

Membaca nonfiksi bukanlah sebuah kegemaran melainkan kebutuhan

Aku sempat mengajukan pertanyaan melalui media sosial Twitter tentang kesukaan membaca buku nonfiksi dan meminta alasannya. Dari lebih dari 60 respons, 79% di antara mereka mengaku biasa saja terhadap bacaan nonfiksi. Sisanya terbagi menjadi amat menyukai nonfiksi (14%) dan sama sekali tidak suka nonfiksi (7%). Alasannya pun kurang lebih sama: tergantung kebutuhan. Di antara dari mereka membaca nonfiksi untuk riset proyek mereka dan hal-hal yang sesuai dengan minat mereka. Dilihat dari alasan-alasan yang diberikan tersebut, aku jadi berpikir bahwa membaca nonfiksi bukanlah sebuah bentuk kegemaran melainkan kebutuhan. Contohnya, bila kamu akan menulis sebuah naskah dengan memerlukan pendalaman karakter yang memiliki penyakit tertentu, kamu akan coba untuk membaca buku-buku yang berkenaan dengan penyakit tersebut. Atau bila kamu akan melakukan perjalanan ke sebuah kota, kamu akan membaca buku atau artikel seputar kota tersebut; makanan khas di sana, tempat wisata favorit, hingga hal-hal yang harus dipatuhi di sana. Seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, bahwa bacaan nonfiksi adalah sumber informasi dan ilmu pengetahuan.

apakah kamu suka membaca buku nonfiksi? bila berkenan, sebutkan alasannya dengan membalas tweet ini. 😊

— Abduraafi Andrian (@raafian) April 9, 2017


Aku juga bertanya pada teman-teman grup WhatsApp yang mayoritas di dalamnya pembaca fiksi tentang kans membaca nonfiksi. Satu orang menjawab bahwa membaca buku-buku realistic fiction pun sebenarnya mengandung nonfiksi sehingga ia mengaku juga membaca nonfiksi. Yang lainnya malah kilas balik ke zaman sekolah di mana buku pelajaran yang termasuk nonfiksi memiliki banyak pengetahuan namun terasa kering dan membuat ia enggan membaca nonfiksi. Hal yang sama juga diutarakan teman yang lainnya, bahwa sejak sekolah sampai kuliah sudah dicekoki berbagai macam bacaan nonfiksi yang tumpah-ruah. Tapi bukan berarti nggak baca juga, karena ia hingga kini masih membaca nonfiksi yang lebih ke pengetahuan umum dan yang berhubungan dengan pekerjaan, pungkasnya. Alasan-alasan tersebut semakin meyakinkanku bahwa membaca nonfiksi hanya sebuah kebutuhan.

Dalam ulasan buku “Steal Like An Artist”, aku menyebutkan bahwa aku jarang baca buku nonfiksi. Setelah memikirkan dalam-dalam, aku memiliki alasan kenapa aku menjadi begitu sulit membaca nonfiksi. Alasan yang pertama adalah aku sudah terbiasa membaca fiksi dan memang begitulah faktanya. Titik. Kedua, topik yang diangkat dalam bacaan nonfiksi terlalu berat, padahal aku membaca buku bertujuan untuk hiburan alias melepaskan diri dari segala macam hal “berat” yang sudah terserak di dunia nyata. Alasan terakhir, ya belum saatnya saja karena bila sudah mendapatkan jenis bacaan nonfiksi yang sesuai, aku sudah pasti akan membacanya. Pasti ada slah ketika topik bacaan nonfiksi itu amat sangat kamu ingin tahu dan kamu tertarik terhadapnya. Buktinya, aku juga baca beberapa buku nonfiksi dan beberapa di antaranya sudah kuulas pada blog ini dengan label non-fiction.

Jadi, sudah dapat dipahami bahwa ternyata tidak masalah kamu tidak begitu banyak membaca nonfiksi. Hal itu bisa jadi karena kamu memang tidak perlu banyak-banyak membacanya. Atau mungkin kamu memang belum memiliki topik yang perlu kamu cari tahu dalam bacaan nonfiksi. Dan ingat, majalah serta jurnal-jurnal dan artikel-artikel ilmiah yang tersebar di internet pun termasuk bacaan nonfiksi. Bila kamu suka membacanya, berarti kamu juga suka membaca nonfiksi. Dalam pekerjaanku sekarang, aku juga dituntut untuk melakukan hal tersebut. Bahkan ada beberapa situs web yang sudah ditandai dan termasuk laman paling sering kubuka. Di antaranya adalah lifehack.org dan psychologytoday.com. Namun, apakah aku lantas termasuk orang yang gemar membaca nonfiksi? Kuakui tidak. Dan sepertinya, jadi penggemar bacaan nonfiksi itu sedikit tidak keren. :p

Sumber

Giveaway!

Aku ingin tahu bagaimana pendapatmu tentang bacaan nonfiksi. Apakah kamu menyukainya? Atau kamu sama denganku yang juga membaca artikel-artikel di media daring? Silakan jelaskan pada kolom komentar dan kamu berkesempatan menjadi salah satu dari dua orang yang berhak mendapatkan dua paket buku kolpri sebagai berikut:

dan
“The Introvert Advantage” karya Marti Olsen Laney


Keduanya nonfiksi, lho! Jangan lupa sertakan juga kota domisilimu pada kolom komentar di bawah ini. Aku menunggu pendapatmu sampai 25 April 2017 dan semoga beruntung! Oh ya, terakhir: Selamat ulang tahun yang ke-6 untuk Bebi dan teman-teman member Blogger Buku Indonesia!

Update!

Aku senang dengan respons teman-teman dan komentarnya seputar buku nonfiksi. Tidak hanya asal berkomentar tetapi juga memberikan pendapat yang mendalam tentang genre buku ini. Terima kasih untuk teman-teman yang sudah meluangkan waktunya untuk ikut berpartisipasi dalam givewaway kali ini. Saatnya memilih dua orang yang beruntung untuk mendapatkan buku-buku yang sudah kujanjikan di atas. Dan keduanya adalah:

Luksie Wirpiyance (Tangerang Selatan)
yang mendapatkan
Boxset Rene Suhardono berisi “Your Job Is Not Your Career” & “Career Snippet”
dan
Resita Putri (Denpasar)
yang mendapatkan
“The Introvert Advantage” karya Marti Olsen Laney


Silakan untuk segera konfirmasi data diri (nama + alamat + nomor telepon) via e-mail oughmybooks[at]gmail[dot]com dengan subjek “Giveaway Nonfiksi”. Aku tunggu!

Makna Reputasi dari Thirteen Reasons Why

Edited by Me
Setiap menyelesaikan sebuah buku, pasti ada satu atau dua adegan cerita di dalamnya yang terngiang dalam kepala dan tidak pernah pudar sampai beberapa waktu ke depan. Dari adegan cerita tersebut, kemudian tercipta gambaran kesan tentang keseluruhan isi cerita. Dan dalam karya Jas Asher ini, kesan utama yang termaktub dalam memori adalah reputasi. Kenapa reputasi? Karena dari awal sampai akhir cerita, penulis amat lihai membuat tokoh utama dalam bukunya sebagai korban dari reputasi yang tidak sengaja dibuat oleh orang-orang di sekitarnya, atau di buku ini adalah teman-teman di sekolahnya. Yah, bagaimana kalau kita membahas reputasi terlebih dahulu? Bagaimana reputasi mengubah strata kehidupan seseorang dan memengaruhinya secara keseluruhan?

Dikutip dari KBBI Daring, reputasi diartikan perbuatan dan sebagainya sebagai sebab mendapat nama baik, atau bisa juga disebut dengan nama baik. Dari pengertiannya saja reputasi atau nama baik berhubungan erat dengan kesuksesan. Orang-orang mengecap mereka yang sukses adalah mereka yang juga memiliki reputasi. Bila reputasinya buruk, kesuksesannya pun akan tercoreng. Bisa dibilang, reputasi adalah salah satu faktor kesuksesan seseorang.

Reputasi buatmu memikirkan apa kata orang lain terhadapmu

Petuah lama mengatakan untuk tidak peduli dengan apa yang orang lain katakan terhadapmu. Hal ini benar apabila kamu merasa bahwa apa yang dikatakan orang lain tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya terjadi pada dirimu. Namun, jangan langsung membabi buta untuk mengabaikan apa kata orang lain. Faktanya adalah bahwa yang menilai dirimu adalah orang lain dan merekalah yang akan menentukan bagaimana reputasimu. Apalagi pada era ini yang reputasi tidak hanya dinilai dari kehidupan di luar jaringan (offline), tetapi juga di dalam jaringan (online). Kalimat mutiaranya bukan lagi apa yang kamu baca mencerminkan dirimu tetapi apa yang kamu kicaukan di media sosialmu mencerminkan dirimu.

Sejak bergabung dan menjadi member Blogger Buku Indonesia pada 2014, aku berpedoman untuk selalu menulis ulasan buku dari buku yang sudah kubaca. Walaupun beberapa waktu terakhir ini aku selalu utamakan mengulas buku-buku yang lebih menarik dan ada sisi lain yang harus dibahasnya, aku tetap berusaha untuk mengulas setiap buku yang kubaca. Aku tetap berusaha konsisten. Dan dalam sebuah ulasan yang kubaca di Forbes, menjadi konsisten merupakan salah satu langkah untuk meningkatkan reputasi. Aku tidak bilang bahwa aku pengulas buku terbaik dan tersohor, masih banyak teman-teman pengulas yang lebih rajin mengulas buku sembari bagi-bagi buku kepada para pembaca setianya. Yang kutekankan di sini adalah setiap orang mengetahui namaku, mereka akan mengingatku sebagai pengulas buku. Membuat orang lain melakukan hal itu adalah usaha untuk membangun reputasi. (Benar, kan? Reputasi adalah tentang bagaimana kamu dinilai dan dianggap oleh orang lain.)

Hal inilah yang terjadi pada Hannah Baker. Dan seperti aku yang dinilai orang lain bagaimana diriku, Hannah yang merupakan murid pindahan juga melakukan hal-hal yang (seharusnya) membangun reputasinya di sekolah barunya. Namun, ternyata langkah pertama yang dilakukannya keliru, walaupun porsinya sedikit. Bak bola salju yang gelinding menuruni bukit, kekeliruan kecil itu berdampak pada kekeliruan-kekeliruan lain yang mengubah penilaian orang lain terhadapnya. Reputasinya hancur. Kalau sudah begitu, lebih baik ia pergi saja. Dan ternyata kepergiannya itu menyisakan sesuatu: sebuah kotak sepatu berisi tujuh kaset yang harus disimak orang-orang yang telah membolasaljukan kekeliruan kecilnya itu.

Judul : Thirteen Reasons Why
Pengarang : Jay Asher
Penerbit : Matahati
Jumlah Halaman : 287

Tahun : 2011
ISBN : 602962557 – 8
Format : Paperback
Dibaca : 2 April 2017
Rating : ★★★

“Peraturannya sangat mudah. Cuma ada dua. Pertama: Kalian mendengarkan. Kedua: Kalian mengedarkan. Semoga tak satu pun yang mudah bagi kalian.” (hal. 14)


Clay Jensen tidak akan pernah tahu kematian Hannah Baker begitu mempengaruhinya sampai ia mendapati paket misterius di teras rumahnya sepulang sekolah. Paket berisi tujuh kaset itu membuat Clay bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi pada gadis itu. Gadis yang sepertinya tidak memiliki masalah sama sekali. Gadis yang membuat dadanya berdegup kencang ketika berdekatan dengannya. Gadis yang disukainya. Pada akhirnya, Clay tahu kalau ia sudah amat terlambat untuk berkenalan lebih jauh dengan Hannah. Dan ia begitu marah dengan apa yang diceritakan Hannah pada kasetnya. Alasan-alasan yang sebenarnya tidak menjadi masalah besar bila saja tidak datang bertubi-tubi pada gadis itu. Alasan-alasan bak bola salju yang semakin bertambah besar dan membahayakan.

***


Seusai membaca ini, aku membatin: Oh, Hannah, kenapa kau begitu terburu-buru mengambil keputusan hanya karena ketiga belas alasan itu? Tapi kemudian pandanganku tentang Hannah yang begitu mudah mengambil keputusan sedikit teratasi dengan hal yang disampaikan oleh penulis pada sesi wawancara yang diselipkan pada akhir buku ini. Jay bilang bahwa alasan-alasan yang terdapat pada buku ini terinspirasi dari pengalaman istri dan rekan-rekannya semasa SMA ditambah pengalamannya sendiri. Setelah kupikirkan lagi, masalah-masalah yang menimpa Hannah yang kemudian menjadi alasan-alasan memang biasa terjadi di sekolah-sekolah menengah atas pada umumnya. Namun, yang menjadi penting adalah betapa masalah-masalah tersebut menimpa satu orang saja; semacam akumulasi. Hal ini mengubah pemikiranku bahwa hidup dengan begitu banyak masalah seperti yang menimpa Hannah lebih baik disudahi saja.

Pada sesi wawancara tersebut juga penulis mengatakan bahwa buku yang ditulisnya ini adalah novel suspense. Menurutku, buku berkarakter suspense akan membuat pembacanya buru-buru ingin menyelesaikan semuanya. Seperti ketika kamu berada di wahana roller coaster yang siap-siap meluncur menuruni rel, kamu akan melakukan segala hal agar kamu segera menyudahinya tetapi juga ada sensasi yang tak bisa dijabarkan. Ketegangan yang terjadi bukan hanya karena melihat hantu, bisa juga karena kamu berada pada detik-detik menjelang kecelakaan atau hal lainnya. Buku ini bisa dibilang kurang menonjolkan hal ini. Aku tahu bahwa aku merasa begitu ingin mengetahui apa saja alasan-alasan yang membuat Hannah melakukan hal itu. Tapi pada saat yang bersamaan, aku merasa sulit konsentrasi dengan gaya narasi yang dipilih penulis: dua narasi sudut pandang orang pertama pada waktu yang sama.

Bayangkan ketika kamu sedang mendengar musik yang merupakan lagu favoritmu menggunakan headset lalu tiba-tiba seorang teman menghampirimu dan mengajakmu mengobrol. Bagaimana kamu bisa fokus pada salah satunya? Pilihannya hanya ada dua: (1) kamu harus bicara jujur kepada temanmu bahwa kamu sedang tidak ingin diajak bicara atau (2) kamu mematikan perangkat yang memutar musik favoritmu itu. Tapi aku tidak memiliki pilihan semacam itu ketika membaca buku ini. Aku sedikit kesulitan mengikuti alurnya dan aku harus membelah imajinasiku pada omongan Hannah dan pada apa yang dirasakan Clay saat mendengar omongan Hannah. Walaupun mungkin, bagi sebagian orang ini adalah cara penyampaian cerita yang unik dan intens.

Thirteen Reasons Why (2017)


Terlepas dari itu, aku menyukai aura kuno yang dihadirkan pada buku ini. Diceritakan dengan latar masa kini namun terlihat vintage membuat ceritanya bak kisah klasik zaman 80-an yang baru. Aku mungkin akan menyimpan ke dalam memori adegan ketika Clay meminjam tanpa izin walkman milik Tony yang ia ambil di mobil jadul-nya, sebuah Mustang tua! Tentu Clay harus meminjam karena di rumahnya hanya ada stereo milik ayahnya yang tidak bisa dibawa ke mana-mana. Dan jangan lupakan kaset rekamannya! Terasa begitu kuno! Dan penulis mengakui bahwa semua kekunoan ini memang disengaja. Ia berharap dengan begitu maka buku ini akan bertahan lama. Pilihan yang tepat.

Tema yang begitu krusial tentang depresi dan bunuh diri yang dibawakan dengan cara berbeda juga membuat buku ini dikagumi. Terbukti hingga kini buku ini masih diminati, apalagi web series-nya baru saja dirilis beberapa waktu lalu oleh Netflix. Aku pun harus meminjam buku ini kepada teman sekaligus penerjemah buku ini. Ia mewanti-wanti untuk dijaga baik-baik dan dikembalikan segera setelah membacanya. Aku menurutinya karena memang versi terjemahannya sudah amat langka. Sebenarnya, dulu aku sempat punya. Entah jin dari mana yang menghasutku, aku memberikan buku ini sebagai kado kepada mantan calon pacarku kala kuliah dan aku sama sekali belum membacanya. Tahu buku ini begitu langka, aku sangat ingin memutar ulang waktu dan memberikan buku yang lain saja kepadanya.

Pada saat menulis ulasan ini, statusku adalah baru menonton satu dari tiga belas episode web series yang diproduseri oleh Selena Gomez. Aku sangat menyukainya dan merasa harus menuntaskan sisa episodenya. Kesukaanku juga karena episode pertama mirip dengan bukunya walaupun tidak sampai ke detail-detailnya. Dan, aku berharap tidak begitu melenceng dari bukunya walaupun banyak artikel yang menggangguku dan bilang web series-nya lebih baik ketimbang bukunya. Oh, itu sangat mengganggu! Dan bagi siapa saja yang sedang atau malah sudah menyelesaikan musim pertama web series-nya, aku harap juga membaca bukunya. Bila tidak mau membaca demi aku, bacalah demi Hannah atau demi si imut Clay. 

“Meski ada orang yang tampaknya tak acuh terhadap komentar kita atau tidak terlalu terpengaruh oleh suatu rumor, kita tidak mungkin tahu segala hal yang terjadi pada kehidupan orang lain itu, dan mungkin saja kita malah menambah rasa sakitnya. Orang-orang dapat menimbulkan dampak pada kehidupan orang lain, dan itu tak bisa disangkal.” (hal. 284)

Ulasan ini diikutsertakan dalam “Read and Review Challenge 2017” kategori Young Adult Literature.