Babak Baru: Jargon “Follow Your Passion” yang Salah Paham

Babak Baru: Jargon “Follow Your Passion” yang Salah Paham
Edited by Me

“Kok aku juga ikutan sedih. Gramedia x Abduraafi itu sebuah perpaduan yang klop sekali kelihatannya. Semoga karier barunya bisa membawa Aki ke mimpi-mimpinya ya. 😊”


Seorang teman mengirimkan pesan privat tersebut setelah aku mengepos foto nametag kantor lamaku sebagai tanda pengunduran diri di Instagram Story pada awal Maret lalu. Rintangan-rintangan kecil yang berubah jadi pilihan-pilihan sulit buatku memutuskan untuk pindah dari sebuah perusahaan di bawah naungan grup Kompas Gramedia. Sesungguhnya, pengunduran diri ini sudah kupikirkan sejak pertengahan 2019 lalu. Setelah Ruang pupus, aku seperti anak ayam yang kehilangan induk. Aku tanpa sadar angguk-angguk saja untuk pindah ke divisi lain. Walaupun kerjaannya tidak jauh-jauh dari menulis seputar buku bacaan dan mewawancarai penulis, tetap saja aku masih merasa Ruang-lah satu-satunya tempat pulang saat itu.

Tulisan ini kubuat untuk menjelaskan alasan utamaku pindah dari kerjaan yang “gue banget” ke perusahaan yang, bisa dibilang, “bukan gue banget”. Alasannya tidak jauh-jauh dari jargon “follow your passion” yang begitu riuh dielu-elukan dan diinginkan banyak orang. Hanya saja, jargon itu bagai pisau bermata dua; ia juga penuh tipu daya.

Babak Sebelumnya


Babak ini dimulai sekitar tahun 2012-2013. Saat itu, aku sedang kuliah jurusan Manajemen Informatika—jurusan yang tidak begitu kuinginkan dan terasa menyebalkan. Hari-hari berjalan monoton, tanpa gairah. Sebagai imbalan, aku diberi waktu luang yang tumpah-ruah. Aku ingat bisa selesaikan serial tv dalam waktu singkat seperti Breaking Bad dari musim pertama sampai terakhir, drama Korea The Queen’s Classroom, dan variety show Running Man. Di sela-sela itu, aku sembari mencari buku yang cocok untuk kubaca. Sebagaimana pepatah “read what you love until you love reading”, akhirnya aku menemukan bacaan yang kusuka. “The Lost Hero” karya Rick Riordan jadi pintu gerbang aku untuk gemar membaca terutama novel-novel bergenre fantasi.

(Penggemar Rick Riordan mungkin akan mengernyitkan dahi. Aku memang memulai seri The Heroes of Olympus terlebih dahulu dan membaca seri Percy Jackson and The Olympians belakangan. Harusnya memang sebaliknya, tapi aku tetap menyukai mereka!)

Pada saat itu, aku memutuskan bahwa membaca adalah hobiku—pelarianku dari rutinitas harian yang membosankan. Tapi tidak itu saja, aku juga bertekad untuk berkontribusi agar lebih banyak orang suka membaca entah bagaimana caranya. Aku menemukan passion-ku! Singkat cerita, dengan banyak lika-liku aku bisa mewujudkannya; dari membuat komunitas buku daring bersama teman-teman, menulis ulasan di Goodreads, menciptakan blog khusus buku, sampai bekerja di industri buku.

Aku merasa berada di puncak karier sesuai passion-ku saat menjadi editor untuk Ruang. Aku bisa bereksperimen dengan menulis sesuai topik-topik bahasan yang sedang populer, berdiskusi dengan kawan editor lain yang hebat-hebat, dan bertemu beberapa penulis untuk diwawancarai. Aku ingat penulis pertama yang kuwawancarai untuk Ruang adalah Lala Bohang. Pada masa itu, aku begitu bahagia.

Bersama Lala Bohang (Foto: Adhytia Putra)


Sementara itu, bagai pepatah semakin tinggi pohon semakin kencang angin, rintangan-rintangan mulai bermunculan. Mulai dari rasa enek melihat buku, jarangnya menulis di blog buku pribadi, sampai harus membuat reading border—sebuah batasan imajiner yang kubuat sendiri dengan begitu hati-hati untuk memisahkan antara bacaan untuk kerjaan dan bacaan untuk kesenangan pribadi. Apalagi adanya fakta Ruang bubar yang membuatku begitu kecewa. Aku dipindahkan untuk mengurusi blog Gramedia.com yang tujuannya sebagai media advertorial dan promosi alih-alih media jurnalistik. Yah, setidaknya aku masih bisa menulis tentang buku bacaan dan mewawancarai penulis. Namun pada saat yang sama, reading border-ku harus dipopok lebih tebal agar tetap waras.

Aku cari cara untuk bertahan dengan pekerjaan itu. Setelah kukulik, ada satu cara yang sekiranya tepat! Aku harus punya apa yang disebut dengan coping mechanism—sebuah strategi untuk mengatasi emosi dan stres yang sulit dikontrol. Aku pikir menciptakan reading border sudah cukup. Namun ternyata ada hal lain yang baru kusadari beberapa waktu lalu: membeli buku dan menimbunnya yang membuatku jadi lebih boros. Aku tulis cerita lengkapnya di laman Kompasiana ini.

Puncaknya, ada sebuah kejadian yang mengakibatkan reading border yang sudah kubuat hati-hati dan kupopok begitu tebal roboh. Aku tidak perlu menceritakan detailnya. Tapi sejak robohnya border itu, aku merasa muak dan tidak tahan lagi. Akhirnya aku menyimpulkan aku harus memilih di antara dua hal: “kerjaan tetap tapi ganti hobi” atau “hobi tetap tapi ganti kerjaan”. Sungguh, keduanya pilihan yang sulit. Setelah menimbang-nimbang beberapa lama dan masak-masak, aku memberanikan diri untuk pilih yang kedua. Hobi tetap tapi ganti kerjaan.

Jargon “Follow Your Passion” Bagaikan Pisau Bermata Dua


Seperti yang kubilang di awal, bekerja atau membanting tulang atau mencari uang atau apa pun itu istilahnya dengan mengikuti passion itu bagaikan pisau bermata dua. Bagi yang belum tahu maksud pepatahnya, itu secara sederhana berarti memiliki sisi positif dan negatif. Mereka yang bekerja mengikuti passion mungkin akan begitu passionate (menggebu-gebu) untuk mengerjakan apa pun kerjaannya. Namun, ada hal lain yang luput diantisipasi oleh mereka yang mengikuti passion-nyatermasuk aku. Biar aku buatkan contoh agar lebih jelas.

Edited by Me

Bayangkan kamu seorang yang hobi melukis lalu kamu memutuskan untuk menjual hasil lukisanmu sebagai medium cari uang. Kamu mungkin akan bahagia di awal karena itu adalah hal yang kamu senang lakukan dan akan terus melakukannya. Hanya saja, akan ada saat ketika kamu merasa bosan melakukannya. Hal itu terjadi terus-menurus selama berhari-hari bahkan bertahun-tahun dan menjadi rutinitas. Walaupun kamu memiliki jeda dan waktu luang, kamu tidak tahu lagi apa yang harus kamu lakukan karena hobimu sudah beralih fungsi dan tidak lagi menyenangkan. Pada titik itu, kamu berpikir harus melakukan hal lain alias mencari kesenangan lain alias mencari hobi lain agar kondisi jiwamu tetap terjaga.

Kamu akan bertanya, “Ah, masa segitunya sih?” Memang begitu. Kamu bisa memahaminya lewat utas Twitter ini. Pembuat utas, Fauzia Chang, mencuit pada twit pertama, “Kuselalu menyarankan agar kalian yang sudah menjadikan hobi kalian sebagai pekerjaan utama, bisa punya hobi lain buat coping stress.” Pada twit selanjutnya, ia menghubungkannya dengan kesehatan mental yang akan berpengaruh pada kesehatan fisik—yang mana penting sekali untuk diperhatikan. Walaupun konteks dari utas itu untuk para pekerja kreatif, aku pikir hal tersebut juga berlaku pada siapa saja yang bekerja sesuai passion-nya.

Bila kamu mencari di kolom pencarian daring “should I follow my passion”, ada banyak artikel yang malah mengajakmu untuk tidak mengikuti passion-mu terutama dalam konteks pekerjaan. Salah satu yang menjabarkan secara sederhana perihal topik ini adalah artikel dari 80000hours.org yang ditulis oleh direktur eksekutif media itu sendiri bernama Benjamin Todd. Todd menjelaskan bahwa jargon “follow your passion” banyak disalahpahami. Salah satunya adalah membatasi pilihan yang ada dan fokus pada satu hal saja. Ia lalu menjelaskan orang-orang passionate selalu mengembangkan passion mereka seiring dengan kesuksesan yang mereka raih, bukannya memulai bekerja sesuai passion sejak awal.

Dari Fauzia Chang dan Benjamin Todd, bisa disimpulkan bahwa jargon “follow your passion” harus dimaknai ulang. Mungkin passion itu bisa jadi modal awal memulai karier, tapi jangan menutup hal lain yang hadir di sekitar. Keterbukaan amat dibutuhkan agar jargon itu tidak jadi bumerang pada diri sendiri. Alih-alih mencari hobi baru, aku memilih untuk mengganti pekerjaan sehingga aku masih bisa melakukan hobiku secara maksimal. Entah itu merupakan sikap keterbukaan atau bukan. Yang kutahu pasti, hidup itu pilihan dan aku betul-betul harus memilih.

Babak Baru

Babak ini dimulai pada 2020. Aku resmi pindah kerja. Selain temanku yang berkomentar di atas, para mutual Instagram-ku yang lain pun bertanya ke mana aku pindah kantor. Biar aku jawab di sini: kantor baruku adalah perusahaan startup media kesehatan bernama Hello Sehat, dengan aku bertitel Daily Editor. Betul, aku memang banting setir ke bidang/industri lain. Walaupun aku tidak berpengalaman sama sekali dengan konten-konten kesehatan, aku merasa punya pengalaman yang cukup dalam editing baik itu naskah buku maupun artikel. Hal lain yang buatku memutuskan untuk pindah ke perusahaan ini adalah aku ingin memperdalam keterampilan Search Engine Optimization (SEO) yang saat ini masih berada di ambang standar.

Bersama Rintik Sedu (Foto: M. Fachrio Alhadar)


Di sisi lain, aku berharap tetap meluangkan waktu untuk membaca, menulis ulasan buku, dan bekerja sampingan lainnya yang berhubungan dengan buku. Di masa depan, aku pasti akan rindu untuk menulis artikel perihal buku bacaan dan mewawancarai penulis seperti Rintik Sedu. Tapi untuk saat ini, biarkan aku belajar lain hal dulu. Biarkan aku terkungkung dengan hal-hal baru sambil tetap mengerjakan apa yang aku suka tanpa batasan.

Bila ada yang bertanya apakah aku masih “follow my passion”, aku tanpa tedeng aling-aling akan menjawab, “Tentu saja!”

Sekadar informasi: “Aki” adalah sebutan lainku.

19 Comments

  • Avatar
  • Avatar
  • Avatar
  • Avatar
  • Avatar
  • Avatar
  • Avatar
  • Avatar
  • Avatar
  • Avatar
  • Avatar
  • Avatar
  • Avatar
  • Avatar
  • Avatar
  • Avatar
  • Avatar
  • Avatar
  • Avatar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *