Merefleksikan Cerita-Cerita Kaki Kuda

Merefleksikan Cerita-Cerita Kaki Kuda

Peristiwa global yang mencekam seperti pandemi sungguhlah bikin resah. Apalagi ini sudah berlangsung 17 bulan sejak Maret 2020 lalu dan sepertinya belum akan selesai dalam waktu dekat. Ini membuat kita menerima berbagai informasi yang mengejutkan dan terus-menerus. Di sisi lain, kita harus mencoba bertahan dalam situasi yang tidak ajeg. Sebagian dari kita butuh jurus yang jitu agar bisa melewatinya. Beberapanya mungkin melakukan refleksi atas apa yang terjadi selama pandemi dan saat berada #dirumahaja.

Kegiatan refleksi diperlukan agar seseorang dapat menilik dan menilai hal-hal yang dilakukan pada masa lalu dan mempersiapkan diri untuk masa depan. Ini menjadi penting pada masa-masa menggelisahkan seperti pada pandemi karena akan membuahkan rumus jurus jitu menghadapi pandemi. Kegiatan refleksi bisa dilakukan melalui berbagai pemicu: melihat berita di televisi, mendengarkan orang bercerita, atau membaca sebuah buku. Buku yang baru-baru ini kubaca dan secara tidak sengaja menjadi teman refleksi yaitu kumpulan cerita pendek Akutagawa Ryunosuke berjudul “Kaki Kuda dan Cerita Lain”.


Judul : Kaki Kuda dan Cerita Lain
Pengarang : Akutagawa Ryunosuke
Penerjemah : Armania Bawon Kresnamurti
Penerbit : Mai
Tahun : 2021
Dibaca : 22 Juli 2021

“Kaki Kuda dan Cerita Lain” adalah buku berisi enam kumpulan cerita karya sastrawan legendaris asal Jepang Akutagawa Ryunosuke. Buku ini menjadi karya terbitan ketiga dari Penerbit Mai yang memang khusus menerbitkan karya-karya penulis Jepang. Keenam kumpulan ceritanya yaitu “Rashomon”, “Hidung”, “Benang Laba-Laba”, “Kaki Kuda”, “Bubur Ubi”, dan “Dalam Semak Belukar”. Keenam cerita tersebut merujuk pada satu benang merah: keresahan-keresahan manusia.

Meski absurd dan rumit untuk dibayangkan, keresahan-keresahan yang timbul mengarah ke penyelesaian bisa dibilang sederhana sehingga mudah menjadi bahan refleksi. Pembaca diajak ikut resah dengan seorang samurai berkasta rendah yang mengambil pakaian seorang nenek tua. Resah muncul ketika sang Pendeta ingin memperbaiki hidungnya yang tidak normal. Atmosfer serupa juga hadir karena seorang pegawai laki-laki hidup kembali yang kakinya tergantikan dengan kaki kuda.

“Hati manusia selalu penuh paradoks. Mereka mudah berempati kepada penderitaan orang lain, tetapi juga kurang senang jika orang tersebut berhasil mengatasi penderitaannya dengan susah payah. Keberhasilan orang lain, entah bagaimana, secara diam-diam menimbulkan kedengkian dalam diri manusia.” (hlm. 37)

Meski keenam cerita pada “Kaki Kuda dan Cerita Lain” memberikan poin-poin refleksi, aku memilih tiga untuk kujabarkan bagaimana keresahan-keresahan yang dikreasikan oleh pengarang menghasilkan bahan refleksi. Berikut ketiganya.

Cerita “Rashomon” berpusat pada alur moral seorang samurai berkasta rendah disebut Genin yang awalnya tidak ingin berbuat jahat tapi berakhir merampok kimono (pakaian tradisional Jepang) seorang perempuan tua. Si Genin melakukannya setelah melihat si perempuan tua mencabuti rambut seorang mayat untuk bertahan hidup yang kelihatannya itu tindak jahat. Betapa perubahan moral si Genin terjadi setelah melihat perbuatan si perempuan tua membuatku teringat akan konfirmasi dan laku “ikut-ikutan” manusia. Meski pikiran melarang sebuah tindakan atas dasar moral, bila ada orang lain yang melakukannya lebih dulu, akan timbul rasa ingin melakukannya juga—apalagi jika situasi dan kondisinya sudah terhimpit.

“Hidung” menceritakan seorang pendeta yang resah karena memiliki hidung menjuntai sepanjang 15 sentimeter. Tentu ia merasa biasa-biasa saja sebelumnya hingga banyak orang tertawa cekikikan saat berpapasan dengannya. Ia akhirnya mengutus muridnya untuk mencari ilmu mengecilkan hidung hingga hidung sang pendeta berubah sewajarnya. Sayangnya, di akhir, sang pendeta tidak puas dengan hidung ‘normal’-nya. Keresahan sang pendeta begitu dekat. Ejekan selalu datang pada mereka yang dianggap tidak ‘normal’ oleh manusia pada umumnya. 

Cerpen “Kaki Kuda” lebih aneh lagi karena menampilkan seorang pria yang punya raga manusia tapi berkaki kuda karena kesalahan seorang dokter. Bagiku, sang pria yang sampai harus menyembunyikan kaki ‘berbeda’-nya dari istri dan orang-orang sekitarnya tersebut mencirikan tanggungan aib yang harus ditutupi. Ketidaknormalan tersebut membuat resah sang tokoh utama hingga ia mesti berhati-hati dalam setiap arah langkahnya. Cerita ini juga mengingatkan bahwa orang-orang dengan kekuasaan atau ilmu tinggi tidak serta-merta akan memberikan pengaruh positif. Malahan, merekalah pencipta penderitaan bagi orang-orang di bawahnya atau orang-orang yang mereka layani.

“Hanzaburo memasukkan rokok linting ke mulutnya dan menggeret korek api, wajahnya terjatuh di atas meja lalu ia meninggal seketika. Cara mati yang begitu mendadak. Untungnya, masyarakat tidak pernah meributkan cara orang meninggal. Cara orang hiduplah yang justru menuai omongan. Maka, Hanzaburo selamat dari omongan dan kritik orang-orang.” (hlm. 55)

Tiga cerpen sisanya pun sama meresahkannya. “Benang Laba-Laba” membuatku bertanya-tanya bagaimana rupa akhirat nanti. Haruskah aku juga memanjat tali yang merupakan benang laba-laba seperti si Pendosa untuk mencapai surga? “Bubur Ubi” menceritakan seseorang yang memimpikan bisa menikmati bubur ubi sepuasnya. Ketika tahu akan dipuaskan dengan apa yang diidamkannya, rasa cemas muncul karena ia merasa sudah tidak memiliki impian lain. Misteri pembunuhan seorang wanita pada cerpen “Dalam Semak Belukar” bahkan bikin frustrasi. Siapa pembunuh si wanita dan mana versi cerita yang benar dari tindak keji itu?

Selain tentang keresahan, sebetulnya cerita-cerita dalam buku ini memahami perspektif manusia. Contoh paling kentaranya ada pada “Rashomon” dan “Dalam Semak Belukar”. Dilihat dari luar, si Genin mungkin terlihat bejat moral karena berani mencuri yang lemah. Namun, dari sudut pandang si Genin, ia hanya ingin bertahan hidup dari cuaca dingin yang mematikan seperti apa yang dilakukan oleh si perempuan tua. “Dalam Semak Belukar”-lah yang menjabarkan perihal perspektif secara gamblang. Cerita ini dibuat dari berbagai sudut pandang dengan kronologi pembunuhan yang berbeda-beda. Jika aku yang menangani kasus ini, aku mungkin sudah angkat tangan.


Buku ini cuma 151 halaman—itupun ditambah halaman glosarium serta identitas penulis dan penerjemah—tapi terasa begitu penuh. Hasil terjemahannya yang apik membuat buku ini amat gampang dibaca, sehingga mudah untuk jadi bahan refleksi.

Cerita-cerita asal Jepang sepertinya selalu memberikan aftertaste yang aneh. Bila dibandingkan dengan cerita asal Barat yang kerap memberikan secara jelas hitam-putihnya (mana si baik, mana si jahat, dan bagaimana pembaca secar gamblang bisa mengambil pelajaran dari kisah itu), karya cerita Jepang terasa lebih rumit dan terkesan abu-abu. Pembaca perlu memutar otak untuk membuat kesimpulan perilaku si tokoh itu benar atau salah. Atau, mungkin ini sebetulnya sederhana: pembaca hanya perlu menikmati keanekaragaman perilaku dan nilai tiap-tiap individu.

“Ia selalu menjadi lelucon bagi banyak orang, bahkan bocah nakal di Kyoto mencaci-makinya dengan perkataan, ‘Apa kau! Dasar hidung merah!’, ia juga tampak menyedihkan dan kesepian dalam balutan kimono suikan pudar dan celana sashinuki, berseliweran di Jalan Raya Suzaku seperti anjing kampung gelandangan. Namun, pada saat bersamaan, ia juga melihat sosok dirinya yang bahagia; seorang diri memelihara mimpi menyantap bubur ubi sepuasnya.” (hlm. 122 - 123)

1 Comment

  • Avatar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *