Melongok Kisah Korok dalam Tahun Penuh Gulma

Melongok Kisah Korok dalam Tahun Penuh Gulma

“Bahwa orang bisa memilih apa yang dimakan atau digunakan, benar-benar tidak pernah terpikir olehnya.” (hlm. 89)

Sebelum berkunjung ke India tepatnya Desa Gondi yang menjadi latar utama buku ini, mari sejenak berkujung ke Desa Wadas, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Sebuah insiden terjadi di Desa Wadas yang melibatkan warga desa dan aparat kepolisian beberapa hari lalu. Insiden bermula saat warga desa, yang di barisan paling depan merupakan para ibu berpakaian merah-merah, melakukan aksi blokir jalan dengan cara duduk-duduk dan bersawalat. Mereka menghadang rombongan yang dikawal polisi dan TNI yang akan merangsek memasuki desa. Rencananya, mereka akan menggelar “sosialisasi pemasangan patok trase dan bidang tanah”. Perang urat tak terhindarkan dan bentrokan terjadi. Aparat kepolisian menarik beberapa orang, kebanyakan mahasiswa yang menemani para warga aksi. Gas air mata dilancarkan yang praktis membubarkan aksi. Aksi ini mungkin tidak akan pernah warga desa lakukan jika tanah mereka tidak akan dijadikan lokasi pertambangan batu andesit penyuplai material sebuah proyek bendungan.


Judul : Tahun Penuh Gulma
Pengarang : Siddhartha Sarma
Penerjemah : Barokah Ruziati
Penerbit : Marjin Kiri
Tahun : 2020
Dibaca : 18 April 2021

Masalah muncul saat Korok dan Anchita sedang mengitari bukit. Mereka sudah lumayan akrab. Dua dari sekelompok lelaki yang Korok terka sebagai orang pemerintah memalu selembar karton pada batang bertuliskan: Tanah Milik Pemerintah Odisha. Anchita yang kebingungan bertanya apa artinya kepada orang-orang itu. Mereka menyebutkan bahwa bukit dan wilayah sekitarnya memiliki bauksit (mineral bahan dasar aluminium) yang pemerintah akan menyewakannya kepada perusahaan besar. Kehadiran mereka saat itu adalah untuk survei. Mereka lalu melanjutkan, “Itu artinya perusahaan akan menggali bauksit dari bukit dan tempat manapun yang ada bauksitnya. Ya banyak yang akan dilakukan, mesin-mesin besar, banyak orang yang akan datang dan tinggal di sini. Desa-desa akan diminggirkan, jalan dibangun…” (hlm. 33)


Kalau saja memperhatikan lebih jeli gambar sampul “Tahun Penuh Gulma” karya Siddhartha Sarma ini, aku mungkin akan paham kalau buku ini ditujukan untuk pembaca belia. Corak gambarnya cenderung kartun-ish dan penuh warna; menampilkan sekelompok orang yang terdiri atas aparat polisi dan orang-orang berhelm proyek lengkap dengan mesin survei. Mereka berhadapan dengan dua siluet tangan dengan warna kulit berbeda—yang satu memakai gelang dan memegang alat tulis, sementara yang lain memegang ikat tali kambing.

Aku terkejut saat membuka halaman pertama buku ini yang memuat informasi lini Pustaka Mekar dari Penerbit Marjin Kiri. Lini tersebut memiliki target utama anak-anak dan remaja. Setelahnya, aku dibuat kebingungan. Bagaimana mungkin cerita tentang masalah desa, pemerintah, serta pertambangan ini diperuntukkan bagi pembaca belia?

Sudah barang tentu Korok dan Anchita-lah yang membuat buku ini dikategorikan sebagai bacaan untuk belia. Edisi aslinya yang berjudul “Year of Weeds” (2018) pun dirilis oleh penerbit anak-anak bernama Duckbill Books. Korok dan Anchita masih muda dan sepantaran. Selain canggung, interaksi kerduanya terasa lugu dan tak jarang bikin tergelak. Meski begitu, pembaca sudah disuguhi perbedaan kelas yang signifikan antara Korok dan Anchita—bisa dicirikan sejak awal cerita seperti Korok yang bekerja sebagai tukang kebun dan Anchita yang bersekolah.

Ibu Anchita dalam satu kesempatan bahkan mengungkapkan sebuah istilah yang amat mencirikan kelasnya yaitu noble savage. Itu maksudnya, kukutip dari buku, “Suatu keadaan ketika manusia modern yang tidak begitu bahagia dengan kehidupan yang mereka jalani percaya bahwa orang-orang seperti suku Gondi bisa dibilang sempurna atau lebih baik atau tak seberapa rumit.” Berkat Korok dan Anchita pulalah, isu yang menyerobok dalam “Tahun Penuh Gulma” dapat dipahami dengan lebih enteng.

buku tahun penuh gulma
Sampul “Tahun Penuh Gulma” versi asli tahun 2018

Hal-hal yang berserobok di desa Korok

Satu isu yang dicuatkan Siddhartha Sarma dalam kisah Korok adalah ketimpangan kelas. Secara praktis, ketimpangan (inequality) ditandai dengan adanya ketidaksetaraan dalam distribusi sumber daya dan kesempatan/peluang. Unsur tersebut tergambarkan pada hampir setiap bagian buku. Itu didukung oleh dua tokoh utama Korok dan Anchita yang secara bergantian membawakan cerita dari sudut pandang kelas masing-masing.

Satu bagian yang amat kentara mengedepankan isu ini yaitu ketika Anchita berkunjung ke rumah Korok. Badan Korok terluka sehabis dipukuli polisi akibat aksi turun ke jalan. Saat itu, Anchita terheran-heran dengan berbagai hal yang dianggapnya timpang: kandang kambing di dalam rumah, toilet yang tidak jadi satu dengan rumah, barang-barang palsu yang digunakan Korok. Alih-alih membingungkan, Sarma berhasil mengenalkan ketimpangan kepada pembaca melalui interaksi yang sederhana dan naif.

Sembari menjelaskan ketimpangan kelas, Sarma juga mengedepankan isu lain yakni power (daya, sesuatu yang kuat atau yang kuasa) yang secara brilian dianalogikan melalui tanaman gulma. Pada satu bagian, Korok yang sedang frustrasi akan nasib tanah leluhurnya sedang menyiangi kebunnya yang penuh tanaman gulma. Gulma harus dibasmi karena (1) akar mereka menyedot semua nutrisi yang seharusnya diperoleh tanaman dan (2) mereka merusak kualitas tanah.

Sebagai tukang kebun, Korok tahu gulma mana yang lemah dan mana yang kuat. Dengan frustrasi dan penuh rasa amarah, ia mencabuti gulma-gulma itu. Namun, meski satu kumpulan gulma sudah dibersihkan, lebih banyak lagi yang akan menggantikannya. Dari bagian cerita tersebut, bisakah kita mengasosiasikan tanaman gulma itu dengan pemerintah yang sedang menghadang kehidupan Korok dan warga desa?

Omong-omong soal power, ada satu tokoh yang tak bisa dilepaskan dari bahasan ini. Ialah Michel Foucault yang masyhur dengan teorinya yang menggebrak: “power is everywhere”. Menurutnya, power (yang selalu dihubungkan dengan knowledge) bisa diciptakan oleh siapa saja, power tidak berpusat alias menyebar, dan siapa saja bisa menjalankan power.

Sebagaimana gulma yang berjenis lemah dan kuat, power juga memiliki bermacam bentuk. Dan karena bentuknya yang bermacam-macam, power bisa saling berdampingan atau malah saling menimbulkan konflik. Penjelasan ini berhubungan erat dengan gagasan cemerlang yang nantinya muncul dari Korok untuk mengatasi masalah desa Deogan. Terlepas dari itu, Sarma begitu genius menganalogikan “menyingkirkan pemerintah (yang akan mengambil tanah) dari desa” dengan “membasmi tanaman gulma”.

Karya fiksi yang bisa ditelusuri

Selain mengenalkan isu inequality dan power, buku ini juga membangkitkan rasa “terganggu”, apalagi jika ditelusuri lebih lanjut. Suku Gondi betulan ada—merupakan salah satu kelompok suku terbesar di India. Bila ditilik di peta, desa Deogan pun ada—masuk dalam wilayah negara bagian Odisha. Jika berkenan mencari informasi seputar pertambangan bauksit di Odisha, hasil teratas mesin pencarian akan membawamu ke sebuah dokumen laporan kekayaan sumber daya bauksit milik pemerintah setempat.

Belum lagi hadirnya Kawanan Merah atau kelompok Maois yang dijadikan ‘kambing hitam’ untuk memperkeruh situasi—tentu saja kelompok itu betulan ada. Lalu, aksi warga yang tanahnya terancam dijadikan lokasi pertambangan atau pembangunan—itu amat sangat familier, bukan? Kesemua itu “mengganggu” mengingat buku ini konon disebut fiksi. Mungkin itulah poinnya: Sarma sengaja memfiksikan hal-hal yang sebenarnya nyata. Lagi pula, kalau tidak “terganggu”, bagaimana seseorang dapat memahami suatu hal dengan lebih saksama?

Pada awal cerita, aku berharap Anchita dan segala privilese kelasnya menjadi penyelamat situasi yang Korok alami. Namun, semakin ke belakang, buku ini semakin memperlihatkan perlunya sebuah power atau daya atau kekuatan. Uniknya, power bisa datang dari mana saja. Sebuah gagasan itu penting, tapi daya untuk menyampaikan gagasan tersebut lebih krusial.

Sebagian pembaca mungkin setuju bahwa Anchita membantu Korok, sebagian yang lain mungkin tidak. Yang jelas, Korok dan warga desa Deogan mengerahkan segala upaya agar tanah leluhur mereka tidak jatuh ke tangan liyan: pemerintah, pengusaha. Hal yang sama pun dilakukan oleh para warga di desa Wadas, Jawa Tengah. Hmmm… Sepertinya buku ini amat pas untuk dibaca anak/remaja yang bercita-cita menjadi aktivis.

“Korok memikirkan berbagai peristiwa sepanjang tahun lalu. Dia tahu banyak tentang gulma, dan tahu bahwa seperti halnya gulma, pemerintah dan Perusahaan, barangkali bahkan kelompok Maois, suatu hari nanti akan kembali. Mereka tidak pernah menyerah. Jadi suku Gondi harus berhati-hati. …” (hlm. 246)


Referensi lanjutan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *