Corpora Aliena dan Perasaan Terasing

Edited by Me

Suatu malam, seorang teman mengirimiku pesan dan menyatakan bahwa ia merasa asing dengan lingkungan sekitarnya. Ia bertanya-tanya apakah dirinya semakin tidak bisa bersosialisasi dengan orang lain—apakah dirinya kurang bisa berbaur. Aku coba menjelaskan kepadanya bahwa mungkin saja itu bukan terasing tetapi hanya merasa diabaikan. Lebih lanjut, ia pun menjelaskan bahwa ia merasa seperti itu hanya pada beberapa orang saja. Individu atau kelompok disebut terasing apabila mereka berbeda dari mayoritas kebanyakan dan karena perbedaan itulah mereka dijauhi. Yang menyebalkan, mayoritas tidak hanya menjauhi, bahkan bisa lebih ekstrem lagi seperti mengolok-olok bahkan menindas. Keterasingan ini bisa terjadi pada siapa saja—pun pada para tokoh yang diceritakan oleh Henny Triskaidekaman dalam kumpulan cerpennya berjudul “Corpora Aliena”.

Aku tidak akan menyalahkan temanku itu karena merasa terasing. Perasaan tersebut bisa hadir kapan saja—apalagi ketika merasa terabaikan dan kesepian. Mungkin saja ia ingin berteman dengan lebih banyak orang namun kurang mampu bersosialisasi sehingga kesulitan dan merasa terasing. Itu perasaan yang wajar dan bisa diatasi apabila kita melihat kondisi dan keadaannya secara lebih luas. Bahkan, orang yang lama terbaring koma di rumah sakit akan merasa terasing jika sudah jarang berinteraksi dengan orang lain. Aku melihat perasaan terasing mirip dengan kesepian. Namun, jika dijabarkan bentuk-bentuknya, perasaan terasing terlihat lebih kompleks dan berurusan dengan lingkungan sekitar.

Judul : Corpora Aliena
Pengarang : Henny Triskaidekaman
Penerbit: Nawalapatra
Tahun : 2017
Dibaca : 12 Desember 2017
Rating : ★★★★


Sudah beberapa waktu sejak terakhir kali membaca kumpulan cerita pendek dan, kala membaca “Corpora Aliena”, aku menikmati suguhan ceritanya bersama air rindu. Setelah dicek, terakhir kali membaca dan mengulas kumpulan cerita pendek adalah bulan Mei lalu. Sayangnya, hanya butuh waktu singkat untuk menyelesaikannya. Buku setebal 100 halaman lebih sedikit ini berisi empat cerita pendek yang masing-masing terpaut benang “keterasingan”. Latar yang sama semakin mempererat jalinan cerita satu sama lain. Selain karena rindu membaca cerita pendek, aku menikmati “Corpora Aliena” karena keunikan gaya bahasanya. Komponen-komponen ceritanya terlihat begitu kontemporer dengan istilah-istilah bioligis dan ilmiah namun dibawakan secara indah dengan diksi yang tidak biasa. Gaya bahasa “nyastra”, mungkin lebih tepat.

“Aku sudah asing sejak kulit tempat keluarnya rambut kepala hingga tumit yang menjejak bumi.” —Corpora Aliena, hlm. 11


Alasan kenapa aku membaca buku ini, selain karena tema keterasingan, juga karena sosok sang pengarang itu sendiri. Aku kenal dengan Henny Triskaidekaman sejak ia bergabung dengan Blogger Buku Indonesia. Aku yang jarang baca genre nonfiksi suka ulasan buku-buku nonfiksinya yang suka ia poskan dalam blog bukunya. Kami juga saling berteman di Facebook dan saling mengikuti di Twitter dan Instagram. Kami juga sempat bertemu beberapa kali, seperti pada Festival Pembaca Indonesia dan Indonesia International Book Fair. Ia pun mulai menyebarkan tautan karya tulis yang ia tayangkan di platform tulis-menulis Storial. Beberapa waktu lalu, ia meraih juara satu dalam kontes novel internasional yang diselenggarakan Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang (UNNES). Pada awal bulan ini, ia secara mandiri menerbitkan buku pertamanya dalam bentuk digital—yang sedang diulas sekarang ini.

“Kita tak seharusnya dipisahkan oleh tanda lebih dari atau kurang dari.” —Teratai untuk Bougenvil, hlm. 34

Cerita pertama adalah tentang seorang gadis yang terlahir dengan tak diinginkan. Tentu saja, gadis itu pun tak ingin ada. Hingga pada suatu titik, gadis itu merasa tak layak diterima di lingkungannya. Sayangnya, ia tetap harus melanjutkan hidupnya. Sang gadis yang terasing dalam cerita pendek “Corpora Aliena”. Pada sisi lain cerita, seorang wanita menyimpan masa lalunya di tubuhnya. Pria yang dicintainya dan janinnya akan selalu bersamanya di balik tato kelopak teratai yang merajah tubuh bagian depan wanita itu. Kini, di kehidupan berikutnya, kala bercumbu bersama suaminya, ia mengilas balik waktu perdananya bertemu dengan Jati dan bagaimana mereka begitu seiya-sekata sampai janin itu tiba. Janin yang tak akan pernah dikenali oleh wanita yang baru beberapa minggu mengandungnya. Ia bercerita dalam “Teratai untuk Bougenvil”.

“Belakangan, dengan sendirinya Bapak berhenti menuding Ibu. Semua karena tetangga justru balik menanyai Bapak perihal lesung pipit dan dagu belah yang melekat jelas pada wajahku, tetapi tidak ada di wajah Ibu maupun Bapak. Jadilah aku mulai percaya bahwa mungkin saja bapak kandungku bukan Bapak, melainkan seekor gurita yang tampan.” —Hikayat Homoctopus, hlm. 51


Tidak ada yang ingin ditakdirkan seperti seorang pria setengah gurita. Dengan tubuh normal seperti biasa dan tampan pula, ia begitu berbeda, begitu asing. Lengan kirinya biasa saja—memiliki telapak tangan berlima jari. Namun, bukannya bertulang dan berdaging, lengan kanannya adalah seonggok daging kenyal yang berkedut, berdenyut, dan berlapis lendir tipis dan kental di permukaan. Ia menuturkan kisahnya melalui “Hikayat Homoctopus”. Sebagai pemungkas, ada seorang ibu yang melahirkan anaknya tanpa berhubungan seksual dengan lawan jenis. Dan ketika besar, sang anak mempertanyakan jati dirinya. Siapakah ayahnya. Ke mana ia pergi. Dan kenapa namanya hanya satu huruf saja. Ibunya tentu memberikan penjelasan. Nama anaknya bisa merupakan singkatan dari perempuan, pinang yang terbelah dan prokreasi. Bisa juga partenogenesis. Ya, nama anaknya adalah “P.” Dan ini kisahnya.

***


Penyebab kehidupan terasing banyak jenisnya. Keempat kisah di atas juga memberikan gambarannya. “Corpora Aliena” merepresentasikan kisah terasing atas musabab sengaja diasingkan. Lingkungan pada cerita itu bersatu padu untuk mementahkan sang gadis. Keterasingan dalam “Teratai untuk Bougenvil” bisa terjadi karena sikap mental si wanita yang ingin terus bersama-sama dengan orang yang menurutnya penting. “Hikayat Homoctopus” sudah jelas menggambarkan keterasingan yang disebabkan oleh perbedaan. Siapa yang tidak merasa aneh dengan manusia berlengan tentakel? Kisah “P.” juga karena perbedaan yang memisahkannya dengan lingkungannya. Gadis itu hanya punya satu orang tua. Dan ia terlahir tanpa adanya hubungan seksual. Secara garis besar, buku ini sungguh kaya akan kisah-kisah tentang perasaan terasing.

Satu yang mengganjal: latar waktunya masih kurang terdeskripsikan. Hampir semua kisah di dalamnya itu memiliki rentang latar waktu yang cukup lama. Aku dibuat bingung ketika paragraf sebelumnya si tokoh masih bayi namun tiba-tiba di paragraf berikutnya sudah gadis. Terlepas dari itu, buku ini dapat menjadi pionir karya sastra-fiksi ilmiah lokal. Dan aku sungguh berharap buku ini ada versi cetaknya sehingga saya lebih mudah memamerkannya kepada dunia.

Oh ya, ada yang penasaran dengan nama pengarang? Apakah Triskaidekaman itu nama asli atau nama pena? Aku punya jawabannya.

“Pimpinan baru sudah dilantik bulan lalu. Parthenomaterna kini mereka larang keras. Alasannya naif saja: manusia hidup karena cinta, sehingga apa saja yang menghalanginya patut dibinasakan. Alhasil, semua pelaku dan produknya akan dikejar, dihukum mati.” —P., hlm. 80

Ulasan ini diikutsertakan dalam “Read and Review Challenge 2017” kategori Science-Fiction.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *