Dark Matter dan Obsesi Bahagia

Judul : Dark Matter
Pengarang : Blake Crouch
Penerbit: Noura Books

Tahun : 2017
Dibaca : 19 November 2017
Rating : ★★★★

“Bagaimana cara kamu menikmati hidup? Cara kamu berbahagia? Apakah dengan mengikuti orang lain yang tampak bahagia? Coba tanya pada lubuk hatimu yang paling dalam sekali lagi. Bahagia adalah tentang menerima apa yang kamu dapatkan. Setidaknya kamu bersyukur atas dirimu sendiri. Atas apa yang kamu punya.”


Kutipan di atas sempat kutulis dalam ulasan “Happiness” karya Fakhrisina Amalia. Namun, sekarang aku melihatnya begitu naif—begitu klise. Benarkah bahwa bahagia adalah hanya tentang berterima dan bersyukur? Tentu tidak. Bahagia yang seperti itu sepertinya berkonotasi pada mereka yang tidak bisa melakukan apa saja yang mereka ingin lakukan, juga bagi mereka yang tidak bisa mendapatkan apa saja yang mereka ingin dapatkan. Namun, bagaimana jika seseorang bisa melakukan dan mendapatkan segala yang ia ingin lakukan dan dapatkan? Tentu taraf bahagianya berbeda. Mungkin orang itu akan merasa bahagia jika ia bisa mencentang semua keinginan yang sudah dicapainya. Ada juga seseorang yang bahagia setelah melakukan hal berguna bagi orang lain. Bahagia itu relatif, tergantung bagaimana seseorang memaknainya.

Bahagia juga dipengaruhi oleh pilihan-pilihan yang diambil selama hidup. Keputusan yang diambil akan memberikan dampak apakah kita merasa bahagia dengan hidup yang dijalani atau malah sebaliknya. Lalu, pernahkah berpikir untuk mencoba jalani pilihan kehidupan yang tidak diambil? Mungkin saja kehidupan itu akan membuat kita lebih bahagia. Atau mungkin tidak. Karena kita tidak akan pernah tahu karena kita tidak akan mengulanginya lagi. Namun, bagaimana jika kemajuan teknologi membuatmu bisa memilih bagian hidupmu yang lain? “Dark Matter” menjelaskan hal ini.


***


Seseorang menodongkan pistol ke wajah Jason Dessen malam itu. Jason sedang berjalan pulang ke rumah ketika sesosok bayangan menghampirinya bersama pistol itu. Si penodong memaksa Jason berbalik, menyuruhnya berjalan ke sebuah SUV dan masuk ke kursi pengemudi. Jason menekan tombol starter, menyalakan navigasi, mengatur tujuan perjalanan, dan mulai meninggalkan kota—rumahnya, istrinya, dan anak laki-lakinya. Jason ketakutan. Siapa si penodong itu? Apa yang diinginkan orang itu? Kenapa harus dirinya yang dibawa? Ia tidak seharusnya memiliki musuh. Ia hanya orang biasa. Seorang ahli fisika atom dan profesor di kampus kecil. Ia menghormati mahasiswa-mahasiswanya dan akan melakukan apa pun agar mereka lulus kelasnya. Sambil terus bertanya-tanya tentang peluang siapa si penodong itu, rasa ketakutan semakin merenggut Jason. Pistol masih ditodongkan ke belakang kepalanya.

Mereka tiba di tujuan. Malam sudah pekat. Bangunan berbatu bata itu membentang dalam sorot lampu jauh SUV. Si penodong menanyakan kegiatan Jason sebelum hari itu dan apa yang akan dilakukannya esok hari. Jason diminta melucuti bajunya—semuanya sampai telanjang. Ia keluar dari mobil, masuk ke dalam bangunan. Menelusuri bangunan sesuai dengan apa yang dikatakan si penodong. Hingga mereka tiba di sebuah ruangan. Malam itu masih sunyi. Malam itu adalah malam yang akan menggiring Jason ke kebingungan-kebingunan berikutnya. Malam itu akan membawanya ke dunia yang berbeda.

***


Seusai menutup buku ini, aku dibawa berpikir tentang pilihan-pilihan hidup yang berkorelasi pada kebahagiaan. Pertanyaan-pertanyaan seperti pada paragraf kedua di atas langsung kulontarkan melalui Twitter. Tak dinyana, walaupun tak sebanyak selebtwit, banyak juga yang me-retweet dan menyukai twit itu. Ada juga yang menjawab bahwa ia pernah berpikir untuk mencoba jalani pilihan kehidupan yang tak diambilnya. Saat kutanya bagaimana cara mengatasi hal itu, jawabannya adalah berusaha hidup di saat ini dan belajar untuk bisa merasa bahagia. Mungkin itu perlakuan paling bijak bagi seorang manusia. Kita tidak bisa memilih ulang keputusan dan kembali ke masa lalu. Yang bisa dilakukan adalah menerima bersama bonus dampak dari keputusan yang sudah kita pilih itu.

Edited by Me

Bayangkan ini. Sebuah alat diciptakan agar kamu bisa berpindah dimensi. Bukan perpindahan ke suatu tempat baru seperti dunia ajaib Narnia atau Kota Zamrud tempat penyihir agung Oz tinggal. Perpindahan yang ini identik. Kamu akan berada persis di kota tempat tinggalmu namun bisa jadi orang-orang yang pernah kamu kenal dan kamu ingat di dimensi sebelumnya akan berbeda dengan dimensi yang ini. Perbedaan tersebut didasarkan pada pilihan-pilihan yang kamu ambil dalam hidup. Jadi, bila kamu diberi dua pilihan hidup dan kamu memilih yang pertama, pilihan hidup yang kedua akan membentuk dimensi lain akan dirimu. Dan bila keesokan harinya kamu diberi pilihan lain lagi, dimensi dari pilihan yang tak kamu pilih akan terbentuk. Begitu seterusnya sampai akan ada berjuta-juta dimensi yang terbentuk berdasarkan pilihan-pilihan hidup.

Dan begitulah dunia yang menimpa Jason. Ia dihadapkan pada dunia di dimensi lain di mana ia bukanlah dosen fisika biasa. melainkan genius terkenal yang telah melakukan hal-hal istimewa. Di sana istrinya bukanlah istrinya dan anaknya tak pernah terlahir sama sekali. Di dunia itu segalanya tampak sama, sekaligus berbeda. Hingga ini membuat Jason frustrasi, ia mencari tahu cara ia kembali ke dunia miliknya—tempat di mana istrinya adalah istrinya dan anaknya benar-benar terlahir. Ia menemukan sebuah kotak yang merupakan alat untuk berpindah-pindah dimensi. Alat yang dibuat oleh Jason lain yang hidup di dimensi ini. Lalu, dimulailah petualangan Jason berpindah-pindah dimensi dan menemukan dimensinya sendiri. Dari yang tadinya ia bersemangat, hingga ia merasa begitu kelelahan—begitu frustrasi.

Dark matter—materi gelap, begitulah judul buku ini. Dari sebuah situs, aku menemukan bahwa apa yang bisa kita lihat seperti bintang dan planet disebut regular matter (materi biasa) dan ilmuwan menyebutnya baryonic. Sedangkan ada hal-hal yang tidak bisa kita amati secara langsung dan terdiri dari sesuatu selain baryon. Hal itulah yang disebut dengan materi gelap. Singkatnya, materi gelap adalah non-baryonic yang hadir di alam semesta, karenanya kita tidak bisa menghitung berapa banyak baryonic yang ada di alam semesta. Dan teori inilah yang menurutku digunakan Crouch pada karyanya. Ia membuat non-baryonic seolah-olah adalah dimensi-dimensi lain diri kita bersama pilihan-pilihan yang tidak kita ambil. Brilian, bukan?

Betapa membahagiakan jika kita bisa memilih kehidupan yang kita inginkan dengan menggunakan sebuah alat. Kita bisa menuju dimensi sempurna itu lalu melihat atau mungkin menggantikan diri kita yang ada di dimensi itu. Kita bisa secara licik mencari kebahagiaan hakiki kita sendiri. Namun, tentu saja hidup tidak seperti itu. Seperti yang terbetik dalam percakapan ini.

“Di setiap momen, setiap embusan napas, terdapat sebuah pilihan. Tapi, hidup itu tidak sempurna. Kita membuat pilihan-pilihan yang salah. Jadi, akhirnya kita hidup dalam penyesalan abadi, dan apakah ada hal lain yang lebih buruk dari itu?”

“Hidup tidak berjalan seperti itu. Kau hidup dengan pilihan-pilihanmu dan mempelajari sesuatu dari itu.”

Ulasan ini diikutsertakan dalam “Read and Review Challenge 2017” kategori Thriller and Crime Fiction.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *