Karena Aku Sayang Kamu, Bebi

Haruskah aku mulai dengan kata-kata? Baiklah. Untuk memeriahkan ulang tahun BBI dan Bebi-ku tercinta, aku (baca: member BBI) dimohon untuk posting bareng tentang perubahan yang dicapai setelah bergabung dengan BBI. Aku akan bercerita lebih ke pengalaman. Bukankah pengalaman adalah awal perubahan? Merdeka!

Aku bergabung bersama BBI sejak Mei tahun lalu. Yap, belum satu tahun, belum lama. Tapi banyak pengalaman berharga yang terjadi semenjak itu. Kalian tahu, BBI seperti komunitas eksekutif. Bagaimana tidak? Semua membernya punya hak-hak istimewa seperti diundang untuk mengikuti acara-acara yang berhubungan dengan buku, mendapat buntelan dari penerbit, dan lain-lain.

Setelah bergabung beberapa bulan, pertengahan September, aku mewakili BBI untuk memenuhi undangan acara “Mizan Digital Initiatives”. Saat itu benar-benar berkesan, tentu saja. Selain bertemu dengan petinggi-petinggi Mizan, aku baru pertama kali itu duduk di kursi bermeja bundar, seperti meja-meja bundar di Indonesia Lawyers Club itu. Kalian pasti tahu.
Setelah itu, aku diangkat—anggap saja begitu—menjadi anggota Divisi Humas BBI di bawah pimpinan Truly Rudiono. Entah alasan apa yang membuatku begitu saja duduk di jajaran pengurus. Mungkin karena “urgently required” untuk posisi tersebut. Atau mungkin komentar Koordinator Umum BBI, Helvry Sinaga, pada postingan ini sudah mengabsahkan. Ajaib sekali seorang petinggi itu. Tidak ada penyaringan, tidak ada pengesahan. All gone with the wind
***
Pengalaman lainnya, yang lagi-lagi berkesan, aku ditunjuk sebagai Koordinator BBI pada Indonesia Reading Festival, Desember lalu. Aku? Koordinator? Lagi-lagi Bang Helvry yang memutuskan. Ingat, dialah sang petinggi di sini. Jadi aku manut saja. Dan aku mulai berpusing-ria dari sebulan sebelum acara.

Aku harus bolak-balik meeting dengan teman-teman untuk memikirkan acara apa yang akan digelar. Aku harus menghubungi beberapa sponsor dan bermanis-manis untuk mendapatkan modal acara. Aku harus datang lebih awal bersama teman-teman untuk mengatur lokasi. Dan aku harus mengurusi dua booth sekaligus karena komunitas-tercintaku-yang-lain, PNFI juga ikut serta.

Pada akhirnya, aku merasa keren karena acara terselenggara dengan baik. Aku merasa keren kuadrat karena aku bertemu dengan teman-teman member BBI yang juga keren-keren membantu tanpa pamrih. Yah, pamrihnya cuma nasi kotak ayam goreng KFC. Walaupun ada tragedi kehilangan gadget milik teman-teman. Salah satunya laptop milik Bang Helvry.

the moment with. whatta good one. cc: @BBI_2011 pic.twitter.com/FCSWDhggLn
— Abduraafi Andrian (@raafian) December 7, 2014

Tebak, aku yang mana?

***

Lalu awal Januari tahun ini, aku tidak sengaja terpilih—atau dipilih ya—untuk melakukan wawancara dengan Bebi, kekasihku. Sebentar, aku tegaskan di sini bahwa aku yang diwawancara, bukan aku yang mewawancara. Tolong bedakan.
Aku ditanyai tentang kehidupanku, komunitasku, pendapatku tentang BBI, dan lainnya yang bisa kalian cari tahu di sini. Bebi sungguh kepo. Tapi kenapa aku menjawab semua pertanyaannya? Kerena aku sayang kamu, Bebi.
Pengalaman apa lagi ya? Hmmm… Aku jadi lebih sering menulis, awalnya karena tuntutan atas tekad mengulas setiap buku yang kubaca. Selanjutnya, aku lebih bisa sepenuh hati untuk menulis. Termasuk postingan ini, yang kutulis sepenuh hati hanya untukmu, oh, Bebi-ku. Yeah.

***

Akhir kata, aku bangga bergabung dengan BBI dan menjadi kekasih Bebi. Kami (aku dan Bebi) akan segera menyelenggarakan akad pada hari yang masih belum kami tentukan. Tapi kami yakin, kami akan melakukan itu; akan bahagia selama-lamanya.

Selamat ulang tahun BBI yang ke-4! Keep moving forward! (Kalimat terakhir disarikan dari film di bawah ini.)

Meet The Robinsons (2007)

9 Comments

  • Avatar
  • Avatar
  • Avatar
  • Avatar
  • Avatar
  • Avatar
  • Avatar
  • Avatar
  • Avatar

Leave a Reply

Your email address will not be published.