Kedai 100X Mimpi: Kisah 1001 Malam yang Gagal

Edited by Me


Apa yang kamu ketahui tentang “Kisah 1001 Mimpi”? Aladdin, Sindbad, dan Abu Nawas, adalah beberapa kisah populer di dalamnya. Cerita yang entah siapa pengarangnya ini berasal dari Timur Tengah dengan satu cerita besar yang memiliki cabang cerita-cerita kecil. Lalu, kenapa aku membahas “Kisah 1001 Malam”? Karena judul inilah yang xjadi inspirasi Valiant Budi—yang kemudian mari sebut saja dia Vabyo—untuk dua bukunya yang terkenal itu, “Kedai 1001 Mimpi” dan “Kedai 1002 Mimpi”. Setelah membaca “Forgotten Colors”, aku berniat untuk mengangkat sosok Vabyo di Jurnal Ruang. Karena masih kurang materi pembahasan, aku memaksa diri untuk baca dua buku itu. Tak dinyana, aku menikmatinya.

Aku sebut “memaksa diri” di atas karena aku memang tidak begitu menggemari buku nonfiksi—seperti yang kuceritakan di sini. Namun, membaca dua karya Vabyo ini seperti sedang menikmati kisah yang dibuat-buat. Bagai dongeng. Banyak hal yang tak terduga sampai bertanya-tanya apa yang dituliskan pada buku ini benar-benar terjadi. Penuh kejutan—terutama tentang bagaimana bervariasinya orang-orang pribumi—maksudnya, penduduk asli—yang ditemui Vabyo di tempat kerjanya. Aku ragu Vabyo akan bisa menceritakan sebanyak ini kalau tidak bekerja di tempat itu dan sebagai posisi itu.

Berlatar Dammam, Arab Saudi, Vabyo bekerja sebagai pelayan sebuah kedai kopi franchise asal Amerika Serikat. Dengan anggapan pekerjaan itu tidak bikin kelelahan sehingga bisa bervakansi ke wilayah lain Timur Tengah, Vabyo menerima tawaran bekerja di sana. Tiba di kedai kopi menggunakan kaos hitam berkerah lalu diminta bersihkan kafe, resmilah Vabyo menjadi seorang pahlawan devisa atau Tenaga Kerja Indonesia. Hari-hari berganti, keseruan-keseruan (maaf, Vabyo, mungkin ini terlalu kasar bagimu, tapi aku melihatnya sebagai keseruan) bergulir di kedai kopi tempatnya kerja. Dan berbulan-bulan kemudian, Vabyo pulang ke Indonesia. Ia menuliskan catatan-catatannya selama di Dammam dan menerbitkan “Kedai 1001 Mimpi”.

Sekitar tiga tahun setelah terbitnya “Kedai 1001 Mimpi”, tepatnya pada 2014, Vabyo menerbitkan “Kedai 1002 Mimpi”. Apa? Kenapa? Apa Vabyo ke kembali ke Dammam dan menceritakan kisah lainnya dari sana? Tentu tidak! Yang kedua ini lebih menceritakan pada retrospektif (hah?) Vabyo pasca kepulangannya dari Arab Saudi dan terbitnya “Kedai 1001 Mimpi”. Begini, orang kita itu terlalu baik. Saking baiknya, orang kita ikut memikirkan permasalahan kita. Mereka bakal memberi pendapat dan nasihat. Sayangnya, ketika kita tidak menuruti mereka dan ketika mereka tidak percaya dengan apa yang kita paparkan, mereka akan menuduh kita yang tidak-tidak. Lebih jauh, orang kita akan menyerang kita dan memaksakan kehendak mereka terhadap kita. Hematnya, Vabyo menceritakan itu di “Kedai 1002 Mimpi”. (Tapi, siapa itu ‘orang kita’? Jawabnya ada di dalam benak masing-masing.)

Jadi, sebenarnya, keduanya buku berseri kan? Ya, menurutku begitu. Maka, mari sebut seri ini “Kedai 100X Mimpi” dengan anggapan huruf X adalah pengganti angka 1 dan 2. Mungkin setelah ini akan ada 1003, 1004, atau 1005 sehingga tak perlu repot mencari nama seri ini. Tapi aku ragu seri ini akan sampai pada angka 1010, maka tetap 100X saja. Dan inilah masing-masing ulasan “Kedai 1001 Mimpi” dan “Kedai 1002 Mimpi”.

Judul : Kedai 1001 Mimpi
Pengarang : Valiant Budi
Penerbit: GagasMedia

Tahun : 2011
Dibaca : 12 November 2017
Rating : ★★★

“Menjadi seorang turis dan seorang pekerja di negara asing akan beda sensasinya, bersiaplah.” (hlm. 6)


Di Indonesia, ketika beberapa kali menuju Puncak, Bogor, aku melewati wilayah yang plang-plang rumah makan dan penginapannya bertuliskan Arab gundul. Singkatnya, daerah yang terkenal dengan nama Warung Kaleng atau kampung Arab itu adalah permukiman para turis dari Timur Tengah sejak 1991 dan menjadi lokasi wisata idaman mereka. Di Dammam, Vabyo tak sengaja berbincang dengan om-om gundul pelanggan kedai kopinya yang secara terang-terangan menceritakan hobinya kawin wisata di Puncak, Bogor. Vabyo yang hampir naik pitam berkata kepada pelanggan bejat itu, “Dengan segala hormat. Bisa anda bayangkan, puluhan juta jiwa warga negara Indonesia datang ke Saudi untuk mensucikan hati. Dan anda datang ke Indonesia cuma buat menganiaya para wanita kami?!”

Yah, itu baru satu pelanggan dalam “Kedai 1001 Mimpi” yang diceritakan Vabyo. Yang lainnya? Ada yang marah-marah untuk tetap di dalam kedai ketika azan salat berkumandang (yang peraturannya tidak boleh), ada yang mengejar-ngejar Vabyo sampai ia bersembunyi di dalam masjid, bahkan ada yang memamerkan penis hitam besar gelapnya. Luar biasa. Aku sampai kelelahan membacanya. Banyak lainnya, perangai-perangai orang sana yang begitu menakjubkan—dalam arti negatif. Aku bertanya-tanya bagaimana Vabyo bisa tahan beberapa bulan di sana tanpa gila. Lebay? Tidak, perbedaan kultur dan kebiasaan orang sana sungguh bikin frustrasi. Bahkan bagiku yang ‘cuma’ membaca tanpa merasakannya secara langsung. Inilah satu keunggulan “Kedai 1001 Mimpi”: mengungkap kebiasaan-kebiasaan aneh orang yang tinggal di Arab Saudi.

Oh ya, Vabyo kan ingin keliling Timur Tengah? Jadi, nggak tuh? Jadwal kerja Vabyo begitu rapat. Pagi berangkat kerja, malamnya pulang dan kelelahan. Hal itu hampir terjadi setiap hari yang bikin Vabyo harus berlapang dada menerima kenyataan dan memupuskan harapannya. Untungnya, ia bertemu dengan TKI lain di sana. Seiring waktu, Vabyo memiliki geng TKI-nya sendiri bersama Teh Yuti, Mas Blitar, dan Bambang. Dari merekalah Vabyo menerima banyak kisah-kisah ajaib TKI, baik yang seru maupun yang bikin pilu. Dari TKW yang sering menjadi korban pelecehan para majikannya sampai TKI yang senang dibayar memuaskan sesama jenis. Dan memang, ujung-ujungnya segala hal tidak jauh dari masalah di bawah perut. Betapa aneh. Betapa ajaib.

Terlepas dari hal aneh dan ajaib di atas, buku ini hanya tentang Vabyo dan bagaimana ia menghadapi hari-harinya. Nah, lama-kelamaan aku merasa bosan karena bentuk cerita sehari-hari bagai buku diary. Sempat terlintas pikiran, “Ngapain ya gue baca beginian?” Untungnya, aku bisa menyelesaikannya—walau dengan usaha lebih. Yah, setidaknya aku mendapat informasi yang tidak bisa kudapat dari bahan literasi lain. Dan, setidaknya, aku bisa siap-siap menolak bila ada tawaran pekerjaan di Arab Saudi (mana ada?). Dan, untungnya lagi, buku ini ditutup dengan kata-kata pengingat dari Nabi Muhammad SAW. yang bikin adem.

“All mankind is from Adam and Eve, an Arab has no superiority over a non-Arab nor a non-Arab has any superiority over an Arab; also a white has no superiority over black nor a black has any superiority over white except by piety and good action.”


Oh ya, karena bekerja sebagai pelayan di kedai kopi, Vabyo juga memberikan informasi tentang kopi yang mungkin berguna bagi penggemar kopi. Sayangnya, bukan aku. Tapi, aku masih takjub dengan teknologi bluetooth yang digunakan orang sana untuk “cari mangsa”.

Judul : Kedai 1002 Mimpi
Pengarang : Valiant Budi
Penerbit: GagasMedia

Tahun : 2014
Dibaca : 20 November 2017
Rating : ★★★

“Aku jadi tidak bisa membedakan mana kebencian dari pengancam atau kejahatan acak orang biasa. Dan aku bergidik. Ternyata, diam-diam aku sudah memberikan derajat khusus untuk sang pengancam sebagai orang yang jahat istimewa. Bah!” (hlm. 111)


Berbeda “Kedai 1001 Mimpi”, berbeda pula “Kedai 1002 Mimpi”. Yang satu ini lebih mirip tulisan kontemplatif Vabyo atas apa yang sudah dilakukannya sebagai TKI dan sebagai penulis. Dan keinginan Vabyo untuk menulis buku traveling sepertinya diijabah melalui buku ini. Selain bercerita tentang kehidupannya setelah menjadi TKI di Arab Saudi, Vabyo juga bercerita tentang perjalanannya ke Ubud bersama sahabatnya Windy, Italia dan Prancis yang berujung reuni bersama Teh Yuti, dan Inggris sebagai pemungkas yang manis.

Buku ini menitikberatkan pada dampak yang diterima Vabyo setelah balik ke indonesia dan merilis Kedai 1002 Mimpi. Bagaimana Vabyo mengurusi warung kopinya, disambung-sambungkan dengan hal-hal klenik tentang persaingan bisnis kuliner yang membuatku terkaget-kaget. Segitu sengitnya ya?! Bagaimana Vabyo mengalami mimpi-mimpi buruk sampai diteror sampai dia harus melapor kepada polisi dan meminum pil penenang karena sudah terlalu gerah. Begitu keterlaluan orang-orang itu! Dan diakhiri dengan bagaimana Vabyo mengobati rasa traumanya dengan jalan-jalan dan bermeditasi.

Buku ini juga (masih) menjabarkan kisah pilu TKI, dari penggutingan bibir sampai sampai dijatuhi hukuman pancung di Arab Saudi. Juga kisah pilu pesepakbola asing yang meninggal di Indonesia, Diego Mindieta.

Syukurlah Vabyo tidak menceritakan rutinitas hariannya pada buku ini sehingga membuatku lebih nyaman membacanya. Saltik buku ini juga tidak seberceceran buku sebelumnya. Dan ukuran hurufnya juga lebih besar. Hanya saja, aku tidak terlalu suka tambahan tulisan yang diselipkan di akhir buku. Bahkan aku melompati bonus artikel “Ngendon di London” yang mungkin akan kubaca ketika benar-benar perlu. Terlepas dari itu semua, satu hal yang kusayangkan: aku terlalu terlambat menikmati euforia seri “Kedai 100X Mimpi” mengingat itu terjadi bertahun-tahun lalu. Tapi, anehnya, apa yang dituturkan seri “Kedai 100X Mimpi” masih relevan hingga saat ini. Seperti kutipan yang termaktub dalam “Kedai 1002 Mimpi” berikut.

“Beberapa orang memilih menu tambahan pada paket kehidupannya. Berbagai prasangka yang menjelma sebuah keyakinan memang membuat apa pun yang terlihat sesuai persangkaan.” (hlm. 323)


Rujukan:
Bagaimana Cisarua Jadi Magnet Pelancong Arab dan Pengungsi? – Tirto 

Mengintip [Buku] Kedai 1001 Mimpi – Kompasiana

Ulasan ini diikutsertakan dalam “Read and Review Challenge 2017” kategori Asian Literature.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *