Kisah Masa Depan Illuminae + Blog Tour

Edited by Me

Pertanyaan pembuka: Siapa yang menghadiri Instagram Live #SpringDibajakPenulis bersama Jay Kristoff semalam?

Beruntung karena Instagram memberikan periode waktu untuk menyimpan rekaman video di Instagram Story sehingga aku bisa menonton ulangannya (karena ada hal yang harus kulakukan, aku tidak bisa menontonnya secara langsung). Jay Kristoff adalah satu dari dua penulis seri Illuminae Files yang buku pertamanya baru saja diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh Penerbit Spring. Bertato, berbrewok, dan sedap dipandang; tiga deskripsi Jay saat melihatnya di layar. Kemarin pagi, aku menyelesaikan seri terbaru Netflix, “The End of the F***ing World” (tontonan yang bagus dan menyegarkan terutama bagi remaja). Tokoh gadisnya bernama Alyssa. Ia punya ayah kandung bernama Leslie. Nah, Jay mengingatkanku pada Leslie. Kurasa, sepintas, mereka mirip. Jadi, kalau kamu punya waktu sekitar 2 jam 50 menit, tontonlah seri itu. Namun, sebelum itu, coba sisihkan waktumu untuk menyelesaikan ulasan ini. Sisihkan juga uang jajanmu untuk “Illuminae”. Alasannya, akan kujabarkan di bawah ini.

Sepertinya semua orang yang membaca “Illuminae” akan membicarakan bagaimana kisah di dalamnya tersaji. Menurutku, bukunya aneh. Jay pun mengakuinya pada #SpringDibajakPenulis semalam. Begini: Bayangkan kamu harus membaca diktat. Kalau terlalu berat, bayangkan kamu murid Sekolah Dasar dan diminta untuk membuat kliping. Apa kira-kira isi? Berbagai macam artikel berisi laporan berdasarkan fakta yang mungkin berpadu dengan beberapa penggalan wawancara dan gambar-gambar pendukung. “Illuminae” kurang-lebih seperti itu. Bedanya, buku ini seutuhnya fiksi dengan latar waktu sekitar 500 tahun mendatang. Wow. Apakah bentuk tulisan seperti ini adalah gaya baru? Tidak, bentuk “Illuminae” bisa disebut epistolary atau teknik penulisan menggunakan kumpulan dokumen atau surat yang berurutan. Konon, teknik seperti ini sudah ada sejak abad ke-18. There’s nothing new under the sun, pal.

Judul : Illuminae
(The Illuminae Files #1)
Pengarang : Amie Kaufman dan Jay Kristoff
Penerbit: Spring

Tahun : 2017
Dibaca : 21 Januari 2018
Rating : ★★★


Pada suatu ketika di masa depan, di sebuah planet kecil, sepasang kekasih sedang beradu argumen dan berujung dengan putus hubungan. Namun, putusnya mereka tidak benar-benar ujung karena beberapa jam setelah itu kekacauan terjadi. Pesawat tempur BeiTech menyerang planet nan damai mereka. Takdir membawa dua sejoli yang sudah jadi mantan bernama Ezra Mason dan Kady Grant untuk menyelamatkan diri bersama-sama. Ezra menumpang truk Kady menuju tempat teraman sekaligus mencari orang tua mereka. Sayang beribu sayang, mereka tidak menemukan orang tua masing-masing. Planet mereka kacau-balau. Tempat paling aman satu-satunya bagi penghuni planet Kerenza IV adalah pesawat penyelamat. Satu dan beberapa detail berikutnya Ezra dan Kady selamat dan terdampar di pesawat penyelamat. Apakah ini sudah berakhir?

Tentu tidak. Ezra dan Kady berada di pesawat penyelamat berbeda. Alexander, pesawat induk kelas berat yang digunakan untuk tempur membawa Ezra. Sedangkan Kady berada di pesawat eksplorasi ilmiah jarak jauh bernama Hypatia. Kondisi psikisnya begini: Keduanya baru saja mendapatkan insiden planet tempat tinggal mereka diserang, tidak tahu orang tua atau anggota keluarga lainnya selamat atau tidak, dan—karena masih muda—diminta untuk membantu keberlangsungan hidup di pesawat itu dengan mengikuti Wajib Militer. Satu lagi, BeiTech mengejar mereka. Dari situ, mulailah keseruan-keseruan dalam “Illuminae”.

***


Bisa dibilang, euforia terbitnya “Illuminae” versi bahasa Indonesia sudah menyemarak sejak Mei tahun lalu ketika penerbit memberikan informasi proses penerjemahan di Instagram @katalogspring. Ada lebih dari 410 likes dan 150 komentar pada unggahan itu. Paling fantastis dari semua gambar yang diunggah di akun tersebut. Kurasa itu cukup menjelaskan betapa buku ini diminati dan ditunggu-tunggu oleh pembaca di Indonesia. Salah satunya aku tentu saja. Ironisnya, saat periode pemesanan, sebagian diriku mewanti-wanti ada prioritas yang memerlukan alokasi dana walaupun sebagian diriku yang lain hanya bisa meratapi dan melongo. Ketika penerbit membuka pencarian blogger untuk mengadakan blog tour dan giveaway buku ini, seluruh bagian diriku menyatu untuk segera mengirimkan surel penawaran diri. Setelah itu, singkatnya, penerbit menghubungiku dan, viola, di sinilah kalian: pemberhentian terakhir blog tour “Illuminae” karya Amie Kaufman dan Jay Kristoff.

Secara garis besar tema kehidupan masa depan bisa amat begitu khayali dan rentan. Kita bisa mereka-reka apa saja yang akan terjadi pada 500 tahun setelah ini. Begitupun dengan Amie dan Jay. Mereka mereka-reka melalui Ezra dan Kady dan kehidupan dengan teknologi yang sudah kelewat canggih sehingga (1) manusia bisa hidup di planet mana saja dan (2) manusia dengan mudah bertransportasi dari satu situs planet ke situs planet lainnya bagai orang Indonesia naik pesawat ke Amerika Serikat. Namun, apakah itu benar-benar terjadi di masa depan? Siapa yang tahu kecuali mereka yang punya mesin waktu—itupun kalau ada? Lantas, bayangkan bagaimana menurutmu kehidupan masa depan itu dan itu cukup bisa diterima. Mungkin hanya ada satu syarat: ilmu pengetahuan dan teknologi yang maju pesat. Nah, begitulah bagaimana buku ini terlihat bagiku—sama seperti buku-buku dengan tema masa depan lainnya.

Celakanya, hal itu malah membuatku ingat pada “H2O Reborn” karya Sweta Kartika. Kemiripan keduanya sama: tentang teknologi masa depan, tentang Artificial Intellegence yang berdampingan dengan kehidupan “makhluk berdaging” alias manusia, dan konflik-konflik yang tercetus di antara keduanya. Kamu bisa baca betapa histerisnya aku pada komik lokal berseri yang akan ada pertunjukan teaternya ini di sini.

Aku bilang di atas bahwa buku ini aneh. Aneh cenderung unik. Buku bentuk ini amat jarang, mungkin karena memiliki tingkat kesulitan tinggi dalam proses kreatifnya. Aku berpikir tentang ideasi bentuk-bentuk yang akan disajikan dalam epistolary masa depan ini. Betapa Amie dan Jay mungkin butuh bergelas-gelas kopi untuk berdiskusi akan hal itu. Untungnya keduanya sama-sama berdomisili di Australia sehingga tidak perlu jauh-jauh untuk saling bertemu. Dari surat-surat, percakapan instant messaging, ringkasan rekaman, hingga gambar konsep pesawat ruang angkasa—aku pikir itu harus diapresiasi. Betapa briliannya karya ini. Namun, aku sedikit kesulitan di awal. Membaca buku dengan teknik penulisan seperti itu butuh adaptasi. Untungnya, semakin terbiasa, semakin aku menikmati kisahnya. Ditambah dengan perubahan plot menyebalkan di dalamnya. Sungguh, aku tak sanggup.

“Bagian dari menjadi hidup adalah mengalami perubahan yang disebabkan oleh kehidupan. Oleh orang-orang di sekitar kita, oleh kejadian-kejadian yang kita alami, semua itu membentuk kita.” (hlm. 461)


Sayangnya, buku ini tidak sempurna. Teknik penulisan seperti ini harus diperhatikan betul-betul. Tidak hanya saltik dalam teksnya saja, tetapi juga detail-detail yang amat krusial. Dalam catatanku, ada saltik keterangan bulan di bagian depan, kesalahan pemberian garis di tengah tulisan (strikethrough), juga kemungkinan salah pemberian warna huruf yang harusnya putih namun malah abu-abu. Selain itu, ada halaman-halaman tertentu yang kata-kata pada sisi bagian dalamnya tidak terbaca. Bagiku, hal itu sedikit mengganggu keasyikan membaca. Beberapa kali aku bahkan harus mendekatkan bukunya karena ukuran hurufnya terlalu kecil dan warna huruf yang abu-abu berlatar hitam masih kurang kontras. Aku jadi bertanya-tanya bagaimana cetakan asli bukunya.

Terlepas dari itu, aku menikmati ceritanya dan mengantisipasi terbitnya “Gemina”, sekuel “Illuminae”, dalam versi bahasa Indonesia. Yang membuatku ingin membaca lanjutannya adalah percakapan Kady dengan seseorang yang penting pada akhir cerita buku ini dan siapa atau apa itu BeiTech. Aku harap bisa menemukan jawabannya pada buku selanjutnya. Dan aku amat berharap penerbit lebih bisa memperhatikan detail-detail kecil yang amat sangat penting pada buku dengan medium bercerita unik seperti ini. Dan buatmu, tetaplah menyisihkan uang untuk “Illuminae”.

Lantas, pertanyaan terakhir: Bagaimana masa depan versimu?


Blog Tour!

Aku beruntung ada dua giveaway yang berlangsung pada awal 2018 ini dan kesemuanya adalah persembahan penerbit. Nah, kali ini, kamu diberi kesempatan untuk mendapatkan satu kopi “Illuminae” karya Amie Kaufman dan Jay Kristoff versi terjemahan dengan gratis. Kamu harus mengunjungi blog-blog di bawah ini demi mendapatkan kata kunci yang harus kamu kumpulkan dan simpan untuk Final Giveaway di Instagram @penerbitspring. Caranya?

1. Wajib mengikuti Instagram dan Twitter Penerbit Spring dan Penerbit Haru.

2. Memiliki alamat pengiriman hadiah di Indonesia.

3. Wajib membagikan postingan giveaway ini di media sosial kamu dengan mencolek Penerbit Spring. Sertakan juga tagar #blogtourIlluminae.

4. Mengikuti seluruh postingan ulasan “Illuminae” yang berlangsung di lima blog. Empat lagi cek berikut.

Sharie

Wiwi Widiani

Dion Yulianto

Ipeh Alena

5. Tulis di komentar postingan ini nama dan akun Instagram kamu untuk mempermudah pendataan.

6. Simpan baik-baik jawaban dari pertanyaan yang akan menjadi satu dari lima kata kunci blog tour final di Instagram Penerbit Spring.

“Apa negara domisili Jay Kristoff?”

Jangan lupa untuk mengumpulkan jawaban dari seluruh blog yang mengadakan blog tour di atas untuk diikut-sertakan dalam Final Giveaway di akun Instagram Penerbit Spring pada tanggal 25 sampai 28 Januari 2018.

13 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *