[R&B] Episode Harry Potter dan Batu Bertuah

Edited by Me

R&B adalah fitur baru yang akan membawa kita membaca ulasan Bibli lebih berbeda. Mengambil tema hubungan Raafi dan Bibli yang penuh lika-liku layaknya sepasang kekasih, kita diajak merasakan itu semua dengan gaya R&B. Dengan sedikit humor garing, kita dibawa merasakan pengalaman membaca ulasan lain dari yang lain.

***


Raafi dan Bibli sedang dalam obrolan minum kopi seperti biasa. Sepertinya Bibli mengatakan bla bla bla memecahkan telor bla bla bla. Ada apa gerangan? Apakah Raafi lagi-lagi memecahkan telur yang ada di lemari es mereka? Bibli pasti akan mengomel karena harga telur sekarang mencapai Rp 20.000 per kilogramnya. Siap-siap saja akan ada piring terbang di dapur. Untuk tahu lebih lanjut, mari kita intip bersama.

Sampul

Judul : Harry Potter dan Batu Bertuah (Harry Potter, #1)
Judul Asli : Harry Potter and The Sorcerer’s Stone

Pengarang : J.K. Rowling
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2007
Dibaca : 2 Mei 2015
Rating : ★★★★★

Bibli: Selamat ya kamu sudah memecahkan telor membaca Harry Potter! Kamu lagi apa?

Raafi: Diamlah, Bibli! Aku sedang merenung; bertanya-tanya apa yang kulakukan sewaktu SD dulu. Aku tidak terlalu suka membacaaku menjadi nerd ketika SMA. Aku juga tidak suka menonton film karena medianya terbatas. Aku pun hanya menulis buku harian. Mungkin aku hanya suka belajar dan berlatih vokal sehingga luput dengan apa yang disebut Harry Potter. Aku berharap aku membaca ini sewaktu SD. Itu saja.

Bibli: Oh. Paling tidak kamu sudah membaca ini pada umur 21. Bayangkan bila kamu membacanya pada umur 30 atau bahkan 60. Tapi kenapa kamu membaca ini?

Raafi: Bibli, tak adakah pertanyaan yang lebih berbobot? Tentu saja aku akan baca buku ini. Aku punya misi untuk membaca paling tidak satu buku Harry Potter selama masih hidup. Tadinya aku berniat membeli semua serinya karena aku yakin bakal suka, entahlah. Firasat berkata begitu. Tapi karena budget yang masih mengawang-awang, aku meminjamnya lebih dulu. Toh nanti aku bisa membelinya bila budget sudah mencukupi.

Selain itu, banyak teman bertanya aku berada di asrama mana. Awalnya kupikir aku salah dengar, tapi mereka benar-benar mengatakan hal itu. Menurut mereka, asrama di Hogwarts adalah identitas penting bagi penggemar novel fantasi. Mereka menyuruhku cepat-cepat membaca Harry Potter.

Bibli: Meh. Teman-temanmu itu terlalu mengada-ada. Hal semacam itu sebenarnya tidak terlalu penting. Yang penting itu membahagiakan pasangan yang kamu pinang.

Raafi, dengan menonjok Bibli terlebih dulu: Kamu mau bawa-bawa masalah personal kita ke ranah umum, hah!? Aku sangat kecewa padamu. Aku tidak mengira bahwa kamu akan setega ini padaku.

Bibli, masih mengelus pipinya yang lebam: Aku minta maaf kalau begitu. Ini, minumlah. Lebih baik? Kita lanjutkan. Bagaimana cerita Harry Potter pada buku pertama ini?

Raafi, sambil minum Teh Bundar yang disodorkan Bibli: Pada buku ini, Harry Potter masih 11 tahun. Dia baru masuk tingkat pertama di Hogwarts. Tetapi rintangan menghalanginya mengetahui bahwa dia akan masuk sekolah sihir itu, bahkan dia sendiri tidak tahu latar belakang keluarganya dan bahwa dia sendiri seorang penyihir. Kita harus berterima kasih kepada keluarga Dursley yang amat sangat minta ditoyor.

Hogwarts

Singkat cerita, setelah beberapa bulan di Hogwarts, Harry dan dua kawannya yang sangat ikut campur urusan orang lain mengetahui kejanggalan pada kastil itu. Ada sesuatu yang disembunyikan di sana. Sesuatu yang sangat penting bagi makhluk paling tamak di dunia untuk didapatkan. Yah, keseruan pun dimulai ketika…


Bibli, menutup mulut Raafi erat-erat: Cukup. Cukup. Cukup sampai di sini. Aku yakin mereka sudah baca. Tapi hormatilah yang belum baca. Oke? Begini, adakah sedikit saja penyesalan seusai membaca buku ini?

Raafi, tiba-tiba menangis tersedu: Bibli, ke mari. Aku pinjam bahumu. Cepat! Sudah aku bilang di atas aku menyesal karena tidak membaca ini waktu aku lebih muda. Selain itu aku menyesal karena buku ini begitu cepat kubaca hingga aku tidak sadar sudah berada pada halaman terakhir.

Aku sungguh terkesima dengan world-building Hogwarts. Begitu nyata. Aku serasa ingin berada di sana. Menuntut ilmu apa saja asal aku berada di sana. Atau bila umurku sudah terlalu dewasa seperti sekarang, menemani Hagrid di gubuknya pun tidak masalah. Asalkan aku berada di sana, menjelajah Hutan Terlarang, bertemu centaurus dan yang lainnya, melihat anak-anak memainkan sapu terbang, dan yang paling penting: melihat pertandingan Quidditch, kalau bisa sekalian ikut main. Kuakui Quidditch memang lebih seru ketimbang sepakbola.

Bibli, bahunya masih tersandar kepala Raafi: Nah kan, kamu berfantasi. Penulis ini memang hebat. Aku menebak jika kamu membaca ini sewaktu SD, kamu pasti merengek meminta Ummi dan Abi mengantarmu ke stasiun mana saja dan mencari peron sembilan tiga perempat agar kamu bisa menuju ke Hogwarts. Entahlah.

Raafi, tersipu malu: Ah, kamu bisa saja. Bacok nih. Aku juga kagum dengan pembangunan karakternya. Harry si pemimpin, bisa juga disebut pendiam dan sabar. Hermione yang cerewet dan rajin, dia juga cerdas. Dan aku tidak pernah menyukai karakter apa pun pada buku mana pun selain Ron. Ron sangat menyokong Harry. Ron menyemangati Harry bila sedang ragu. Ron membuat Harry tersenyum bila sedang sedih. Ron menemani Harry di Hogwarts ketika Natal. Intinya Ron melakukan apa saja untuk Harry. Bukan berarti Ron jongos. Entahlah pada buku-buku selanjutnya, aku suka Ron pada buku ini melebihi apa pun. Aku harap punya teman seperti Ron. Aku harap…

Bibli, tiba-tiba meledak: Oh, jadi kamu sudah menemukan yang lain selain aku? Kamu tahu tidak, seberapa besar usaha yang kulakukan sehingga kita bisa seperti sekarang? Tentu saja kamu terlalu sibuk untuk hal-hal semacam ini. Kamu terlalu banyak berfantasi. Bagaimana mungkin kamu mengharapkan sesuatu yang fiksional itu nyata?

Raafi, masih melongo: Kamu pikir kamu nyata? Aku terus-terusan tersiksa karena kita sudah sedekat ini tetapi aku tidak bisa melihat wajahmu, merasakan kehangatanmu, menikmati senyummu. Kamu hanya mengomel agar aku terus menulis untukmu, di rumahmu. Kamu juga terus mengomel tentang celana da…

***

Pemirsa, lebih baik kita sudahi obrolan Raafi dan Bibli. Sepertinya cangkir kopi mereka sudah kosong. Tidak ada piring terbang ternyata; cangkir terbang! Mohon maaf atas ketidaknyamanan yang diberikan mereka berdua. Entahlah. Mari berdoa agar Raafi dan Bibli akan seperti persahabatan Harry dan Ron.

Ulasan ini untuk tantangan Lucky No.15 Reading Challenge kategori Dream Destination.

10 Comments

  • Avatar
  • Avatar
  • Avatar
  • Avatar
  • Avatar
  • Avatar
  • Avatar
  • Avatar
  • Avatar
  • Avatar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *