Sistem Perkuliahan dalam Departure

Edited by Me
Saking lamanya menunda-nunda untuk menulis ulasan ini, yang tersisa dalam memoriku akan buku ini adalah latar kehidupan kampusnya. Sejak bab pertama, tokoh-tokoh yang ditampilkan adalah mahasiswa dan mahasiswi kampus di dataran Tiongkok sana. Kalau tidak di area kampus; ruang kelas, perpustakaan, lapangan olahraga, cerita berjalan di sekitar asrama mahasiswa dan mahasiswi. Hal itu sedikit banyak membuatku berpikir tentang bagaimana kuliahku dulu. Berbeda dari Gifty, Lei Han, dan teman-temannya yang hidupnya terkungkung di dalam kampus dengan segudang kegiatan, aku paling lama di kampus adalah setengah hari alias enam jam. Kampusku tidak menyediakan banyak pilihan unit kegiatan atau organisasi. Bilapun ada, tidak kuminati. Aku termasuk mereka yang ke kampus hanya untuk kuliah dan tatap muka dengan dosen. Yah, mungkin akan lebih lama bila ada tugas kelompok dan mengharuskanku mengerjakannya di area kampus—yang mana itu jarang. Maka dari itu, aku memiliki banyak waktu luang. Ralat: amat banyak waktu luang.

Aku kagum sekaligus merasa kasihan kepada mahasiswa seperti Gifty dan Lei Han yang sehari-harinya berkutat di kampus, dari pagi sampai sore atau malam. Sistem perkuliahan dalam buku ini menganut sistem poin. Maksudnya, setiap mahasiswa harus mengumpulkan jumlah poin tertentu sebagai salah satu syarat kelulusan. Tiap-tiap dari mereka memiliki buku poin yang harus diisi dengan cap. Poin tersebut didapat dari beragam kegiatan yang dilakukan di dalam kampus, di luar kegiatan akademik mereka. Semakin aktif kamu mengikuti kegiatan, semakin cepat kamu mendapatkan poin, semakin lancar pula kamu untuk lulus. Kekagumanku timbul ketika mereka dapat benar-benar menggenapi seluruh poin mereka. Itu berarti banyak kegiatan yang mereka ikuti dan, secara tidak langsung, mereka memiliki lebih banyak koneksi dengan mahasiswa dan mahasiswi dari jurusan lain. Bandingkan denganku, mantan mahasiswa yang ‘teng come teng go’ ini.

Di sisi lain, aku bertanya-tanya apakah mereka memiliki waktu dan kegiatan di luar kampus. Walaupun mungkin kegiatan yang mereka ikuti beragam, pernahkan mereka merasa bosan dengan kampus dan tetek-bengeknya? Walaupun mungkin mereka memiliki waktu luang pada akhir pekan, tidakkah mereka berpikir untuk mengalirkan sebagian besar waktunya untuk minat dan bakat mereka? Lalu, pernahkah mereka merasa cemas dengan tuntutan poin yang mengejar-ngejar mereka?

Seusai menyelesaikan buku ini, aku coba menghubungi teman bloger yang sedang berkuliah di kawasan Asia Timur sana, Cynthia, untuk membahas akan sistem poin. Walaupun tinggal di Taiwan, Cynthia tidak berkuliah di kampus yang mengaplikasikan sistem poin. Namun, dia bercerita tentang temannya asli Taiwan yang saat SMA menggunakan sistem poin. Ternyata sebagian besar SMA di sana juga begitu. Jiao Guan adalah sebutan untuk guru konseling di sana dan mereka biasanya galak-galak. Jiao Guan akan selalu berkeliling bila ada siswa yang kedapatan melanggar, mereka akan menegur dan poin siswa akan dikurangi. Ceramah setiap pagi di lapangan dengan barisan yang rapi adalah hal lumrah di sana. Upacara bendera setiap Senin saja sudah enggan, membayangkan hal itu dilakukan setiap hari aktif sekolah malah bikin muak. Mereka pun menganggap sistem poin adalah konyol. Tapi, mau bagaimana lagi? Memang peraturannya seperti itu.

“Memangnya siapa yang berteman tanpa motif? Semua orang melakukannya, kan? Berteman dengan si A karena hobi yang sama, berteman dengan si B karena dia lebih pintar, dengan si C karena humoris, dengan si D karena rumahnya dekat, dengan si E karena satu jurusan, dan banyak motif lainnya.” —Gifty (hlm. 75)


Cynthia berpendapat bila sistem poin dilakukan di perkuliahan adalah bodoh. “Jelas bego banget pakai sistem itu. Menurut saya, seorang mahasiswa harusnya punya tanggung jawab masing-masing untuk mengatur dan mendisiplinkan dirinya. Tidak perlu diatur orang lain. Kalau buat SMA juga menurut saya agak tidak penting karena toh SMA adalah jenjang menuju kuliah. Jadi, harusnya punya kesadaran sendiri. Kalau SD atau SMP, itu memang perlu karena mereka masih butuh arahan secara langsung. Kalau SMA harusnya bisa diberi tahu baik-baik tanpa harus pakai sistem poin,” jelas Cynthia.

Aku sempat mencari beberapa informasi seputar sistem poin di perkuliahan. Aku membutuhkan asal-mulanya, alasan kenapa hal itu harus dilakukan, juga dampak bagi mahasiswanya. Hasilnya nihil. Aku juga sempat coba bergabung dengan grup Facebook mahasiswa Indonesia di Tiongkok, namun permintaanku tidak mendapat respons. Sampai akhirnya, aku bertanya langsung pada penulis, orang Indonesia yang sedang menuntut ilmu di Tiongkok. Ternyata latar kampus dengan sistem poin dalam bukunya diadopsi dari sistem di kampusnya sendiri. Resti mengatakan bahwa Tiongkok itu luas dan amat mungkin memiliki kampus yang beragam. Dengan menggunakan sistem di kampusnya sendiri, Resti lebih menyingkat waktu dalam melakukan riset. “Soalnya kalau udah beda kota, hal lainnya juga ikut berbeda. Dari makanan, budaya, bahkan sampai logat pun udah berbeda,” jelas Resti.

Judul : Departure
Pengarang : Resti Dahlan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2018
Dibaca : 24 Februari 2018
Rating : ★★★

Meilania Gifty yang berkuliah di Foshan harus berhadapan dengan Kai Wei, mahasiswa rajin sekaligus populer yang selalu membahas tentang poin dan bagaimana cara mendapatkannya. Awal pertemuan mereka juga berhubungan dengan poin. Kai Wei menyerahkan buku poin milik Gifty dan bertanya-tanya bagaimana mungkin Gifty yang sudah tahun kedua tapi baru memiliki delapan poin. Kai Wei mengatakan bahwa Gifty seharusnya sudah memiliki puluhan poin. Gifty tidak terlalu peduli. Kedatangan Gifty ke Foshan bukan untuk mencari poin. Ada motif lain yang membuatnya harus berada di sana. Bersama motif itu, Gifty juga tekun belajar bahasa Mandarin. Motif lain yang ada hubungannya dengan Lei Han.

Lei Han menunggu di dalam mobilnya. Di malam yang hampir menuju tengahnya ini, ia harus memastikan bahwa Gifty kembali ke asramanya dengan aman. Hampir setiap hari Lei Han menguntit Gifty. Bukan hanya karena ia bertanggung jawab atas gadis itu, tetapi juga karena ia memiliki perasaan padanya. Sayangnya, Lei Han tidak punya nyali untuk melakukannya sendiri. Ia memiliki tangan kanan yang juga mahasiswa kampus itu. Hingga pada suatu saat, Gifty yang amat benci pada Lei Han mengungkap hal yang seharusnya tidak diungkap kepada khalayak. Beberapa hari berikutnya, Lei Han meminta Gifty untuk menjadi asisten pribadinya. Yang membuat Gifty bingung. Apa Lei Han bermain-main dengan Gifty? Apa rahasia yang ditutupi Lei Han? Yang terpenting, kenapa Lei Han begitu peduli pada Gifty padahal Gifty begitu membencinya?

***


Selain latar kampus di Tiongkok, hal menarik dari buku ini adalah pemunculan mata rantai informasi yang diberikan secara acak. Bukannya merasa bingung, aku malah diminta untuk menyusun mata rantai tersebut dengan mengikuti ceritanya sampai akhir. Pertanyaan tentang kenapa Gifty begitu benci Lei Han dijabarkan secara sedikit demi sedikit sambil memunculkan interaksi remaja antara Gifty dengan tokoh lain. Semakin ke belakang, mata-mata rantai itu semakin bisa tergabung dengan baik. Ketika menutup buku ini, aku sempat dongkol bagaimana bisa semuanya belum terjawab secara jelas dan tuntas. Beberapa mata rantai masih belum menemui letak yang pas dan malah akhir kisah dalam buku ini pun membentuk pertanyaan—mata rantai baru lagi. Ternyata, buku ini memiliki sekuel. Bagaimana bisa tidak memberikan tanda apa pun pada halaman akhir bahwa buku ini bersambung?

Akhir kata, karya pertama Resti Dahlan yang kubaca ini menyenangkan. Sebagai novel remaja, buku ini menjadi angin segar. Remaja perempuan Indonesia meninggalkan negerinya ke negara asing yang belum pernah didatanginya. Secara implisit, buku ini memberikan gambaran bahwa perempuan dapat meraih impiannya terlepas dari latar belakang motif. Selain itu, unsur diversitas dalam sistem perkuliahan juga ditayangkan di sini. Buku ini membuka jendela bahwa di sudut lain bumi, masih ada kampus yang mengedepankan sistem poin dalam perkuliahannya. Dan ajaibnya, sistem itu diakui, dianut, dan dipatuhi dalam sebuah komunitas—dalam hal ini adalah para mahasiswa.

Satu pertanyaan pemungkas: Berapa lama waktu yang kubutuhkan untuk membaca sekuelnya?

“Meraih pengakuan manusia atau memuaskan mereka itu tidak akan ada habisnya. Terlalu melelahkan. Sebagus apa pun performaku, tetap saja tidak semua orang akan merasa puas apalagi ikut senang. Bahkan mereka bisa jadi memujiku saat aku berlatih, tapi apa aku bisa tetap membuat mereka mengagumiku saat aku kalah atau gagal dalam bidang lain?” —Lei Han (hlm. 157)

7 Comments

  • Avatar
  • Avatar
  • Avatar
  • Avatar
  • Avatar
  • Avatar
  • Avatar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *