Ulasan Buku: A Thing Called Us

Judul : A Thing Called Us
Pengarang : Andry Setiawan
Penerbit: Haru

Tahun : 2017
Dibaca : 6 Desember 2017
Rating : ★★★

Muhammad sedang bermain dengan seorang anak sembari menggendongnya. Tiba-tiba anak tersebut buang air kecil dalam gendongan Beliau dan mengenai pakaiannya. Sang ibu menarik lalu memarahi anak itu. Melihat sang ibu kasar kepada anaknya, Beliau berkata, “Mengapa engkau memarahi dan merenggutnya dengan kasar? Sesungguhnya, baju yang kotor ini bisa dicuci dan dihilangkan kotorannya. Namun siapa yang bisa menghilangkan kekeruhan jiwa seorang anak atas bentakan dan renggutan yang kasar yang telah dilakukan kepadanya?” Sabda yang diriwayatkan Muslim tersebut menjadi pengingat betapa membentak anak adalah hal fatal. Ilmu pengetahuan pun menggenapinya bahwa suara keras dan bentakan yang ditujukan kepada anak-anak dapat menggugurkan sel otak yang sedang tumbuh. Ingatan seputar bentakan dari orang tua akan terngiang terus sampai sang anak dewasa.

***


Tiga orang sahabat itu sudah tak lagi bersatu sejak Shinji pergi tanpa kabar. Sesekali Shinji mengirimi Kotoha dan Shun kabar namun itu tidak bertahan lama. Kotoha masih meminta Shun terus mencari Shinji. Kotoha pikir perginya Shinji adalah kesalahannya. Seharusnya ia tidak menyatakan cintanya kepada pria yang selalu ia anggap kakak itu. Tentu saja Shinji tidak enak dengan status mereka sebagai pacar. Apa Kotoha tidak memikirkan perasaan Shun yang sebenarnya menyukainya juga? Kotoha begitu egois dengan perasaannya. Namun, benarkah karena itu Shinji pergi?

Shun tahu sudah waktunya untuk melanjutkan hidup. Itu berarti ia harus sudahi usahanya mencari-cari Shinji. Sahabat keparat yang tidak pernah mengabarinya sejak lima tahun lalu. Ke mana dia pergi? Kenapa Shinji meninggalkan Shun dan terutama Kotoha? Sekarang Shun-lah yang harus bergelut dengan perasaannya sendiri. Saat ia ingin Kotoha melupakan Shinji, Kotoha malah memintanya untuk terus mencari pria itu. Tahukah Kotoha apa yang dirasakannya? Mana yang lebih baik, terus-menerus menuruti keinginan Kotoha atau menyudahinya? Bagaimana dengan perasaannya yang dipendam selama ini?

***


Perihal perasaan yang menimpa Shun dan Kotoha, sebenarnya itu bisa segera diakhiri saat Shun mengungkapkan perasaannya kepada Kotoha lalu meminta Kotoha untuk berlapang dada—menerima kepergian Shinji. Masalahnya, Shun suka menyiksa dirinya sendiri. Ia menganggap dengan begitu, ia pantas mendapatkannya. Ia bisa menebus masa lalunya. Sampai pekerjaannya sebagai desainer interior membuat Shun bertemu dengan Aki. Wanita ceria dan suka berterus terang itu terus-menerus menghubungi Shun. Dari yang awalnya menanyakan progres pekerjaan, berakhir dengan masalah pribadi. Anehnya, Shun bisa menanggapinya. Shun malah menceritakan apa yang terjadi padanya, tentang kepergian Shinji dan perasaannya pada Kotoha. Kehadiran Aki membuat Shun lebih mudah melalui hari-harinya. Lebih-lebih, kehadiran Aki membuat Shun melupakan siksaan perasaannya sendiri.

Bagaimana dengan Kotoha? Apakah kehadiran Aki membuat Kotoha berang? Tentu saja. Entah bagaimana Kotoha bisa sebegitu kejinya mengekang perasaan Shun. Kotoha tahu Shun menyukainya. Shun bahkan sudah menyatakan perasaannya, pada akhirnya. Namun, Kotoha tidak menjawab perasaan Shun. Kotoha tahu ia telah membuat Shun menderita dengan diamnya. Kotoha tahu ia begitu egois. Kotoha tidak ingin sendirian mencari Shinji. Kotoha juga tidak mau Shun berpaling darinya. Kotoha tidak mau ia menderita sendiri. Sampai seseorang masuk ke kehidupannya, menyentaknya dengan kata-kata pedas. Membuatnya tersadar bahwa ia butuh bahagia, yaitu dengan melepaskan.

Ini karya pertama pengerang yang kubaca. Awalnya, aku merasa enggan menerima tawaran mengulas buku ini karena genrenya. Tapi, rasa penasaranku menang, terutama saat membaca blurb-nya tentang persahabatan. Aku ingin tahu bagaimana sahabat sedari kecil menjalani kehidupannya saat dewasa. Aku ingin tahu bisakah mereka selalu bersama tanpa salah satunya memiliki perasaan. Aku ingin tahu bagaimana cara melepaskan dan melupakan. Walaupun sedikit kesulitan mengikuti gaya penceritaan yang sedikit kurang luwes, akhirnya aku bisa menyelesaikannya. Dan, untungnya, aku mendapatkan jawaban dari keingintahuanku tersebut.

Edited by Me


Bagaimana rasanya melepaskan? Sulit. Apalagi bagi mereka yang selalu bersama. Tak terpisahkan. Hal ini membuatku teringat pada kepergian ayahku yang tiba-tiba. Tak ada pertanda apa pun sehingga aku begitu kaget saat mengetahui Abi meninggal dunia. Aku masih selalu berpikir Abi akan kembali suatu saat nanti. Bahkan setelah bertahun-tahun. Tentu itu perasaan yang bodoh. Mungkin hal itu jugalah yang menimpa Kotoha. Kalang kabut, Kotoha yang masih terus menggenggam Shinji di benaknya tidak menyadari bahwa ada Shun yang menderita karena sikapnya.

Terlepas isu utama tentang persahabatan dan bagaimana cara melepaskan, buku ini juga memberikan gambaran lain tentang bagaimana masa lalu terus merongrongmu sampai dewasa. Tentang Shun dan bagaimana ia terus dibayang-bayangi masa lalunya. Ketika ayahnya terus-menerus menyentaknya dan menyalahkannya. Itulah yang membuatku mengambil pelajaran dari kisah Nabi Muhammad saw. di atas. Dan itu juga membuatku teringat adikku sendiri.

Hal positif lainnya, buku ini mendeskripsikan latar Jepang dengan baik. Tokyo dengan keriuhan dan kereta bawah tanahnya yang terkenal. Sugadaira dengan dinginnya daerah pegunungan yang merupakan lokasi favorit olahraga ski. Juga penyebutan istilah-istilah kultural Jepang membuat pembaca merasuk ke dalam cerita. Tak heran karena penulis pernah tinggal di Jepang untuk menyelesaikan studinya.

Buku ini menceritakan bagaimana cara melepaskan lewat Kotoha. Buku ini menjabarkan dampak masa kecil yang buruk lewat Shun. Buku ini juga mengisahkan apa arti persahabatan yang sesungguhnya tanpa pretensi lewat Shinji. Lantas, ke manakah Shinji pergi? Akankah Kotoha dan Shun akan bertemu dengannya kembali? Bagaimana dengan Aki dan Hayato? Pemungkas, berikut analogi menarik tentang komunikasi dari buku ini.

“Alangkah enaknya kalau berkomunikasi dengan orang sama seperti lempar tangkap bola. Kita bisa tahu ke mana bolanya pergi. Dan, kita bisa ke sana untuk menangkapnya.” (hlm. 223-224)

Ulasan ini diikutsertakan dalam “Read and Review Challenge 2017” kategori Asian Literature.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *