Ulasan Buku: Love & Misadventure

Sampul

Judul : Cinta & Kesialan-Kesialan
Judul Asli : Love & Misadventure

Pengarang : Lang Leav
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2016
Dibaca : 12 April 2016 (via SCOOP)
Rating : ★★★★

Aku tahu kau bukan milikku,
dan mungkin tak pernah akan,
saat kau bersamanya ada kemarahan
yang tak berhak didetakkan jantungku. 


Kau tahu rasa ketika sepucuk surat dari seseorang yang sudah lama kautunggu-tunggu akhirnya tiba di depan rumahmu? Kau tahu rasa ketika barang impianmu hadir secara cuma-cuma di hadapanmu? Itulah yang disebut dengan bahagia. Tapi tahukah kau rasa ketika kau masih bisa bernapas dengan oksigen yang masih tersedia gratis? Itu disebut dengan kebahagiaan yang sederhana. Dan buku ini termasuk opsi yang kedua.

***

Awalnya, aku sedikit skeptis setelah melihat beberapa ulasan di dunia maya tentang kumpulan puisi ini. Layaknya puisi kontemporer lainnya, penulis hanya mengedepankan kata-kata indah saja. Sampai pada saatnya aku berjodoh untuk membaca ini dan merasakannya sendiri. Nantinya aku akan bilang kepada mereka, “Yo, man! Baca puisi itu bukan tentang membaca begitu saja. Ada pendalaman rasa yang harus kauikutkan pada saat itu.”

Ketika membuka halaman pertama, aku tidak memikirkan apa pun; hanya tetap membaca. Bahkan jam makan siang pun aku habiskan dengan membaca. Dan aku seperti tersihir. Bagaimana tidak? Aku tidak suka membaca puisi; kumpulan puisi. Apalagi yang bertema romance. Tapi kali ini, aku serasa dipaksa untuk terus membaca dan membuka halaman demi halaman. Ada yang salah dengan buku ini.

***


Buku dibagi menjadi tiga bagian berdasarkan tema. Dan setiap bagian memiliki sekitar lima belas sampai dua puluh puisi. Oh, ada juga beberapa prosa. Penempatan bagian yang brilian, kubilang. Kau akan merasakan awal yang begitu menyakitkan lalu kau diombang-ambingkan di tengah seperti kau sedang berada di atas kapal di tengah badai lautan. Lalu diakhiri dengan bait-bait manis nan membahagiakan. Rasa sakit hati sekaligus berbunga-bunga yang pernah kaurasakan seperti dikorek-korek. Terkesan berlebihan. Tidak, aku hanya mengungkapkan pengalaman membacaku.

Bait yang tertulis pada bagian awal ulasan ini adalah satu dari tiga bait dari puisi berjudul “Hanya Teman”. Puisi yang diterjemahkan dari judul “Just Friends” ini adalah yang paling favorit dari beberapa puisi favorit lain. Urutan kedua ditempati oleh “Barang-Barang yang Tercecer” yang merupakan prosa terjemahan “Lost Things”.

Tidak mudah menerjemahkan puisi asing. Aku ingat ketika mendengar kabar bahwa buku ini diterbitkan dalam versi terjemahan. Aku sempat ragu. Untunglah buku ini diberikan kepada orang yang tepat. Sebagai pengalih bahasa, Aan Mansyur piawai memainkan kata-kata. Ada satu puisi berjudul “Heart on the Line” yang di buku ini judulnya diubah menjadi “Ketika Cinta Menyerang Jantungmu”. Ada lagi, pada puisi berjudul “Xs and Os” ada bait yang berisi kata “tic-tac-toe” dan Aan menerjemahkannya menjadi “Catur Jawa”. Sialan, aku harus mengakuinya! Salut dan sedikit takjub. Rasa yang disampaikan tetap sama.

Secara keseluruhan, sesuai judulnya, buku ini berisi ratusan bait tentang cinta dan kesialan-kesialan yang datang darinya. Bila kau memiliki paling tidak satu kisah cinta yang sudah atau sedang kauarungi, pasti ada satu puisi di buku ini yang merepresentasikannya. Lang Leav memang memberikan kata-kata indah, tapi bila kaupakai “rasa”, kata-kata indah itu akan memiliki arti mendalam bagimu. Sisi femininku muncul; entahlah.

“Setiap orang memiliki setidaknya satu daftar barang hilang yang menunggu ditemukan. Rindu untuk diakui, dianggap pernah hadir dalam hidupmu.” (hal. 69

Bibli’s Note:

Raafi menikmati buku ini karena bait-bait di dalamnya merujuk pada kisah masa lalunya. Dan sebagian dari ulasan yang tertulis di atas mengandung curahan hati seorang Raafi.

7 Comments

  • Avatar
  • Avatar
  • Avatar
  • Avatar
  • Avatar
  • Avatar
  • Avatar

Leave a Reply

Your email address will not be published.