Ulasan Buku: Non-Spesifik

Judul : Non-Spesifik
Pengarang : Gratiagusti Chananya Rompas
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tahun : 2017
Dibaca : 25 Mei 2017
Rating : ★★★★

Apa yang akan kamu lakukan ketika hidupmu sepertinya begitu monoton? Rutinitas yang mengungkung setiap hari membuatmu tak lagi memiliki warna. Apa yang kamu idam-idamkan dahulu dilepaskan satu persatu sehingga yang tersisa hanya hitam dan putih. Tak ada lagi warna-warni. Kamu harus segera menguak cara untuk terlepas dari jerat kejenuhanmu itu. Kamu harus cari terobosan baru agar hidupmu tidak hitam-hitam amat atau putih-putih amat. Janganlah muluk berharap warna pelangi yang dahulu kamu miliki, tapi setidaknya warna oranye atau pink atau biru muda hadir. Dan kamu mulai merasakan warna-warna itu kembali merasuki tubuhmu. Kamu akan merasa bahagia sedikit demi sedikit. Walaupun tidak sama lagi, tapi setidaknya kamu merasa bahagia. Ada saran lebih baik: pergilah ke suatu tempat yang belum pernah kamu kunjungi. Mungkin warna-warni yang lenyap itu akan kamu temukan kembali di sana.

***


Bisa dikatakan, “Kota Ini Kembang Api” adalah kumpulan puisi yang membuatku beruntung. Aku mendapati bahwa sang penyair, Gratiagusti Chananya Rompas atau biasa dipanggil Anya, merasa senang dengan ulasan yang kubuat. Seperti yang dikatakan Anya pada kolom komentar ulasan bukunya, “Saya sangat terharu kamu menangkap banyak hal yang ingin saya (bahkan ilustrator saya) sampaikan lewat ‘Kota Ini Kembang Api’.” Apa yang dikatakannya secara tersurat itu membuatku beruntung sebagai seorang pengulas buku karena (1) hal yang paling membahagiakan bagi seorang pengulas buku adalah ulasannya diketahui oleh pengarang buku dan (2) ulasan yang dibuatnya menguak apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh pengarang buku. Hal bahagia lain setelah menulis ulasan “Kota Ini Kembang Api” adalah menjadi #ResensiPilihan untuk yang kedua kalinya pada tahun lalu.

Di atas, aku coba menginterpretasikan satu puisi yang menjadi favorit dalam “Non-Spesifik”. Judulnya? Tidak ada. Tapi bait pertamanya berbunyi “aku ingin pergi ke tempat yang belum pernah aku” dan bertengger pada halaman 76. Sangat khas Anya. Banyak puisi dibuatnya tak berjudul, seperti sebuah ketakperluan. Dalam puisi tersebut, aku merasakan bahwa rutinitas yang monoton amat begitu mengungkung orang-orang dewasa. Mereka jadi tidak bahagia atau, lebih buruknya lagi, berbohong untuk merasa bahagia. Mereka membutuhkan jalan-jalan, piknik, vakansi, apa pun itu sebutannya. Tapi, Anya sepertinya memberikan saran yang baik: ke tempat yang belum pernah dikunjungi. Bukan tempat-tempat yang setiap bulan atau beberapa bulan dikunjungi atau bahkan sudah dikunjungi. Bukahkah “setiap bulan atau beberapa bulan dikunjungi” juga merupakan rutinitas? Aku setuju dengan Anya tentang eksplorasi. Yuk, piknik!

Kembali aku merasakan aura Anya dalam buku keduanya ini. Amat bisa dicirikan bahwa melalui setiap bait puisi yang Anya tulis, ia memainkan huruf, baris, spasi, hingga tanda baca. Bait-bait yang setiap katanya menyambung tanpa spasi, Anya. Bait-bait yang setiap katanya diselipi tanda titik, Anya. Bait-bait yang menggunakan keseluruhan halaman hanya untuk beberapa baris saja, Anya. Walaupun porsinya lebih sedikit pada buku ini, aku masih bisa mendapatkan sensasi berbeda saat membaca bait-bait puisi Anya. Keunikan ini sepertinya sudah kutulis pada ulasan “Kota Ini Kembang Api”. Tapi, aku ingin menghadirkannya kembali. Seperti menyingkapnya hanya satu kali itu belum cukup.

***


Aku bertemu dengan Anya pada peluncuran “Kota Ini Kembang Api” tahun lalu. Saat itu, aku sempat mengobrol sebentar dengannya dan sang suami, Mikael Johani. Setelahnya, aku meminta nomor telepon dan alamat surel Anya untuk keperluan wawancara yang sudah kutulis di sini. Juga bersua di media sosial seperti Facebook dan Instagram. Walaupun terkesan absurd, media sosial memang ajang saling memberikan kabar. Melalui media sosial Anya, aku mendapatkan informasi tentang buku terbarunya.

“Non-Spesifik” dibagi ke dalam tiga bagian yang kemudian dinamai Episode. Setiap episodenya memang memiliki topik-topik tersendiri, namun bila digabungkan, ketiganya tidak memiliki keterkaitan satu sama lain. Pada Episode Pertama, Anya menggambarkan tentang diri sendiri; sebentuk persona yang bisa jadi siapa saja yang bisa merasakan apa saja. Apa saja di sini berarti tercurah tak tentu. Tak spesifik. Pada Episode Kedua, Anya mencurahkan isi hatinya. Bagai buku harian dengan diksi yang khas, Anya bercerita tentang kesehariannya menjadi seorang ibu, istri, sekaligus wanita. Puisi-puisinya tak membentu satu pola yang mengerucut. Tak spesifik. Pada Episode Ketiga, lebih tak keruan lagi. Pengamatan tentang orang-orang ditumpahkan pada episode ini. Orang yang sedang liburan, orang yang sedang di restoran cepat saji, orang yang keluar tempat parkir. Keseharian apa saja yang sepertinya biasa saja ditumpahkan secara puitis di bagian ini. Tak spesifik.

halaman 137


Entah ide menggaet ilustrator dalam buku-bukunya itu dari Anya sendiri atau dari yang lain, tapi kolaborasi puisi-puisi Anya dengan ilustrasi-ilustrasi yang disajikan selalu pas dan seiring sejalan. Kalau “Kota Ini Kembang Api” menampilkan ilustrasi berwarna yang halus dan penuh harapan, “Non-Spesifik” seperti berkebalikan. Nuansa hitam begitu kental. Ilustrasinya pun lebih abstrak dan semrawut malah cenderung hanya corat-coret tak jelas yang dibuat oleh balita. Siluet-siluet yang dihadirkan memberikan gambaran bahwa hidup sepertinya tidak selalu berjalan mulus. Melalui puisi-puisinya, Anya juga menyampaikan hal yang sama. Berbohong dalam kebahagiaan. Hidup yang tak sesuai keinginan. Serta masalah-masalah orang-orang dewasa lain yang pelik dan tak terbantahkan. Sayangnya, ilustrasi pada buku ini cenderung sedikit.

Aku mengantisipasi apakah ulasan “Non-Spesifik” ini juga menangkap apa yang Anya maksudkan, seperti yang ia katakan pada ulasan “Kota Ini Kembang Api”. Tapi, setidaknya aku telah membeberkan apa yang kurasakan ketika membaca karya terbarunya Anya ini. Puisi-puisi yang seolah-olah meminjamkan cermin pendewasaan kepada para pembacanya dan mengatakan bahwa menjadi dewasa ternyata memang rumit, pelik, dan tak spesifik. Apa saja bisa terjadi. Puisi-puisi dalam “Non-Spesifik” adalah petuah pahit bagi orang-orang dewasa yang harus diteguk untuk tidak jatuh sakit dan di kemudian hari tidak merasa terlilit.

“MIMPI-MIMPI TERSIMPAN DI DALAM GULUNGAN KAOS KAKI

rapi tersusun berdasarkan warna
di laci urutan pertama

kini saatnya menyapu remah-remah roti
dari bawah meja”

Ulasan ini diikutsertakan dalam “Read and Review Challenge 2017” kategori Poetry.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *