Ulasan Buku: When Breath Becomes Air


Judul : When Breath Becomes Air
Pengarang : Paul Kalanithi
Penerbit: Bentang Pustaka
Tahun : 2016
Dibaca : 5 Februari 2018
Rating : ★★★★
Perkenalan pertama dengan buku ini adalah saat bertemu dengan rekan kantor lama sekitar setahun yang lalu. Seperti biasa, pada setiap kesempatan bertemu, karena dia juga memang suka baca buku, aku bertanya buku apa yang sedang dia baca. Buku ini disebutnya. Saat itu aku tak tertarik, karena kupikir, aku tidak akan bertaruh untuk nonfiksi lebih-lebih sebuah memoar. Selain itu, masih banyak buku fiksi lain yang menanti untuk dilahap. Waktu bergulir dan aku masih tidak ingin membacanya sampai aku mengetahui bahwa buku ini ternyata sudah diterjemahkan ke versi bahasa Indonesia. Lalu, aku mulai membaca ulasan-ulasannya di Goodreads. Mengetahui jumlah halaman yang tidak tebal-tebal amat dan ulasan yang menjanjikan, aku kepincut dan segera mencari buku ini. Saat seorang rekan membawa satu kopi buku ini, aku seperti diingatkan untuk segera membacanya. Aku lantas membeli versi digitalnya lalu, merasa tidak puas, membeli versi cetaknya.

***


Paul tak akan pernah berpikir untuk memilih skenario hidup yang ini. Skenario yang membuat karier gilang-gemilangnya seperti tertabrak trailer dan tak terselamatkan. Skenario yang membuat hidupnya berbalik seratus delapan puluh derajat. Semua skenario masa depan yang dibayang-bayangkannya lenyap. Saat ia begitu jatuh cinta dengan kariernya sebagai ahli bedah saraf, saat banyak rumah sakit dan universitas ternama menawarinya jabatan penting, saat ia dan sang istri sedang memikirkan bagaimana cara yang tepat untuk memiliki momongan. Paul mengidap kanker paru-paru stadium empat pada usia 36 tahun. Organ-organ pentingnya lumpuh. Pada saat-saat terakhirnya, Paul menuliskan pesan sederhana kepada putri mungilnya, Cady, yang baru lahir beberapa bulan. Pesan yang selanjutnya tidak hanya untuk putrinya ketika sudah bisa memahaminya kelak, tapi untuk mereka yang memungkasi “When Breath Becomes Air”.

***


“Dengan Kesehatan Sempurna, Aku Memulai” adalah bagian pertama buku ini. Menjabarkan masa-masa Paul sebelum kanker menyerangnya. Bahwa Paul awalnya tak berkeinginan menjadi dokter walaupun hampir semua anggota keluarga yang lain berprofesi sebagai dokter. Saat kuliah, ia memilih kelas sastra juga kelas biologi dan ilmu saraf. Tentu ada alasan sendiri kenapa ia memilih dua bidang yang secara eksplisit terlihat berseberangan itu. “Satan: His Psychotherapy and Cure by the Unfortunate Dr. Kassler, J.S.P.S.” karya Jeremy Leven membuat Paul memikirkan asumsi serampangan bahwa pikiran hanyalah hasil kerja otak—yang tentu saja benar karena untuk itulah otak bekerja. Lebih lanjut, Paul mengatakan, “Kesusastraan memberikan berbagai penuturan mengenai makna menjadi manusia; maka, otak adalah mesin yang entah bagaimana memungkinkan hal itu.” (hlm. 29)

“Aku telah mencapai puncak karierku sebagai dokter residen. Aku telah menguasai operasi-operasi inti. Risetku meraih penghargaan tertinggi. Tawaran pekerjaan membanjir dari seluruh negeri. Stanford membuka lowongan untuk posisi yang sangat pas dengan minatku, yaitu dokter bedah saraf dan ahli saraf yang berfokus pada teknik-teknik modulasi neural. Salah seorang dokter residen junior menghampiriku dan berkata, ‘Aku baru saja mendegar dari bos-bos—kalau mereka menerima lamaranmu, kau akan menjadi pembimbing fakultasku!'” (hlm. 112)


Bagian kedua berjudul “Pantang Mundur Hingga Ajal Menjelang” menceritakan periode setelah Paul menerima diagnosis penyakitnya. Paul dan Lucy, sang istri, menangis kala melihat gambar-gambar pemindaian CT yang memberikan bukti bahwa ada monster ganas yang bersarang di tubuh Paul. Paul berkata pada Lucy bahwa ia tidak mau mati. Paul meminta Lucy untuk menikah lagi karena tak sanggup membayangkan wanita yang dicintainya itu hidup seorang diri. Paul ingin menegosiasikan pinjaman mereka berdua. Paul dan Lucy mulai menelepon anggota-anggota keluarga. Bersama dokter yang menanganinya, Victoria, Paul membahas hasil pemindaian dan kemungkinan pengobatan mendatang. Paul mengonfirmasi, “Victoria, aku tak akan pernah kembali ke rumah sakit ini sebagai dokter. Benar, kan?” (hlm. 117)

Edited by Me


Hidup bagai roda yang berputar. Gambaran kisah Paul Kalanithi yang disampaikannya dalam buku ini sedikit-banyak cocok dengan pepatah populer itu. Seorang dokter yang biasa menangani pasien berubah menjadi pasien yang butuh penanganan dan bantuan dokter. Buku ini menjabarkan betapa gigihnya Paul menjalani berbagai macam pengobatan dan perlakuan medis yang sebenarnya hanya memperpanjang masa hidupnya beberapa waktu. Pada saat-saat itu, ia pun masih memikirkan bagaimana Lucy akan hidup tanpa dirinya. Lebih-lebih ketika si kecil Cady hadir di tengah-tengah mereka. Dari kegigihannya itu, Paul seperti memberi gambaran betapa keadaan dirinya tak mengurangi perannya sebagai seorang suami dan seorang ayah—sebisa yang ia bisa. Paul seperti memberikan energi bahwa betapa pun sekaratnya kamu, kamu harus tetap berusaha untuk mereka yang juga berusaha terhadapmu.

Buku ini aneh. Di awal, Paul menceritakan tentang pencapaian-pencapaian yang didapatnya. Bagi sebagian orang—yang juga tidak menyukai buku ini—beranggapan bahwa Paul sombong dan arogan. Paul juga tak segan menyampaikan ratapannya pada buku ini—yang juga mengganggu bagi sebagian orang yang membacanya. Hidup sudah begitu susah, janganlah dibuat susah dengan mendengar kesusahan orang lain. Namun, bila disorot lebih luas lagi, penekanan yang Paul sampaikan bukan pada hal-hal itu. Paul memberikan pertanyaan mendasar tentang bagaimana menghadapi skenario yang kita belum bisa mengantisipasinya. Melalui kisahnya, Paul berbagi tentang bagaimana menjalani skenario itu—skenario yang tiba-tiba hadir; skenario yang mematikan. Saat menjalani skenario itu, apakah kita harus menyerah? Apakah kemudian hidup jadi tak layak lagi untuk dijalani?

Satu bagian yang membuatku lama berpikir adalah masa transisi Paul dari sehat menjadi sekarat. Aku membayangkan bagaimana tubuh yang tadinya kuat berdiri berjam-jam selama operasi berubah jadi begitu ringkih bahkan untuk mengambil segelas air. Paul bahkan tidak bisa berlama-lama menggendong Lucy kecil yang seiring berjalannya waktu Paul hanya bisa memangku Lucy di atas pahanya yang kurus. Betapa skenario yang dijalani Paul benar-benar bukan yang diinginkannya. Bagaimana denganku? Bagaimana jika aku mengalami apa yang Paul alami? Setidaknya, pemikiran seperti ini sudah timbul sehingga aku sedikit-sedikit harus punya antisipasi atas skenario terburuk dalam hidupku. Walaupun sampai ulasan ini dituliskan, aku masih belum tahu apa bentuk antisipasi itu.

Aku tak pernah mengira bisa menikmati kisah nyata seseorang yang dituliskan oleh orang itu sendiri. Paul membuatku bisa berhubungan dengan kisahnya. Mungkin karena Paul begitu detail menjabarkan ilmu bedah saraf dan kedokteran. Aku memang ada ketertarikan dengan kedokteran dan implikasinya. Satu adegan tragis yang diceritakan Paul adalah ketika rekan dokternya bernama Jeff bunuh diri karena menangani kasus komplikasi yang sulit sehingga membuat pasien meninggal. Jeff kemudian memanjat atap gedung dan terjun dari sana. Selain tentang kedokteran, pertanyaan utama Paul tentang hubungan otak dan pikiran yang terus ia cari jawabannya juga menarik. Sayangnya, ia lebih dulu tiada sebelum benar-benar menemukannya.

Mortalitas. Kata yang begitu sakral untuk dibicarakan banyak orang namun menjadi topik utama yang disampaikan Paul dalam buku ini. Paul mungkin tak akan membuat buku ini jika ia tak akan bertemu dengan mortalitas. Beberapa dari kita mungkin tak akan memikirkan mortalitas kala sehat walafiat. Namun, sebegitu sakralkah mortalitas sehingga yang berhak membicarakannya hanya mereka yang akan bertemu dengannya?

“Semua orang menyerah pada kefanaan. Kurasa bukan aku satu-satunya orang yang mencapai keadaan waktu lampau ini. Sebagian besar ambisi entah yang sudah tercapai atau ditinggalkan; yang mana pun itu, semuanya berada pada masa lalu. Masa depan, alih-alih seperti tangga menuju tujuan hidup, berubah datar menjadi masa kini yang abadi. Uang, status, semua kesia-siaan yang dijelaskan oleh pengkhotbah dalam Kitab Pengkhotbah itu, nyaris tak menarik lagi: benar-benar seperti mengejar angin.” (hlm. 195)

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *